
Malam harinya Nayla mengemasi barang-barangnya di kamar. Sebuah panggilan masuk berdering di ponselnya.
"Halo Mas?"
"Halo, bagaimana? Apa sudah siap, aku sudah di depan rumahmu." Jawab Wira dalam panggilan teleponnya dengan Nayla.
"Baik Mas, sebentar lagi aku keluar."
Nayla dengan cepat memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Tidak lupa dia membawa foto keluarganya dalam koper itu. Dia akan tinggal di apartemen Escala milik Wira.
Wira tersenyum dan turun dari mobil begitu melihat Nayla keluar rumah. "Biar aku saja." Pria itu memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.
"Kita berangkat sekarang ya" Nayla mengangguk sambil mengulas senyum. Wira dan kekasihnya masuk ke dalam mobil dan pergi ke Escala.
Setelah tiba di sana Wira langsung menggeret koper Nayla ke dalam kamar. "Aku akan pesan makanan. Kamu belum makan malam kan?" Nayla mengangguk.
"Terima kasih Mas." Wira mencium kening Nayla sekilas lalu keluar dari kamarnya.
"Huft,, kenapa rasanya masih selalu membuat jantung ini berolahraga." Nayla masih suka merasa tegang jika berduaan dengan Wira. Dia mengelus dadanya setelah pria tampan itu keluar.
Nayla membuka kopernya dan mengemasi barang-barangnya sebagian. Lalu dia keluar kamar mencari Wira. Ternyata pria itu sedang duduk di meja makan dekat dapur.
"Duduklah.."
"Iya Mas"
Gadis itu memilih duduk di sebelah Wira. Nampak Wira sedang memainkan ponselnya. "Sebentar lagi makanannya akan datang." Nayla mengangguk paham.
"Jika kamu butuh sesuatu, katakan saja. Setiap pagi akan ada Bik Saidah yang akan membersihkan tempat ini."
"Iya Mas, aku belum membutuhkan apa-apa. Apa Bik Saidah tidak tinggal di sini?" Tanya Nayla penasaran.
"Tidak, dia selalu pulang jika pekerjaannya sudah selesai. Meskipun tempat ini jarang di tinggali, tapi selalu di bersihkan olehnya." Wira menatap wajah Nayla yang mendengarkan diri nya bicara.
"Hum, begitu ceritanya.."
Tidak lama kurir makanan yang Wira pesan datang. Mereka makan malam bersama di ruang makan. "Malam ini aku akan tidur di sini." Ucap Wira pada Nayla yang tengah makan.
"Uhuk.. Uhuk.."
"Minum dulu, pelan-pelan saja makannya."
Wira menyodorkan segelas air ke Nayla yang tersedak. "Makasih Mas." Gadis itu terlihat panik dan menenggak air minumnya.
"Mas nggak pulang ke rumah?" Wira menggelengkan kepalanya. "Malam ini aku tidur di sini."
"Hum, iya Mas."
"Ada apa, kenapa kamu terlihat gugup sekali?" Wira menggoda Nayla yang masih gugup. "Tidak, aku nggak gugup kok Mas." Nayla tersenyum kecil.
"Ayo habiskan makannya."
"I-iya Mas."
Keesokan harinya Nayla dan Wira berangkat ke kantor bersama. "Mas nanti sore aku akan pulang ke rumah dulu. Aku mau ambil speda motorku." Nayla meminta izin sebelum turun dari mobil Wira.
"Tidak perlu, nanti biar aku suruh orang untuk mengambilnya." Jawab Wira enteng. Dia keluar dari mobil bersama Nayla.
Malika menatap Wira dan Nayla dengan tatapan tidak suka. Nampaknya wanita itu juga baru sampai di basement.
Segera Malika menyusul Wira yang berjalan bersama Nayla. "Wira.."
Pria itu dan Nayla menoleh, "Malika?" Wanita yang bernama Malika menyerobot posisi Nayla yang berada di samping Wira.
"Ayo, kita ke atas bersama." Ajak Malika tanpa mempedulikan Nayla di sampingnya. "Kau duluan saja." Pinta Wira dengan dingin.
"Nggak apa-apa Presdir, anda bisa naik bersama Bu Malika. Saya akan menyusul ke atas, saya mau pergi ke toilet dulu." Senyum Nayla sebelum berpamitan ke toilet.
Wira menatap bingung dengan Nayla, tapi nyatanya gadis itu langsung pergi meninggalkannya. "Ayo Wira!" Malika menarik tangan Wira untuk masuk ke dalam lift.
Setelah keluar dari toilet Nayla bertemu dengan Fatma dan Siska. "Fatma.." Dia begitu antusias melihat temannya.
"Nayla?" Fatma langsung berhamburan ke pelukan Nayla. "Aaaaa.... Kangen banget sama kamu Nay." Ucap Fatma melepas rindu.
"Sama aku juga."
"Gimana kalau sore nanti, habis pulang kerja kita cari makan bersama?" Usul Siska dengan senang hati. "Boleh, nanti aku kabarin kalian ya." Jawab Nayla tersenyum.
"Tapi kali ini beneran jadi ya Nay?" Fatma tidak mau di kecewakan Nayla lagi. "Iya Fat, nanti kita makan bareng." Nayla terkekeh melihat tingkah Fatma bagai anak kecil yang merajuk.
"Ya sudah, kalau gitu kita mau mulai kerja dulu ya Nay." Pamit Siska karena memang sudah waktunya bekerja.
"Ya baiklah, semangat ya untuk kalian" Nayla tersenyum menyemangati. "Siap Bu Bos" Jawab keduanya bersamaan.
Wira mendapat laporan dari Zack yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Mobil ini ternyata hanya mobil sewaan saja Presdir. Para kelompok pria yang menyerang Presdir waktu itu belum bisa saya temukan."
Zack memberikan bukti-bukti foto yang selama ini ia cari bersama anak buahnya. "Jadi kita belum bisa menemukan siapa dalang dari semua ini?" Wira terlihat sedikit kecewa. Dia memegangi dagunya sambil menatap bukti foto.
"Iya Presdir, secepatnya saya akan mendapatkan siapa dalang dari semua ini. Karena terlihat motif para kelompok pria ini memang sengaja ingin menyerang anda. Sebaiknya jika Presdir keluar, anda harus berwaspada." Pinta Zack tidak ingin terjadi sesuatu pada Wira.
"Baiklah Zack, aku percayakan padamu. Kau boleh kembali bekerja"
"Baik Presdir"
Setelah Zack keluar dari ruangan Wira, Nayla masuk ke dalam membawakan secangkir kopi untuk Wira.
"Ini kopinya Presdir"
"Hm, terima kasih Nayla"
Nayla memperhatikan wajah Wira tampak sedikit murung. "Apa Presdir baik-baik saja?" Wira melirik ke arah kekasihnya. "Kemari lah.." Pria itu membuka kedua tangannya ke samping.
"Presdir ini di kantor."
"Sebentar saja" Wira tersenyum menantikan Nayla datang ke pelukannya. Gadis itu malu-malu menghampiri Wira dan langsung di tarik ke dalam pelukannya.
Wira memeluk Nayla erat, pria itu mendudukkan Nayla di atas pangkuannya. "Kalau ada yang lihat bagaimana Presdir?" Nayla takut ada yang melihat. "Tidak akan."
Pria itu melepaskan pelukannya lalu menatap Nayla. Rasa di hatinya sedikit tenang karena melihat wajah damai kekasihnya.
"Apa ada yang bisa ku lakukan hari ini?" Tanya Nayla menantikan sebuah tugas dari Wira. "Ada, temani aku bekerja di sini."
"Apa? Tapi itu bukan sebuah tugas." Nayla nampak kecewa.
"Itu tugas dariku hari ini." Wira tersenyum masih memangku Nayla. "Bolehkah sepulang kerja nanti, aku pergi dengan teman-temanku dulu?" Nayla meminta izin dari Wira.
"Mau kemana? Aku tidak di ajak?"
"Mas, aku hanya pergi makan bersama Fatma dan Siska." Tolak Nayla secara halus. "Baiklah, biar nanti kamu di antar Zack."
"A-apa, di antar Zack? Tidak perlu Mas. Aku biar naik motor bersama temanku saja. Tidak mungkin aku di antar Zack, apa yang di katakan orang nanti." Nayla bersih keras menolak tawaran Wira yang akan mengundang banyak pertanyaan orang.
"Baiklah, tapi jangan sampai larut malam ya"
"Hum, terima kasih Mas."
"Itu saja?"
"Lalu?" Nayla masih bingung. Wira menaruh jari telunjuknya ke pipi. Dia memberi kode pada Nayla untuk mencium pipinya.
Cup..
Sebuah ciuman mendarat di pipi Wira. Pria itu nampak bahagia di kecup Nayla. "Rasanya aku ingin cepat-cepat menikahi kamu, Nay."
"Sabar dulu ya Mas." Nayla tersenyum hangat.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu." Wira memeluk Nayla lagi sebelum mulai bekerja.