Love In November

Love In November
Beruntung Mendapatkannya



Wiira melepaskan pagutannya. Nafasnya memburu menatap Nayla. "Mas sudah, aku mengerti sekarang. Tapi bila Mas marah jangan menghukum ku dengan cara seperti ini" Nayla pergi meninggalkan Wira begitu saja.


Ada rasa sesak di dadanya ketika Wira membentak dirinya. Air mata pun menetes di pipinya, Nayla duduk di kursi kerjanya dan membuka sebuah map.


"Aarrghh!!!" Wira mengusap wajahnya kasar.


Mungkin dia sudah keterlaluan pada Nayla, tapi hatinya cemburu. Jadi Wira melampiaskan kemarahannya pada Nayla seperti tadi.


Wira lalu keluar dari ruangannya menghampiri Nayla. "Aku minta maaf Nay, aku tadi terbawa emosi. Ikut aku ke dalam" Wira menarik lembut tangan Nayla dan membawanya kembali ke dalam. Dia merasa bersalah pada Nayla.


"Nay.."


"Sudah Mas, aku tidak apa-apa. Aku juga nggak mau berdebat dengan Mas. Lupakan saja, aku mengerti apa yang Mas mau tadi" Nayla tahu jika Wira mungkin sedang cemburu dengannya. Dia akan mencoba mengerti dengan Wira, dan tidak ingin bertengkar.


"Maafkan aku Nay" Wira memeluk Nayla.


"Nanti malam aku ada pertemuan bisnis dengan WinMax di club." Wira membuka suasana agar tidak canggung lagi.


"Apa pertemuan bisnis itu di club Mas?" Nayla merasa heran. "Tidak juga, tapi ini permintaan WinMax sendiri. Aku bersama Zack nanti, kamu di Escala saja. Aku tidak ingin kamu di lirik pria-pria di sana" Wira tidak menginginkan jika Nayla ikut dengannya.


Karena pasti banyak pria yang akan melirik kekasihnya itu. "Baiklah Mas. Aku juga minta izin akan membawa teman-temanku ke Escala. Apa boleh?"


"Temanmu siapa?"


"Siksa dan Fatma"


"Boleh sayang. Selagi itu benar teman wanita, aku tidak mempermasalahkan nya." Nayla tersenyum senang. "Terima kasih Mas"


"Sama-sama sayang.."


Sore harinya Nayla pulang bersama dengan Wira. Malika menyusul mereka yang hendak masuk mobil. "Wira, aku ikut bersama kamu ya. Mobilku sedang di bengkel." Pinta Malika berharap Wira mau mengantarkannya.


"Naik taksi saja. Hari gini bisa pesan taksi online, Malika" Wira tidak mau ribet dengan Malika. Dia memilih masuk ke dalam mobil.


"Mas tunggu, sebaiknya Mas antar saja."


"Gue nggak butuh persetujuan dari Lo." Wajah Malika menunjukan tidak suka nya.


"Malika!!"


Malika masuk ke kursi depan samping pengemudi. Wira menghela nafasnya berat. "Malika keluar, kalau kamu mau di antar pulang. Kamu duduk di belakang!"


"Kamu nggak usah lebay kenapa sih Wir, aku cuma duduk di depan aja kamu marah." Malika memilih cuek agar dia bisa duduk di depan.


"Lagian, dia kan cuma Asisten kamu aja."


"Dia bukan sekedar Asisten saja. Tapi dia juga calon istriku" Mata elang Wira menatap tajam pada Malika.


Sebuah pengungkapan Wira membuat Malika melongo tak menyangka. "Apa?! Calon istri kamu. Nggak salah kamu Wir?!"


Nayla memilih diam melihat Wira berdebat di dalam mobil dengan Malika. "Iya, jadi yang sopan sedikit sama dia!"


"Wira kamu sadar dong! Dia tuh nggak pantes buat kamu Wir, dia cuma cewek kampungan yang beruntung bisa kerja sama kamu!" Lagi-lagi Malika membuat dada Wira memanas.


"Mas sudah, aku duduk di belakang saja" Nayla akhirnya mengalah dan duduk di kursi belakang. "Memang sudah seharusnya lo ngalah!!" Ketus Malika membuat Wira mengepal kuat tangannya di stir mobil.


Pria itu meraih ponselnya dan menelpon seseorang. "Halo Zack, kamu ke basement sekarang. Antar Malika pulang!"


"Baik Presdir"


"Sekarang kamu turun!! Biar Zack yang antar pulang!"


"Nggak, aku nggak mau turun!" Malika tetap kekeh ingin di antar pulang sama Wira. "Mas sudah, kita antar Kak Malika pulang" Nayla sungguh di buat pusing oleh perdebatan sore ini.


"Malika turun, apa perlu aku seret kamu keluar??!"


"Ck, jahat kamu Wir!!" Akhirnya Malika turun dengan rasa kesalnya. Dia membanting pintu mobil cukup keras.


Hari ini Wira membawa mobil BMW yang memiliki empat kursi. Jadi Nayla dapat duduk di belakang. Tidak seperti mobil Audi R8 nya, yang hanya memiliki dua pintu saja.


"Sudahlah, biar dia di antar Zack saja. Kamu bisa pindah ke depan Nay" Pinta Wira berusaha menetralkan suasana hatinya.


"Baiklah Mas"


Pukul 7 malam Wira sudah bersiap akan pergi ke Club. Dia memakai setelan casual malam ini. "Mas kamu sudah mau berangkat?"


"Iya sayang. Aku tinggal dulu sebentar ya. Di mana teman mu, kata kamu mereka mau kesini?" Nayla membenarkan sedikit penampilan Wira.


"Mereka sedang di jalan Mas"


"Ya sudah, kabari aku jika ada apa-apa. Aku pergi dulu, Zack sudah menunggu di bawah" Wira mengecup sekilas bibir Nayla dengan lembut.


"Iya Mas kamu hati-hati di jalan ya"


"Iya sayang"


Setelah kepergian Wira, Nayla memutuskan untuk menyiapkan camilan ringan untuk Siska dan Fatma. Belum lama Wira pergi, mereka sudah menelpon jika sudah di bawah gedung Escala.


Nayla menutup panggilan nya dan segera menjemput mereka di bawah.


"Wahhh,, besar sekali Nay apartemen kamu" Ucap Siska yang terpesona melihat kemegahan apartemen milik Wira.


"Iya Nay, besar sekali.."


"Ini bukan milikku, tapi Mas Wira."


"Hah, serius kamu Nay? Wah beruntung sekali kamu dapat Pimpinan Wira" Kata Fatma. Lalu mereka duduk di ruang santai yang terdapat tv dan sofa lebar di sana.


"Gimana kalau kita nonton film saja?" Usul Fatma. Nayla mengangguk. "Ide bagus, kalian mau nonton apa?"


"Nay, kamu tinggal sendiri di sini?" Tanya Siska dan Nayla mengangguk. "Berani sekali kamu Nay tinggal sendiri di tempat megah seperti ini"


"Hum, awalnya tidak terbiasa. Lama-lama aku mulai terbiasa. Aku ambilkan kalian minuman dan camilan dulu ya"


Nayla pergi ke dapur mengambil beberapa camilan kue dan minuman untuk temannya. Sambil menyetel film, Nayla menceritakan hubungannya pada Wira. Namun Nayla tetap tidak menceritakan soal malam di mana kesuciannya telah hilang.


"Jadi begitu ceritanya. Tidak menyangka, perjalanan kalian seperti cerita di Novel. Aku jadi ingin seperti kamu Nay. Tapi Pimpinan mana ya yang mau sama aku, ha ha ha.." Ucap Fatma dan tawa mereka semua pecah.


"Mana ada Fat yang mau pimpinan sama kita-kita ini." Timpal Siska yang memang merasa tidak mungkin.


Di sebuah Club, Wira dan Zack bertemu dengan pemilik WinMax. Di sana mereka membicarakan bisnisnya yang sempat berhenti di cabang Kota J.


"Apa benar kamu menghentikan produksimu untuk Pranata Group, James?" Tanya Wira pada James pemilik WinMax.


"Tidak, aku tidak pernah menghentikan produksi ku pada perusahaanmu." James menuangkan lagi Whisky ke dalam gelas milik Wira yang sudah kosong.


"Thanks"


Zack ikut bergabung dengan Wira dan James. "Memang ada apa?" James bahkan tidak pernah mengecewakan Pranata Group selama bekerja sama.


"Tidak, hanya saja ada yang bilang kalau perusahaanmu menghentikan pemasukan barang ke cabang Kota J."


"Hm, jadi begitu. Tapi kau tahu sendiri kan. Aku tidak pernah mengecewakanmu dalam berbisnis." Jawab James santai. James seumuran dengan Wira, hanya saja perawakannya lebih terlihat bule. Karena James keturunan Amerika Latin.


"Ya aku tahu James. Aku lebih tahu mana yang harus ku percaya."


"Okay Wir. Mau bermain malam ini?" Pandangan James melirik ke sebuah wanita cantik di dalam club itu.


"Tidak James, kau tahu aku. Aku tidak suka bermain dengan wanita di Club."


Zack mendengarkan percakapan keduanya sambil menenggak whisky miliknya. "Oh ayolah sekali saja Wir."


"Zack, kau pasti tidak menolak kan?" Tanya James pada Zack. "Hm, tidak terima kasih Tuan. Tapi aku belum menginginkannya." Tolak Zack secara halus.


Zack memang tidak jauh berbeda dengan Wira yang tidak suka bermain wanita. Dia pergi ke club hanya untuk minum-minum saja.