Love In November

Love In November
Menjalin Hubungan



Pagi ini Luna merasa bahagia, karena Frans suaminya sudah pulih dan sehat kembali. Sebelumnya Frans mengalami kelumpuhan di bagian tangan kirinya, tapi kini tangan kiri itu sudah bisa di gerakan lagi.


"Aku senang Lun, sudah bisa menggerakkan tangan kiri ku lagi." Luna tersenyum manis, persis sekali wajahnya dengan Nayla. "Iya Mas, aku senang kamu bisa sehat lagi seperti dulu. Nayla juga pasti senang melihat kamu seperti ini." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, apa kita sebaiknya kabari Nayla saja ya."


"Nanti saja Mas. Kita kasih surprise ke anak kita pas sudah pulang ke rumah." Usul Luna ingin membuat kejutan pada Nayla.


"Iya ide bagus itu Bu. Ya sudah, kita besok pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar ingin memberi tahu Nayla." Frans bahagia sekali, mereka duduk di teras rumah yang menyuguhkan pemandangan indah di depannya. Udara di Kota itu juga sangat segar dan masih asri.


Di sebuah kantor Malika menatap Nayla dengan tatapan tidak sukanya. Nayla sedang makan siang bersama teman-temannya di kantin perusahaan.


"Nay, kapan-kapan kita barbeque yuk di rumahnya Siska." Ajak Fatma yang di sela-sela mengunyah makanannya.


"Tanya Tuan rumahnya saja belum. Sudah mau ngajakin barbeque an saja, huuuu..." Siska memutar bola matanya malas, Fatma cekikikan sendiri.


"Gimana kalau di tempatku saja?" Nayla menawarkan diri. Fatma dan Siska langsung mengangguk bersamaan.


"Mau..Mau.."


"Okay, nanti kita bicarakan lagi waktunya ya." Jawab Nayla.


Malika menghampiri Nayla dan menarik tangan gadis itu. "B-bu Malika, ada apa?" Nayla terperangah dan bingung.


"Ikut aku!"


Malika membawa Nayla ke depan toilet yang tidak jauh dari area kantin. "Bu, tolong lepasin tangan saya" Pinta Nayla merasa tangannya di cekal kuat.


"Ada hubungan apa lo sama Wira, hah?!" Malika geram, memojokkan Nayla ke tembok. "Maksud Bu Malika apa?"


"Sudah jawab saja. Ada hubungan apa lo sama Wira?!" Malika sudah menampilkan raut wajah tidak bersahabat. Nayla menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


"Wanita kampungan kayak lo lebih baik menjauh dari Wira!! Lo tuh nggak pantes buat dia!" Wanita itu mengancam serta merendahkan Nayla.


Ada beberapa karyawan yang keluar dari toilet itu melihat keduanya. Tapi mereka tidak berani ikut campur dan berlalu begitu saja.


"Maaf, tapi Bu Malika nggak ada urusan sama kehidupan saya." Nayla akhirnya memberanikan diri menjawab dengan santai.


"Kurang ajar!! Harusnya lo sadar diri bukan malah sombong! Dasar wanita kampungan!!" Malika murka dia menjambak rambut Nayla dengan kasar.


"Aakkh.." Nayla meringis kesakitan rambutnya di tarik.


Fatma dan Siska yang melihat itu dari kejauhan langsung mendekat. "Bu jangan seperti ini, tolong lepaskan rambut teman saya!" Ucap Siska lebih berani.


"Kasih tahu sama teman lo!! Jangan coba-coba bersanding dengan Wira, karena dia nggak pantas untuknya!!" Malika sudah di ujung tanduk, dia melepaskan tangannya dari rambut Nayla dan pergi.


"Kamu nggak apa-apa kan Nay?" Tanya Fatma sangat khawatir. "Nggak apa-apa kok. Makasih ya kalian sudah mau bantu aku."


"Iya Nay sama-sama. Ya sudah kita duduk di sana lagi yuk."


Ketiga nya kembali duduk di meja makan kantin. "Nay, sebenarnya wanita yang tadi itu kenapa bisa marah banget sama kamu?" Fatma penasaran, dia ingin tahu ceritanya dari Nayla.


"Iya Nay, terus kenapa juga dia tadi bawa-bawa nama Pimpinan. Apa benar Nay?"


Merasa tidak enak menutupi kebenaran, Nayla memutuskan untuk bercerita dengan temannya. "Iya Fat, Siska.. Maaf ya aku belum sempat cerita sama kalian. Aku memang menjalin hubungan dengan Presdir Wira." Jelas Nayla dengan jujur.


Hingga beberapa karyawan yang masih makan siang di sekitar mereka terkejut. "Sssttt,,, jangan berisik. Aku tidak ingin orang lain tahu. Cuma kalian yang boleh tahu." Nayla mencegah agar temannya tidak membuat kehebohan.


"Serius kamu Nay?" Fatma masih tercengang.


"Wah, ini kabar gila sih!" Siska ikut menimpali tidak percaya. "Ceritanya panjang, lain waktu aku akan cerita sama kalian." Nayla menatap ke sekitar dirinya.


"Jadi wanita yang marah-marah sama kamu tadi itu, dia cemburu Nay sama kamu." Ucap Siska mengambil kesimpulan.


"Aku juga nggak tahu. Ya sudah, aku balik ke atas dulu ya." Nayla pamit pada keduanya. "Iya Nay, aku juga mau lanjut kerja lagi nih. Janji ya, kamu hutang cerita sama kita." Siska menyipitkan kedua matanya pada Nayla.


"Iya baiklah"


Nayla kembali ke lantai 34, di mana tempat kerjanya berada. Dia duduk di kursinya sambil melamun. Sebuah tatapan kosong menatap ke arah buku di mejanya. Wira datang melewati kekasihnya.


"Nayla, ikut ke ruanganku" Pinta Wira, tapi Nayla diam saja tidak mendengar ucapannya.


"Hei, honey.. Apa yang kamu pikirkan?" Wira melambaikan tangannya di depan wajah Nayla. "Hum, P-presdir?" Gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Yuk, ke ruanganku!" Ajak Wira tidak basa-basi lagi. Dia menarik tangan Nayla masuk ke ruangannya.


Nayla di bawa duduk di sofa ruangan Wira. "Kamu kenapa?" Nayla berusaha terlihat biasa saja. Padahal dia memikirkan perkataan Malika di kantin tadi.


"Aku nggak apa-apa kok Mas. Hum, apa ada tugas untukku?" Nayla berusaha senyum di depan Wira. Tapi pria itu mengerti kalau kekasihnya sedang tidak baik saja.


"Aku sangat tidak suka jika ada kebohongan dalam hubungan kita. Aku juga tidak suka jika ada sesuatu yang membuatmu menjadi tidak nyaman." Ucap Wira dengan sedikit tegas namun bicaranya lembut pada Nayla.


"Hum, maaf Mas aku tidak berbohong. Tapi Bu Malika tadi bertemu denganku. Dia marah karena aku dekat padamu Mas." Jawab Nayla jujur.


"Dan dia tidak ada hak untuk marah padamu Nayla."


"I-iya tapi yang di katakan Bu Malika ada benarnya juga Mas. Aku seperti tidak pantas berada di sampingmu." Jawab Nayla ragu-ragu.


Wira menghela nafasnya berat, dia mengusap wajahnya. Lalu menggenggam tangan Nayla, "Dia hanya anak dari Pamanku Nay. Dia tidak berhak mengatur kehidupanku. Jadi, kamu tidak usah dengarkan apa yang dia katakan. Aku lebih tahu siapa yang pantas berada di sampingku." Wira meyakinkan Nayla, membuat gadis itu sedikit menghangat dengan penjelasan Wira.


"Iya Mas.. Aku___"


"Sudahlah, aku tidak mau kamu memikirkan itu lagu. Lebih baik sekarang kita belanja." Ajak Wira berdiri dari sofa.


"Belanja?" Nayla masih bingung.


"Hm, ayo temani aku belanja."


Nayla dan Wira pergi dengan mobil Audi R8 nya ke sebuah showroom mobil. Sampai di sana Nayla masih bingung. Kenapa Wira membawanya ke showroom mobil, dia pikir akan belanja layaknya seseorang ke supermarket atau pasar tradisional.


"Mas kok kita kesini? Bukannya tadi kamu bilang kita mau belanja. Aku pikir kita akan belanja ke swalayan atau pasar tradisional?" Nayla masih tidak mau turun dari mobil.


"Ha ha, aku kesini juga mau belanja sayang." Jawab Wira sukses membuat wajah kekasihnya merona. "Kenapa wajahmu memerah?"


"Hum, ng-nggak kok Mas."


"Ya sudah ayo turun."