Love In November

Love In November
Masa Lalu Wira



Zack menyusun makanan yang ia beli di restoran chinese. Dia menjalankan setiap perintah yang di berikan Wira. Tak pernah sedikit pun ia lalai dalam menjalankan tugasnya. Apa pun itu, baik hal di kantor maupun di luar kantor.


"Padahal delivery dari resto nya juga Bisa. Jarak apartemen dari sini kan lumayan jauh." Zack sedikit mengeluh sambil meletakkan piring di meja makan.


"Mana badan ku lumayan sakit. Kayaknya aku masuk angin nih" Zack menggerak-gerakkan bahunya memutar 180°.


"Zack, apa sudah siap?" Suara bariton Wira menghentikan aktifitas Zack yang menyusun makanan.


"Sudah Presdir."


"Hm, ikut lah makan malam bersama." Ajak Wira tanpa sungkan. Ya, Wira memang selalu baik pada Zack.


"Maaf Presdir, tapi saya sudah makan malam tadi." Wira mengangguk paham. "Baiklah"


Tak lama Nayla datang mengenakan kemeja biru muda milik Wira. Terlihat kebesaran di tubuhnya yang ramping. Wira sedikit terkejut melihat paha mulus milik kekasihnya terekspos sempurna.


"Zack pulanglah jika kau sudah makan, dan jangan berbalik!" Pinta Wira dengan cepat. Dia seakan menahan nafasnya yang melihat Nayla semakin mendekat.


Zack pun merasa heran, tidak biasanya Wira seperti itu. Zack penasaran dan ingin membalikkan badannya. "Sudah ku bilang jangan berbalik Zack, pulang sekarang!" Zack akhirnya mengalah. "Baiklah Presdir, saya pulang dulu. Selamat malam."


Nayla datang ke meja makan, tapi Zack juga sudah berlalu pergi. "Loh, kok Zack pergi Mas? Apa dia tidak ikut makan bersama kita," Nayla duduk di sebelah Wira.


"Hm, katanya sudah makan tadi. Jadi langsung pulang. Ayo, di makan dulu" Nayla mengangguk dan mulai membuka piring.


"Tadi nawarin makan, sekarang langsung di suruh pulang. Huh, sultan mah bebas ya" Keluh Zack yang masuk ke dalam mobilnya. Dia sedikit jengkel dengan ulah Wira. "Palingan juga ada Nayla di dalam. Pakai nggak boleh nengok ke belakang, ha ha ha. Presdir lucu juga ternyata" Gumam Zack dan menjalankan mobilnya keluar dari rumah Wira.


"Nay, dua hari lagi kita menikah. Nanti kamu tinggal di sini ya. Dan orang tua kamu tinggal di Escala saja." Ucap Wira di sela makannya. Tatapannya tak henti melihat Nayla yang terlihat seksi mengenakan kemejanya.


"Nggak Mas. Aku nggak mau merepotkan kamu. Meskipun rumah aku kecil, tapi pasti orang tuaku akan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri"


Wira mulai jahil, kaki nya menyenggol betis Nayla. "Mas kamu ngapain?" Nayla merasa geli kakinya di senggol halus oleh Wira.


"Nggak kok. Kamu cuma kelihatan tambah seksi saja sayang pakai kemejaku. Hm,, tapi aku senang jika orang tuamu mau tinggal di Escala. Toh, tempat itu selalu sepi jika tidak ada yang tinggal" Kenyataannya memang seperti itu. Wira membeli apartemen Escala yang super mahal karena terletak di lantai paling atas.


Itu sengaja ia beli untuk investasi. Ya maklum pebisnis selalu mengandalkan uangnya untuk investasi dan berbisnis yang lainnya.


"Itu kalau mereka mau ya Mas. Aku berterima kasih karena kamu selalu mempedulikan keluargaku." Nayla tersenyum hangat dan manis sekali di pandang Wira.


"Kamu mau tanya apa sayang?"


"Hum, keluarga Mas Wira. Eh, maksudku orang tua Mas apa sudah lama___" Nayla menggantung. Rasanya dia tidak mampu meneruskan perkataannya.


"Maaf Mas. A-aku nggak bermaksud__"


Wira menggenggam tangan Nayla. "Mereka meninggal di usiaku lima belas tahun. Waktu itu aku baru saja di jemput sama Mama dan Papa di bandara. Malam itu hujan sangat deras. Aku duduk di belakang. Papa dan Mama di depan, saat itu Papa menyetir sendiri untuk menjemput ku. Aku tidak terlalu mengetahui penyebab kami kecelakaan.


Karena aku lelah habis sekolah di luar negeri. Di tambah hujan menemani perjalanan kami. Aku tertidur pulas di kursi belakang. Aku terbangun karena merasa tubuhku terguncang hebat. Mobil yang Papa kendarai terguling dan terbalik. Aku seperti tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Aku menangis melihat kedua orang tuaku sudah tidak sadarkan diri juga luka-luka.


Aku berusaha keluar dari mobil, dan ingin menolong mereka. Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa keluar. Aku melihat jalanan sekitar sangat sepi. Aku baru sadar kalau malam itu sudah pukul satu malam. Sepertinya kami mengalami kecelakaan tunggal.


Aku berusaha membuka pintu mobil yang ada Mama. Tapi sulit sekali, aku mencari benda yang bisa membuka pintu mobil. Aku melihat ada sebongkah kayu di bawah pohon.


Aku berlari pelan, di bawah gerimis hujan yang mulai berhenti. Namun saat aku berbalik dan ingin ke mobil. Mobil itu meledak dahsyat tepat di depan mataku. Aku berteriak, kaki ku bahkan langsung lemas dan terjatuh. Aku____"


Wira sudah tidak mampu menceritakan masa lalunya pada Nayla. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya terpukul dan trauma yang sangat dalam. Nayla memeluk Wira di sampingnya.


"Mas sudah, maafkan aku karena sudah membuatmu menceritakan semuanya. Ada aku Mas, kamu jangan sedih lagi." Nayla meletakkan kepala Wira di dekapan dadanya. Dia mengelus pelan punggung Wira agar tenang. Tidak terasa air mata Wira menetes dari pelupuk matanya.


"Nggak Nay, kamu juga berhak tahu. Maaf, aku belum bisa menceritakan nya lagi"


"Sudah Mas, tidak apa. Aku mengerti, menangislah jika Mas ingin meluapkan rasa sedih Mas. Aku tahu selama ini Mas sangat merindukan mereka. Mereka juga pasti sangat merindukan Mas Wira di atas sana. Aku yakin mereka sudah bahagia, karena melihat putra nya tumbuh menjadi pria yang baik selama ini" Nayla membuat Wira merasa lebih tenang.


Perkataan yang Nayla lontarkan untuknya sangat menyentuh hati. "Aku memang bukan orang yang mengenal Mas sudah lama. Tapi aku yakin apa yang sudah Mas lewati, dan apa yang sudah Mas jalani selama ini. Itu bukan hal yang mudah. Jujur aku belum tahu bagaimana masa lalu Mas Wira selama ini, tapi Mas memilih aku untuk menjadi Istri. Aku hanya ingin bilang, apa pun yang akan kita jalani ke depannya nanti. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Bukan hanya istri tapi bisa jadi teman untuk Mas. Dan masih banyak lagi, yang aku pun belum tahu akan seperti apa. Maaf Mas, tapi melihat bagaimana Mas selama ini terhadapku. Aku hanya tidak ingin sampai mengecewakan Mas. Setelah menikah, aku berharap Mas tidak akan kecewa dengan sifat, dan tingkahku nantinya. Karena aku bukan wanita yang sempurna. Begitu pun sebaliknya."


Wira semakin memeluk Nayla erat. "Terima kasih Nay, kamu memang wanitaku. Aku mengerti maksudmu. Aku berharap kamu juga akan menerimaku apa adanya." Pria itu mencium pipi Nayla dengan sekilas.


"Kamu itu paket super Mas. Bukan apa adanya lagi."


Wira tersenyum dan kembali menggoda Nayla. "Ah, geli Mas. Jangan seperti itu" Nayla kegelian karena Wira menggelitik pinggangnya.


"Habis kamu sudah mulai bisa menggombal ya"


"Hum, nggak juga. Mungkin karena aku habis makan, jadi otakku sedikit encer" Alasan Nayla begitu tidak masuk akal. Wira semakin gemas dan menggendong Nayla ke atas kamarnya.