
Sebagai lelaki yang normal, Wira memang memiliki hasrat yang tinggi. Memang dia bukan lah pria casanova seperti yang lainnya. Wira bahkan tak pernah menjalin hubungan dengan wanita.
Tapi entah kenapa semenjak mengenal Nayla, hidupnya terasa lebih nyata. Hari-hari yang biasa habiskan untuk bekerja dan bekerja. Kini dia mempunyai seseorang yang bisa membuat dirinya lebih berarti.
Wira juga tidak mengerti dengan diri nya. Setiap bersama Nayla, jati diri nya sebagai lelaki kadang merasa terpancing. Selain disiplin dengan waktu, Wira juga tidak suka membagi apa yang dia miliki dengan orang lain.
Sama hal nya pada Nayla yang telah menjadi miliknya. Sekarang rasanya Wira sangat marah sekali pada gadis itu. Salah paham membuat dirinya menghukum Nayla hingga tengah malam.
Terkadang sisi dingin Wira tidak bisa di hilangkan ketika sudah marah. Nayla mengerti jika pria yang tengah menggagahi nya saat ini telah salah paham.
Tapi hati nya sedikit kecewa dengan perilaku Wira yang bertindak sesuka hatinya.
"Sudah Mas,,, aku sudah tidak sanggup lagi.." Nayla berkali-kali menghela nafasnya. Mengatur ritme nafasnya yang terasa sesak karena ulah Wira.
Wira yang berkali-kali mengerjai Nayla itu akhirnya mau menyudahi permainannya. Dia juga tidak tega telah membuat Nayla kelelahan.
Cup..
Pria itu mencium kening Nayla yang sudah terkulai lemas. Nayla sudah tidak berdaya, dia lebih memilih tidur menutupi tubuhnya dengan selimut.
Wira menyalakan suara hujan dalam kamarnya. Lalu ia juga menyusul Nayla tidur di sampingnya. "Maafkan aku, karena aku tidak suka melihatmu bersama pria lain." Ucap Wira memeluk kekasihnya yang sudah tidur pulas.
Pukul dua malam, Nayla mulai membuka matanya. Dia duduk melihat Wira tertidur pulas di sampingnya. Dia mulai bangkit dari tempat tidur, meskipun rasa lelah masih terasa di tubuhnya.
"Aakhh.." Nayla meringis merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.
Wira benar-benar menghukum dirinya dengan agresif. Akhirnya Nayla berhasil pindah ke kamarnya. Di dalam kamar Nayla langsung membersihkan dirinya.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia seperti baru sadar akan sesuatu. "Bukannya tadi hujan?" Gumamnya bingung. Lalu gadis itu melihat ke jendela luar.
"Di luar tidak hujan? Lalu apa yang aku dengar di kamar____" Nayla tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Dia langsung keluar kamar menuju kamar Wira. Masuk ke dalam kamar pria itu lagi dan benar saja, Nayla mendengar suara hujan yang begitu tenang menghiasi kamar Wira.
Dengan langkah pelan Nayla kembali ke kamarnya lagi.
"Ini sama seperti waktu aku pertama kali keluar dari rumahnya waktu itu. Di luar tidak hujan, tapi di kamar Mas Wira hujan. Sebenarnya ada apa dengan Mas Wira?" Nayla menggigit kukunya memikirkan hal yang tidak ia ketahui.
Rasa penasaran menyelimuti pikiran gadis itu saat ini. Keesokan hari nya Nayla bangun lebih dulu. Dia menyiapkan sarapan nasi goreng untuk Wira.
Lalu pergi ke kantor lebih dulu. "Bik, aku pamit berangkat ke kantor dulu ya." Pamit Nayla pada Bik Saidah yang sedang membersihkan apartemen Wira.
"Loh, Non Nayla nggak bareng sama Tuan Wira?"
"Nggak Bik, mungkin Mas Wira masih tidur. Aku berangkat dulu Bik."
"Iya Non, hati-hati di jalan ya.."
"Baik Bik"
Nayla memang memiliki jiwa yang ramah dan periang. Dia selalu berbicara lembut pada lawan bicaranya. Apa lagi jika usianya lebih tua dari diri nya.
Tidak lama kemudian Wira keluar dari kamarnya sudah rapi, dia memakai jasnya dan mencari Nayla di kamarnya.
Tapi kekasihnya sudah tidak ada di kamar. "Tuan, sarapannya sudah siap. Tadi Non Nayla yang membuatkan sarapan untuk Tuan." Ucap Bik Saidah.
"Nayla, di mana dia Bik?"
"Non Nayla sudah berangkat Tuan."
Wira nampak menimang-nimang pikirannya. Dia menuju ruang makan untuk menikmati sarapannya yang sudah di buatkan Nayla.
Pria itu menaikkan satu alisnya ke atas melihat sepiring nasi goreng yang di hias cantik oleh Nayla. "Kenapa dia tega meninggalkan aku untuk sarapan sendiri?" Gumam Wira lalu mencoba memakan nasi goreng itu.
Biasanya Wira tidak suka sarapan dengan kalori tinggi. Tapi karena dia menghargai kekasihnya, Wira pun menyantap makanan itu hingga habis.
Di kantor Nayla sudah duduk di tempat kerjanya, Zack datang menemuinya. "Apa Presdir ada di dalam Nay?"
"Tumben sekali Presdir belum datang. Apa mereka sedang bertengkar?" Batin Zack mengamati Nayla diam-diam.
Wira pun datang dengan setelan jas berwarna hitam. Sangat tampan sekali pria itu pagi ini. "Zack temui aku sepuluh menit lagi, dan kamu ikut aku ke dalam!" Titah pria itu nampak dingin sekali.
Nayla meremas jemarinya sendiri. Dia sepertinya tahu jika Wira masih marah. "Baik Presdir." Ucap keduanya bersamaan.
Presdir tampan itu lebih dulu masuk ke dalam ruangannya. "A-aku akan masuk ke dalam dulu Zack." Pamit Nayla berusaha tenang. Padahal dia sangat gugup.
"Hm, masuklah."
Zack melirik ke arah Nayla yang masuk ke ruangan Wira. "Apa yang sudah kau lakukan Nay, sepertinya Presdir sangat marah." Ucap Zack, lalu dia kembali ke ruangannya.
Nayla memandang Wira yang berdiri menatap ke luar jendela. "Ada yang bisa saya bantu Presdir?" Ucapnya ragu-ragu.
Pria itu membalikkan badannya, dia menatap Nayla dengan intens. Bak harimau menatap mangsanya.
"Rupanya kekasihku sudah berani berbuat semaunya denganku!" Wira berjalan mendekati Nayla. Nada ucapannya sangat santai tapi begitu menekan.
Nayla sudah terpojok di dinding belakang dirinya. Wira menempelkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan bahu Nayla.
"M-mas.."
Gadis itu menunduk dan memejamkan matanya. Lalu tangan Wira mendongakkan wajah Nayla untuk tetap menatapnya. "Tatap aku" Nayla pun mematuhinya.
Dia menatap manik mata Wira yang berwarna coklat. "Sudah pergi dari kamarku, meninggalkan ku sarapan sendiri, lalu pergi ke kantor sendiri tanpa berpamitan. Padahal ada aku di sana. Apa itu yang di lakukan sepasang kekasih?" Tanya Wira baik-baik.
"Maaf Mas, aku cuma tidak ingin mengganggu tidur Mas." Wajah tampan Wira mampu menyihir Nayla, gadis itu terasa kelu menjawab pertanyaan Wira.
"Kamu tahu apa kesalahanmu Nay?"
Nayla enggan menjawab, dia diam saja menatap Wira. Pria itu langsung mencium bibir Nayla dengan menuntut. Nayla kewalahan, dia melepaskan tautannya. "Mas, cukup!"
"Aku tahu aku sudah membuat Mas Wira salah paham. Tapi jangan perlakukan aku seperti ini dan semalam!" Nampak Nayla meninggikan sedikit suaranya.
Wira terdiam mendengar kekasihnya itu menjawab. Pria itu menghela nafasnya berat, mengepalkan tangannya erat.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya tidak suka melihatmu seperti kemarin!" Ucap Wira mencoba menetralkan diri nya yang tengah emosi, agar tidak menyakiti hati Nayla.
Pria itu beralih duduk di sofa, membuat Nayla jadi merasa tidak enak hati karena sudah membentak Wira.
Nayla menghampiri Wira yang duduk di sofa. "Mas maaf aku nggak bermaksud untuk membentak kamu. A-aku cuma nggak mau kamu salah paham. Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi."
Gadis itu menggenggam tangan Wira yang masih terlihat kecewa. Rasanya Nayla tidak tega membuat Wira kecewa. Padahal dirinya juga masih kecewa dengan sikapnya.
Apa gadis itu sudah mulai mencintai Wira, hingga hatinya merasa tak nyaman.
"Aku pegang janjimu" Ucap Wira singkat namun berarti bagi Nayla.
"Iya Mas."
"Maafkan sikapku yang semalam. Tak seharusnya aku seperti itu padamu. Aku terlalu marah, maaf." Wajah Wira terlihat serius mengutarakan maafnya. Nayla kembali menghangat oleh sikap Wira.
"Hum, aku memaafkan mu Mas."
Wira memeluk tubuh Nayla dengan erat. Rasa lega kini menyinggahi hatinya. Nayla memang mampu merubah mood pria itu dalam sekejap.
"Mau aku buatkan kopi?"
"Tidak, aku masih kenyang dengan nasi goreng mu." Wira tersenyum menanggapi Nayla.
"Mas memakannya?" Wira mengangguk, "Ya, dan rasanya enak." Kini berganti Nayla yang tersenyum di buat Wira.
"Aku bisa membuatkannya setiap hari jika Mas mau." Nayla terkekeh menawarkannya, sepasang kekasih itu telah berbaik kan.