Love In November

Love In November
Tokyo



Selama di pesawat wajah Malika terlihat murung dan kesal pada Nayla dan Wira yang selalu menempel bak perangko.


Sekitar kurang lebih sepuluh jam, pesawat mereka tiba di Bandara Internasional Tokyo. Ya, mereka semua pergi ke Kota Tokyo. Di mana kota itu sangat berkembang dan memiliki penduduk paling banyak di Negara Jepang.


"Zack, kita ke Hotel dulu seperti biasa. Hari ini kita istirahat dulu. Kita mulai kerja esok hari." Ucap Wira sambil berjalan di area bandara.


"Iya Presdir, saya sudah menyiapkan Hotelnya." Zack selalu sigap menyediakan semuanya tanpa di suruh.


"Iya benar banget lo Wir. Sepuluh jam di pesawat, lumayan bikin badan-badan gue pada tegang" Timpal Lukas memijit tengkuk nya yang terasa pegal.


"Ya, lo istirahat dulu hari ini" Jawab Wira lagi.


Mereka tiba sore hari di Kota Tokyo. Esok harinya baru akan memulai bekerja di Kota itu. Nayla terus berjalan di samping Wira. Malika berjalan di samping Lukas dan Zack.


"Kau juga jangan lupa istirahat Malika." Ucap Lukas perhatian dengan dirinya. "Hm, aku sudah mengerti."


Mereka tiba di Hotel ternama di Kota Tokyo. Zack memberikan keycard pada Wira dan Lukas. Juga tambahan dengan Malika.


"Ini kunci mu Malika" Zack memberikan kunci itu padanya. "Ya Zack. Kau sekamar denganku bukan?" Malika menunjuk ke arah Nayla.


"Nayla bergabung di kamar Presdir. Karena di dalam kamar Presdir ada satu kamar lagi. Jadi saya memang pesan khusus untuk mereka." Jawab Zack lebih dulu sebelum Nayla menjawab.


"Kenapa bisa begitu? Mereka kan hanya sebatas rekan kerja. Mana bisa menjadi satu pria dan wanita di dalam satu kamar" Malika sedikit geram.


"Di dalam nya masih ada satu kamar lagi, Malika" Tegas Zack sekali lagi.


"Ya tetap saja. Mana bisa begitu"


"Malika, aku harap kehadiran mu di sini tidak membuat masalah. Jadi pergi saja ke kamarmu dan istirahat" Tutur Wira dengan tegas dan raut wajah nya yang dingin.


"Tapi Wira__"


"Lukas, Nayla, Zack pergi ke kamar kalian sekarang!" Titah Wira lalu menarik tangan Nayla. Membiarkan Malika tidak melanjutkan perkataannya.


"Ya, gue cabut duluan" Jawab Lukas menyelonong lebih dulu.


"Aaarggghh!!! Dasar cewek kampungan!" Cibir Malika kesal. Dia berjalan ke kamarnya dengan langkah yang kesal.


Nayla masuk bersama Wira ke dalam kamar yang sudah Zack sediakan.


"Mas, kenapa kita harus pesan kamar sebesar ini?" Nayla masih tidak percaya dengan besarnya ruangan kamar mereka. Terdapat ruang santai, dapur, dan di dalamnya terdapat dua kamar yang terpisah.


"Ini semua Zack yang menyiapkannya. Apa kamu mau kita ganti satu kamar saja? Wira memasang wajah menggoda.


"Apa benar Zack yang melakukannya? Hum, tidak perlu Mas. Tapi sangat di sayangkan saja, pasti kamar ini harganya sangat mahal." Nayla mengitari sofa berwarna merah.


"Kamu suka?" Nayla mengangguk. "Siapa yang tidak suka dengan kamar sebagus dan semewah ini." Jawab Nayla masih terpukau.


"Besok malam kita dinner di luar" Wira memeluk Nayla dari belakang. "Mas"


"Kita istirahat dulu ya, kamu pasti lelah" Wira menaruh dagu nya di bahu kekasihnya. "Iya Mas, kamu juga pasti lelah"


"Mau tidur denganku, atau___"


"Aku akan ke kamar yang ada di sana saja Mas" Nayla menjawabnya dengan cepat. Wira terkekeh dengan tingkah laku kekasihnya yang terkadang masih suka canggung dengannya.


"Baiklah, biar aku antar kesana"


Nayla agak tertegun dengan menu makanan di Tokyo. "Ada apa, apa ada yang tidak kamu suka?" Wira merasa kekasihnya itu bingung mau memakan yang mana.


"Tidak Presdir, aku akan memakan menu yang ada di sini" Jawab Nayla tersenyum. Namun senyuman itu agak ragu.


"Jika tidak ada yang cocok. Kita bisa pesankan kamu makanan yang lain Nay" Tukas Lukas yang mengambil selembar roti di meja.


"Jangan berlebihan, begini akibatnya jika kau tidak pernah makan makanan jepang. Makan saja ribet!" Timpal Malika dengan wajah yang tidak akrabnya.


"Ini bukan urusanmu Malika"


"Sudah Presdir, aku tidak apa-apa." Nayla lebih memilih mengambil selembar roti gandum dengan balutan selai coklat.


Zack makan dengan tenang. Dia tidak ingin ikut campur dengan persoalan yang ada.


Mereka berlima pergi ke sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Pranata Group. Di sana Zack, Wira dan Lukas tengah melakukan meeting bersama vendor perusahaan itu yang ada di Tokyo.


Nayla menunggu di kursi sudut ruangan bersama Malika. "Heh, cewek kampung! Lo tuh nggak pantes ikut ke Jepang. Lihat gaya lo saja tuh sudah norak!! Bisa kan nggak usah lebay!" Bisik Malika dengan nada menekan.


Nayla diam saja, dia tidak ingin menanggapi mulut pedas Malika.


Meeting pun selesai setelah berlangsung selama dua jam. "Zack, Lukas. Kalian bisa berkeliling Kota ini. Karena jadwal kita hari ini free setelah meeting. Besok kita lanjut kerja lagi"


"Okay, gue juga mau pergi ke suatu tempat." Jawab Lukas.


"Malika, kamu mau ikut nggak?" Ajak Lukas pada Malika yang berdiri di dekat Wira.


"Nggak, makasih" Jawabnya cuek.


"Yakin nggak mau ikut, seru loh di sana.." Lukas berharap Malika mau ikut dengannya, tapi dia tipe pria yang tidak suka memaksa. "Iya nggak mau" Malika cuek sekali.


"Ya sudah, Zack lo ikut sama gue kan?" Kali ini Lukas mengajak Zack agar ada teman mengobrol. "Hm, terima kasih tuan Lukas. Tapi saya ingin istirahat saja hari ini" Zack lebih menginginkan istirahat di kamar Hotel saja.


"Oh ayolah, jangan memanggil tuan. Sudah kayak sama siapa saja. Panggil Lukas saja bro" Lukas merangkul Zack layaknya saudara.


"Baiklah Lukas"


"Ya sudah, kalau gitu aku akan pergi duluan" Wira menggandeng tangan Nayla dan membawanya pergi.


"Wira tunggu! Aku ikut sama kamu saja" Pinta Malika dengan cepat. "Malika, kau sudah dewasa. Kau bisa pergi kemana pun kau mau. Aku tidak ingin kau ikut" Tolak Wira mentah-mentah.


"Iih kamu apaan sih Wir! Aku kan cuma mau ikut doang."


"Iya, tapi aku tidak ingin kau ikut. Mending ikut dengan Lukas saja" Wira tidak mau menjadi panjang berbicara sama Malika.


Dia pergi bersama Nayla menggunakan mobil yang sudah di siapkan Zack. "Mas kita mau kemana?" Nayla tidak tahu akan di bawa kemana.


"Kita akan bersenang-senang sayang" Wira tersenyum, dia menjalankan mobilnya.


Malika masih kesal karena Wira tidak mengajaknya. "Sudah mending kamu ikut sama aku saja, yukk!" Ajak Lukas yang sudah di tinggalkan Zack beberapa menit lalu.


"Ck, ya sudah. Ini karena terpaksa ya" Malika benar-benar wanita yang tinggi gengsi nya.


"Okay cantik"


"Apa sih, nggak usah lebay!" Malika akhirnya masuk ke dalam mobil bersama Lukas.