
Malika membawa sekotak berisi berkas-berkas yang kemarin ia kerjakan ke dalam ruangan Wira. "Maaf Bu, Presdir sedang sibuk." Ucap Nayla pada Malika di depan pintu.
"Kau nggak lihat aku sedang apa? Minggir!!" Malika menjawabnya dengan ketus.
"Maaf, tapi jika Bu Malika ingin mengantarkan berkas itu. Ibu bisa menitipkannya pada saya. Presdir sedang tidak ingin di ganggu." Nayla mencoba memberi tahu Malika, tapi wanita itu terlihat tidak suka.
"Heh, ku bilang minggir ya minggir!!"
Malika menerobos masuk ke dalam ruangan Wira, sempat pria itu memang mendengar sedikit kegaduhan di luar ruangannya.
"Ada apa? Kenapa kau masuk ke ruanganku?!" Ucap Wira dingin pada Malika. "Maaf Presdir, saya sudah melarangnya. Tapi Bu Malika tetap ingin masuk." Lapor Nayla merasa bersalah.
"Hm, baiklah." Wira menatap Nayla.
"Aku kesini untuk memberikan semua ini, kau keterlaluan Wira! Aku hampir saja mati di tempat mengerjakan semua ini." Malika mengeluh pada pria itu.
Dia duduk di sofa, lalu menyilangkan kakinya. "Kau, tolong buatkan aku minuman!" Pinta Malika pada Nayla yang masih berdiri di ruangan Wira.
Nayla menatap tidak percaya pada Malika, "Kau nggak dengar? Buatkan aku minuman jus orange sekarang juga!" Pinta Malika lagi dengan ketus.
"Dia bukan Asisten mu, jika kau ingin minum jus pergilah ke ruangan mu sendiri dan minta pada petugas lain!" Tolak Wira secara dingin.
Dia menyuruh Nayla keluar saja dari ruangannya melalui tatapan kode. Gadis itu pun keluar menuruti keinginan Wira.
"Sepertinya dia istimewa sekali, siapa dia sebenarnya?" Malika merasa curiga dengan sosok Nayla yang terlihat di manja oleh Wira.
"Bukan siapa-siapa! Kau tidak perlu tahu." Wira fokus dengan laptopnya. Dia mengacuhkan Malika yang duduk di sofa.
"Jika sudah selesai mengantar berkasnya, lebih baik kau kembali ke ruangan mu." Pinta Wira dengan datarnya.
Malika malah bersandar di sofa, dia menatap Wira dalam. "Wira, aku ingin kita makan siang bersama nanti." Wanita itu berharap bisa meluluhkan Wira.
"Tidak, aku sibuk."
"Selalu itu yang kamu katakan. Apa kamu tidak makan siang? Aku hanya mengajakmu makan siang saja." Malika jengah dengan sikap angkuh Wira padanya.
Tidak lama kemudian, Nayla kembali masuk ke ruangan Wira. Dia membawakan segelas orange juice untuk Malika.
"Permisi, ini jus orange nya Bu Malika."
Nayla meletakkan gelas itu di meja sofa. Wira menatap kekasihnya intens di balik kacamata yang ia gunakan.
"Ternyata kau cukup tahu diri untuk melakukan ini." Jawab Malika menarik sudut bibirnya.
"Lain kali kamu tidak perlu membuatkannya lagi." Tegur Wira menarik nafasnya dalam. "Baik Presdir, saya permisi dulu."
Nayla tidak ingin mencari masalah, di tambah dia sedang tidak punya tugas dari Wira. Jadi tidak ada masalah bagi nya untuk membuatkan minuman pada Malika.
"Huft, wanita itu terlihat angkuh sekali." Gumam Nayla duduk di kursi kerjanya lagi.
Sesekali Nayla menatap Wira dari balik celah kaca jendela ruangannya. "Zack, ke ruanganku sekarang!" Pinta Wira pada telepon di mejanya.
Tidak harus menunggu lama, Sekretaris Wira itu sudah sampai di sana. "Ada yang bisa saya bantu, Presdir?" Zack melirik ke arah Malika yang berduduk santai di sofa.
"Berikan dia tugas lagi, tolong kau periksa lagi tugas yang sudah dia kerjakan kemarin. Jika ada kesalahan, suruh dia memperbaikinya sampai benar!" Titah Wira pada Zack.
Pria yang menjabat sebagai Sekretaris itu mengerti. Dia langsung menghadap Malika. "Mari Bu Malika bisa ikut saya sekarang." Pinta Zack dengan datar.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku, Bu!"
"Baiklah, Malika kamu bisa ikut saya sekarang." Zack menghela nafasnya tertahan. Sepertinya dia harus ekstra sabar menghadapi tingkah Malika.
"Aku bisa ke ruanganku nanti. Kau tidak lihat aku sedang minum jus di sini." Malika menolak ajakan Zack
"Malika ini bukan cafe, kau bisa keluar sekarang! Aku tidak ingin ada yang mengganggu ku kerja." Wira menatap keduanya dengan tajam.
"Baiklah, okay aku keluar sekarang."
Dengan malas Malika berdiri dan keluar dari ruangan Wira bersama Zack. Dia menatap Nayla dengan tidak suka saat melewatinya.
Sore hari nya Nayla bertemu dengan Fatma dan Siska di depan lobi perusahaan. "Fatma.. Siska.." Panggil Nayla yang melihat mereka tengah duduk menunggu.
"Nayla.." Kedua temannya itu melambaikan tangan padanya.
"Ayo, kita cari makan!" Ajak Nayla pada keduanya.
"Gimana kalau kita makan sushi aja?" Usul Siska yang memang pecinta sushi. "Haduh nggak deh, bisa mual aku makan itu, Sis." Fatma menolak keras.
"Gimana kalau kita makan all you can eat, di mal XXX." Nayla melayangkan penawaran menarik. "Wah, ide bagus tuh. Boleh lah kita kesana yukk!" Akhirnya mereka setuju dan akan pergi ke sana.
Sebelum mereka bergegas, Irwan datang menyapa Nayla. "Hai Nay,, mau kemana?" Tanya Irwan tersenyum.
"Hai, aku mau makan bersama teman-temanku." Jawab Nayla biasa saja. Dia tidak ingin jika Wira melihatnya akan salah paham lagi.
Siska menarik-narik tangan Nayla di sampingnya. "Hum, Kak Irwan mau ikut?" Sebuah ajakan dari Siska membuat Fatma bahagia.
"Memangnya boleh?" Irwan seperti minta persetujuan dari Nayla. "Boleh saja dong." Jawab Siska dengan cepat.
"Baiklah, aku ikut dengan kalian." Irwan tersenyum puas. Tapi tidak dengan Nayla yang jadi terlihat kaku.
"Ayo Nay kita berangkat. Kamu bonceng aku saja" Ajak Fatma menarik tangan Nayla. "Iya baiklah."
Ke empatnya pergi bersama menggunakan speda motor. Siapa sangka, dari kejauhan Wira mengawasi Nayla dari dalam mobilnya.
Dia mengepalkan tangannya kuat, karena melihat Irwan pergi dengan Nayla dan teman-temannya.
"Jadi ini yang dia katakan makan bersama dengan teman-temannya!" Wira terlihat geram dan panas. Dia memutar stir mobilnya keluar dari gedung perusahaannya.
Pukul sembilan malam Nayla baru pulang ke apartemen Escala. Dia sama sekali tidak menghubungi Wira selama makan malam bersama temannya.
Ketika masuk ke ruang tengah, lampu yang terang mengejutkan Nayla karena ada sosok pria yang duduk memegangi gelas.
"M-mas Wira..."
"Hum, Mas Wira ada di sini?" Nayla sedikit gugup hadirnya Wira di Escala malam ini. Dia pikir kekasihnya akan pulang ke rumahnya sendiri.
"Bagaimana makan malam dengan teman-temanmu, apa seru?" Tanya Wira terkesan dingin berbicara pada Nayla.
Gadis itu menghampiri Wira dan duduk di sebelahnya. "Makan malamnya sudah selesai, sangat seru karena sudah lama aku tidak makan bersama mereka." Jawab Nayla yang di maksud adalah Fatma dan Siska.
Tapi berbeda dengan tanggapan Wira, yang mengira seru makan malam bersama Irwan juga.
"Ah, jadi begitu.." Wira mengangguk-angguk.
"Apa Mas sudah makan malam?" Tanya Nayla perhatian.
Wira meletakkan gelas yang ia pegang di atas meja berlapis kaca dengan kuat. Membuat hentakan gelas itu terdengar menyentak Nayla.
Nayla merasakan sedikit dingin udara malam ini. Jantungnya berdetak tidak karuan. Wira tiba-tiba mengungkungnya di atas sofa.
"M-mas apa yang kamu lakukan?" Nayla sedikit takut.
"Makan malam dengan temanmu sekaligus dengan pria itu sangatlah seru bukan?" Tatapan Wira begitu mengintimidasi gadis itu.
"M-maksud Mas Wira, Irwan? D-dia hanya ikut makan bersama karena di ajak oleh temanku." Pergelangan Nayla sudah di genggam kuat oleh Wira.
"Aku tidak suka membagi milikku dengan orang lain. Meskipun itu hanya sekedar makan bersama!!" Wira terlihat sangat marah sekali.
"A-apa Mas Wira marah? Aku minta maaf Mas__"
Wira sama sekali tidak memberikan Nayla kesempatan untuk bicara. Dia sudah membungkam mulut kekasihnya dengan bibirnya sendiri.
Nayla merasakan ciuman yang agresif dan menuntut dari Wira. Sampai-sampai dirinya tidak bisa mengimbangi nya.
"Mmhh...."
"M-mas___"
Tangan Wira melepas kemeja baju Nayla satu persatu tanpa melepaskan tautannya. "Kamu cuma milikku Nay!" Mata Wira sudah berkabut amarah dan hasrat.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan, agar Wira mau melepaskan dirinya. Tapi pria itu terus membuka pakaian Nayla.
Hingga bagian atas Nayla sudah polos. "Mas Wira jangan!!" Pinta Nayla melemah.
Wira langsung melahap kedua gundukkan kembar yang kenyal milik Nayla. Hal yang sudah membuatnya candu dan tidak bisa menahannya.
Tangan Nayla meremas sandaran sofa. Dia menahan suara agar tidak terlena dengan perlakuan Wira saat ini.
"Akh.."
Gadis itu merasakan sakit di bagian dadanya karena ulah Wira. Segera pria itu menggendong Nayla masuk ke dalam kamarnya.
Kamar Wira terlihat mewah dan simple, nuansa abu-abu dan putih temaram menghiasi kamarnya. Nayla di hempaskan di atas ranjang. Wira melepaskan pakaiannya segera. Lalu kembali menindih Nayla.
"Mas mau apa?"
Wira tidak menggubris perkataan Nayla, yang dia inginkan seperti menuntaskan kemarahannya pada gadis itu. "Aku tidak suka milikku jalan dengan pria lain!"
"Tapi aku tidak jalan berdua Mas. Aku bersama Fatma dan Siska__"
"Aaakhh..."
Pria itu kembali menyerang area sensitif Nayla. Nayla di buat menggeliat tidak karuan oleh Wira. "Mas.. Aahh__" Wira berhasil menyatukan dirinya dengan Nayla.
Dia menggagahi Nayla dengan tempo cepat dan sedikit kasar. "Ah,, hentikan Mas.."
"Tidak akan Nayla!" Wira terus menghentak-hentakan miliknya pada Nayla.
"S-sakit Mas.." Suara Nayla sudah melemah. Dia pasrah oleh perlakuan Wira malam ini. Tubuhnya terasa remuk di buat kekasihnya.