
Setelah membersihkan diri bersama. Nayla memakai pakaiannya kembali dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Biar aku bantu mengeringkan rambutmu."
Wira menuntun Nayla duduk di meja rias yang memiliki desain untuk pria. Di dalam laci Wira mengeluarkan hair dryer.
"A-aku bisa sendiri Mas."
Nayla merasa canggung dengan sikap Wira yang perhatian padanya. "Sudah menurut saja." Pria itu mengarahkan hair dryer ke rambut Nayla.
Mengeringkannya secara perlahan hingga benar-benar kering. "Sudah selesai." Wira mencium pucuk rambut Nayla. "Terima kasih." Jawab Nayla yang terlihat di cermin.
Keduanya sudah rapi dengan pakaiannya masing-masing. Wira sudah berganti setelan jas yang berbeda.
"Kita makan siang di luar ya"
Wira menuntun tangan Nayla keluar dari kamarnya. Lalu keluar dari ruangan kerjanya. "Presdir, apa anda mau pergi?" Tanya Zack yang kebetulan akan ke ruangan Wira.
"Iya Zack."
"Tapi Presdir, siang ini anda ada meeting dengan Divisi Pemasaran." Zack memperhatikan Nayla yang melepaskan tangan Wira ketika di depannya.
"Tolong kau urus itu Zack, kemungkinan aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini." Titah Wira.
"Baik Presdir."
Nayla kembali di genggam oleh Wira, dia membawa gadisnya ke dalam lift. "Huft, jika sedang jatuh cinta tugasku menjadi double" Ucap Zack menatap kepergian keduanya.
"Presdir, apa tidak berlebihan di depan Zack seperti tadi? Lalu Presdir tidak perlu membatalkan meeting nya." Nayla merasa tidak enak dengan Zack.
"Sudahlah aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan." Jawab Wira tersenyum pada Nayla. Gadis itu terdiam dan membalas senyum Wira sedikit kaku.
Keluar dari basement Nayla bertemu dengan Siska. "Naylaa..." Teriak Siska memanggil dirinya.
Nayla menoleh dan tahu siapa yang memanggilnya. Dia melepaskan tangannya yang di genggam Wira. "Presdir, apa boleh saya bicara sebentar dengan teman saya?" Nayla memohon.
Wira tidak dapat menolaknya. "Hm, aku tunggu di mobil. Jangan lama-lama"
"Baiklah, terima kasih."
Nayla menghampiri Siska yang berjalan ke arahnya. "Wuuhh... Lihatlah sekarang ini siapa yang ada di depanku?" Siska meledek Nayla dengan senyuman bercanda.
"Siska, kau sedang apa di sini?"
"Aku habis ikut Bu Tari ke cafe di depan. Biasa di suruh beli kopi, he he he." Jawab Siska mengangkat kantong plastik putih berisi beberapa kopi yang habis dia beli.
"Kamu jangan lupakan kita dong, mentang-mentang sudah jadi Asisten Bos." Ledek Siska lagi.
"Siska, mana mungkin aku lupa sama kamu dan Fatma. Aku mau pergi dulu, nanti aku chat kamu dan Fatma ya." Pamit Nayla tidak mau membuat Wira menunggu.
"Tuh kan,, cieee.... Sudah mau pergi lagi saja, sibuk benar deh Bu Nayla satu ini sekarang." Siska menang usil sekali.
"Siskaa... Ya sudah ya, aku pergi dulu." Nayla mencubit pelan lengan Siska karena gemas.
"Okay deh, kamu hati-hati ya"
"Hum, daahh..."
Keduanya berpisah di basement. Nayla masuk ke dalam mobil Wira yang sudah menyala. "Maaf telah membuat Presdir menunggu." Ucap Nayla duduk di samping Wira.
"Nay, kamu bisa memanggilku seperti tadi jika sedang berdua. Aku lebih suka kamu memanggilku yang tadi." Pinta Wira dengan serius, wajah tampannya selalu membuat Nayla berdesir.
"Hum, ba-baik Mas Wira."
"Good job"
Deg..
Wira mencium sekilas bibir Nayla, pria itu memang paling ahli membuat jantungnya berhenti sedetik. "Sekarang kita pergi makan." Nayla mengangguk dan tersenyum.
"Kamu ingin makan apa?" Tanya Wira di dalam perjalanannya.
"Hum, apa saja."
"Makan aku saja kalau gitu."
Terlihat konyol ketika Wira mengatakan itu, tapi sukses membuat Nayla tertawa kecil. "Aku sudah tidak ada energi untuk itu." Kali ini Wira yang berganti tertawa oleh penuturan Nayla.
Wira menarik tangan Nayla dan membawanya ke atas paha. "M-mas.." Nayla ingin menarik tangannya tapi tidak di izinkan Wira.
"Biarkan dia di sini." Pinta Wira fokus pada depan jalan.
Setelah makan siang di restoran, mobil Wira berhenti di apartemen Escala. "Kenapa kita kesini?"
"Ayo turun" Ajak Wira begitu lembut namun tetap tegas.
Pria tampan yang memakai setelan jas coklat itu menempelkan key card aksesnya di pintu. Lalu Wira menuntun Nayla masuk ke dalamnya. "Nay, aku ingin kamu tinggal di sini." Pinta Wira duduk membawa Nayla di sofa ruang tengah.
"Tapi aku masih memikirkannya Mas."
"Aku ingin kamu tinggal di sini Nay."
"Bisakah nanti malam aku mengabari Mas." Nayla tidak ingin terburu-buru. Baginya ini bukan hal kecil, tapi harus di pikirkan matang-matang.
"Baiklah, kamu tunggu di sini. Aku ambil minuman dulu."
Wira beranjak ke dapur untuk mengambil minuman. Dering ponsel Nayla berbunyi, dia mengangkat panggilan masuknya.
"Halo, Ibu?"
"Halo Nay, gimana kabar kamu Nak?" Tanya Luna dari seberang telepon.
"Kabar Nay baik Bu. Ayah bagaimana?"
"Ayah baru mau di mulai pengobatannya Nay. Kamu jaga diri baik-baik di sana ya, jangan lupa makan."
"Iya Bu, Ibu tenang saja. Nay nggak akan lupa makan kok." Nayla begitu senang mendengar suara Ibunya.
"Oh ya Nay, Ibu telepon kamu juga ingin bilang. Kalau hutang Ayah kamu dengan Pak Danish sudah lunas. Katanya di bayar sama Bos kamu."
"Apa Bu? Sudah lunas?"
"Iya, tolong sampaikan ucapan terima kasih Ibu dan Ayah untuk Bos kamu ya. Maaf belum bisa berterima kasih langsung. Jika Ayah sudah pulang nanti, Ibu sama Ayah akan menemui Bos kamu langsung."
"Hum, i-iya baik Bu. Nanti akan Nay sampaikan. Bu, Nayla masih kerja, nanti malam Nay telepon lagi ya " Pamit Nayla melihat Wira sudah kembali.
"Iya Nay."
"Siapa yang telepon?" Tanya Wira duduk kembali di samping Nayla. "Ibu yang menelpon." Nayla tersenyum padanya.
"Ini minum dulu"
"Terima kasih."
Nayla membuka minuman kaleng yang tidak ia lihat sebelumnya. "Uhukk.. Uhuk.." Nayla tersedak saat sadar yang ia minum berbahan sparkling.
"Pelan-pelan."
Wira mengelus pelan punggung Nayla. "Maaf Mas, aku tidak biasa minum soda." Nayla tersenyum kaku, dia membersihkan bibirnya dengan jari lentiknya.
"Maaf, aku tidak tahu. Biar aku ambilkan yang lain."
"Hum, nggak usah Mas. Nggak apa-apa kok" Nayla menahan Wira yang ingin berdiri. "Nay, kamu bisa mengambil apa yang kamu suka di sana"
"Iya Mas, boleh aku bicara sebentar?"
"Hm, katakan!" Pria itu menatap Nayla, siap mendengarkannya.
"Apa benar Mas yang sudah membayar hutang Orang tua ku ke Pak Danish?" Tanya Nayla ragu. "Hm, aku menyuruh Zack untuk melunasinya."
"Mas tapi... Itu hutang keluargaku, Mas nggak perlu melunasinya. Aku sekarang jadi berhutang pada Mas Wira." Nayla benar-benar sungkan menerima semua ini.
"Aku tidak menganggap kamu berhutang padaku. Sudahlah, itu bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin kamu terbebani oleh hutang itu." Jawab Wira pelan, dia mencari suasana agar tidak kaku.
"Tetap saja aku berhutang padamu."
"Sebagai gantinya aku ingin kamu tinggal di sini." Jawab Wira cepat.
Nayla menatap Wira tidak habis pikir. "Mas Wira ini bagaimana, aku berhutang budi pada Mas. Tapi cara membayarnya aku malah di suruh tinggal di sangkar emas ini?" Nayla menggelengkan kepalanya.
"Sangkar emas?" Wira malah bingung.
Nayla mengangguk, "Iya sangkar emas. Ini terlalu besar dan mewah untuk aku tinggali sendiri."
Wira terkekeh mendengar jawaban Nayla. "Jangan tertawa Mas." Pria itu menghela nafasnya pelan, "Ternyata aku baru sadar, selain cantik ternyata kamu juga lucu."
"Mas Wira.."
"Ah baiklah, baik. Jika kamu takut tinggal sendiri di sini. Aku akan tinggal di sini juga." Usul Wira dengan senang hati.
"I-itu mana bisa seperti itu."
"Kenapa tidak bisa? Di apartemen ini ada 4 kamar."
Nayla menghela nafasnya pelan. "Aku akan memikirkannya lagi Mas. Tapi soal hutang itu, aku akan tetap membayarnya ke Mas dengan gajiku."
"Baiklah, aku akan tunggu jawabanmu nanti malam."