
Siang ini Wira kedatangan tamu teman bisnis di ruang kerjanya. Nayla membawakan minuman ke dalam untuk rekan bisnis Wira tersebut.
"Permisi, ini kopinya. Silahkan di minum" Ucap Nayla ramah.
Seorang pria yang merupakan teman bisnis Wira melihat Nayla bagai tidak asing, Lukas pernah melihat Nayla. "Kamu yang pernah kerja di Butik Jhon, bukan?" Pertanyaan Lukas sukses membuat Wira sedikit terkejut dan melirik ke arah keduanya.
"Iya benar." Jawab Nayla singkat.
"Terima kasih untuk kopinya, Nayla." Wira tersenyum pada kekasihnya. Nayla membalas senyuman itu lalu keluar dari ruangan Wira.
"Aku baru tahu kalau ternyata kau memperkerjakan Asisten cantik macam dia." Lukas tersenyum layaknya Casanova yang suka dengan banyak wanita.
"Jangan berpikir kau bisa menyentuhnya!" Wira sudah paham dengan sifat Lukas. "Ha ha ha, santai saja. Aku hanya bertanya, barang kali nanti dia sendiri yang akan merangkak naik ke atasku." Lukas tertawa garing meledek suasana.
Tapi mata elang Wira menatapnya nanar. "Cih, itu tidak akan pernah terjadi. Sudah kau mau apa datang kesini?" Pria itu berubah menjadi sedingin es lagi.
"Minggu depan kan kita ke Jepang. Aku ingin mempertanyakan persiapan kita, Wir." Lukas meraih secangkir kopi di atas meja dan menyeruputnya.
"Aku sudah menyuruh Zack untuk mempersiapkan semuanya. Kau tidak perlu khawatir, minggu depan kita langsung berangkat." Jawab Wira duduk dengan sedikit santai tapi tetap berwibawa.
Malika masuk ke dalam ruangan Wira, lagi-lagi wanita itu tidak pernah mengetuk pintu terlebih dulu.
"Wira!"
"Ck!" Wira memijit pelipisnya melihat tingkah Malika yang suka seenaknya saja.
"Malika, apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?!" Tegur Wira dengan nada malasnya.
"Hai, ternyata kamu bekerja di sini?" Sapa Lukas tersenyum pada wanita yang berdiri di depan pintu. Malika nampak acuh, dia hanya menarik sudut bibirnya ke atas dengan cuek.
"Wira, berhenti memberi pekerjaan padaku di luar batas kemampuanku!!" Malika marah karena Zack terus memberinya pekerjaan.
"Itu memang tugasmu" Jawab Wira cuek.
"Tapi ini tidak wajar Wira!! Kenapa kau tega sekali padaku?!" Malika mulai geram, raut wajahnya begitu menahan amarah agar tidak meledak.
"Malika, duduklah.. Bicara dengan baik-baik" Lukas menyuruh wanita itu duduk di sampingnya. Tapi Malika tidak menggubris ucapannya.
"Kau datang ke kantor ini menawarkan diri untuk bekerja. Jadi kau harus menerima pekerjaan yang sudah seharusnya kau kerjakan." Jelas Wira tidak ingin berdebat dengan Malika.
"Kau tega sekali, Wira!! Berhenti memberiku pekerjaan yang membuatku bisa stress!"
Wanita itu murka, dia langsung keluar dari ruangan Wira dengan membawa kekesalan. "Dia sepupu mu kan Wir?"
"Hum"
"Kemarin aku bertemu dengannya di cafe. Rupanya dia berada di Kota ini karena bekerja di sini." Lukas mulai memahami situasi.
"Ya, dia baru saja bekerja di sini beberapa hari lalu."
"Ternyata ada banyak bidadari di kantormu" Ledek Lukas lagi, Wira hanya menggelengkan kepala saja. "Bidadari itu bersayap. Di sini tidak ada wanita bersayap" Cetus Wira jengah dengan gombalan Lukas.
"Perusahaan MaxWin sedang banyak issue. Banyak yang bilang rangka mereka bermasalah dan segala macam. Aku jadi takut itu membawa hal buruk bagi perusahaan kita." Ujar Lukas memainkan ponselnya.
"Aku sangat yakin bukan kesalahan utama dari perusahaannya. Tapi pasti ada oknum yang sengaja melakukan itu. Kau tenang saja, aku sedang menyelidiki itu semua." Wira juga tidak ingin perusahaannya terkena imbas dari issue yang beredar.
Bagaimana pun, perusahaan Wira sudah berjaya dan banyak di percaya orang. Dia tidak ingin mengecewakan banyak orang, hanya karena ulah orang yang tidak bisa di percaya.
"Ya, aku harap juga begitu."
Sore harinya Nayla pulang bersama Wira, Irwan melihat Nayla masuk ke dalam mobil Audi R8 milik Wira. "Bukannya itu Nayla, dia pulang bersama Pimpinan?" Gumam Irwan duduk di atas motornya.
Ada rasa kecewa melihat Nayla pulang bersama Wira, sepertinya Irwan menyukai Nayla dari awal pertemuannya. Dia menjalankan motornya dengan rasa lesu.
"Kita pergi ke suatu tempat dulu." Ucap Wira memegangi stir mobilnya dengan kedua tangan. "Mau kemana Mas?"
"Itu rahasia"
Nayla merasa gemas dengan tingkah Wira saat ini, dia mengulas senyum menatap kekasihnya. "Mas, apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Katakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan"
"Semalam aku mendengar suara hujan di kamar Mas Wira. Tapi di luar tidak hujan." Ucap Nayla dengan hati-hati. Dia tidak ingin Wira merasa tertekan dengan ucapannya.
"Hm, soal suara hujan ya.." Wira menimang-nimang pikirannya sejenak. "Karena aku menyukainya." Ucap pria itu menatap ke arah Nayla.
Suasana berubah menjadi sedikit canggung, Nayla tersenyum kecil. "Ah, jadi begitu.. Hum, aku pernah mendengarnya juga pada waktu malam itu. Ketika aku keluar pagi hari tidak hujan, tapi di kamar Mas seperti mendengar suara hujan. Ternyata karena Mas Wira menyukai hujan." Nayla menghela nafasnya pelan.
"Aku akan membahasnya nanti, setelah kita sampai." Wira memilih fokus untuk menyetir mobilnya dulu.
"Iya Mas aku mengerti."
Di tengah jalan sebuah sedan hitam membuntuti mobil Wira. Pria itu tersadar bahwa ada yang mengikuti mobilnya dari kaca spion.
"Ada yang mengikuti kita Nay." Wira terus fokus menyetir, Nayla menoleh ke belakang mobil. Ternyata benar ada mobil sedan hitam mengikutinya.
"Siapa mobil itu Mas?"
"Aku juga tidak tahu."
Ternyata sudah sejak keluar dari kantor, mobil Wira di ikuti oleh mobil sedan hitam itu. "Karena kita tidak tahu siapa mereka. Sebaiknya kita menghindar."
Wira menambah kecepatan mobilnya. Tangan Nayla memegang erat seat belt yang ia gunakan. "Mas hati-hati.." Nayla begitu takut.
Dengan kecepatan tinggi Wira sesekali melirik ke arah spion, dia mencari celah dari setiap mobil ke mobil. Agar mobil sedan hitam itu tidak mengikutinya lagi.
"Mas Awas.."
"Kamu bisa menutup matamu jika takut Nayla." Wira tidak ingin Nayla ketakutan berada di dalam mobilnya saat ini.
"Bagaimana aku bisa menutup mataku saat seperti ini Mas?" Di dalam hati Nayla sudah banyak berdoa dalam kepanikannya.
Akhirnya di persimpangan lampu merah depan, mobil Wira berhasil mengikuti arus sebelum berganti lampu merah.
Mobil sedan itu tidak bisa mengikuti mobil Wira lagi, karena terjebak pergantian lampu lalu lintas.
"Ah sial!!! Kita tidak bisa mendapatkannya lagi!" Ucap pria yang mengemudikan sedan hitamnya.
Nayla dan Wira bernafas lega karena mobil itu tidak berhasil mengikutinya. "Mobilnya sudah tidak mengikuti kita lagi."
"Syukurlah Mas, tadi itu membuat jantungku tidak karuan." Nayla memegangi dadanya. Wira melirik ke arah kekasihnya yang masih panik.
"Tenanglah, mereka sudah tidak ada." Wira menarik tangan kanan Nayla untuk di genggamnya. "I-iya Mas."