Love In November

Love In November
Tidak Ingin Melewatkan



Bab ini mengandung unsur kedewasaan, tolong bijak dalam membaca. Jika kalian merasa akan terbuai, mungkin kalian bisa skip bab ini. Terima kasih dan selamat membaca.


Keesokan harinya Wira, Zack, Lukas, Nayla dan juga Malika kembali bekerja di anak cabang perusahaan Wira yang ada di Jepang.


"Presdir, saya ingin melaporkan sesuatu" Ucap Zack pada Wira yang tengah mengobrol tentang pekerjaan dengan Lukas.


"Baiklah, kau boleh kembali lima belas menit lagi. Aku masih membahas project dengan Lukas" Jawab Wira yang memegang laptop di meja.


"Gue keluar dulu deh beli kopi. Lo ngobrol dulu saja sama Zack" Lukas merasa penat di kepalanya. Dia membutuhkan kopi untuk menjernihkan pikirannya.


"Baiklah, dua americano ya" Pinta Wira dengan suara khas nya yang dingin. "Okay" Lukas membentuk jari nya menjadi O dan keluar dari ruangan Wira.


Di sana ia bertemu dengan Malika yang sedang mengetik di laptopnya. Malika tidak punya ruangan di perusahaan cabang Jepang. Jadi ia mengerjakan tugasnya di depan ruangan Wira. Di sebuah meja bersama dengan Nayla yang mempunyai mejanya sendiri.


Lukas kembali mengingat kejadian semalam bersama Malika. Hingga pagi nya sebelum balik ke kamar mereka melakukannya lagi.


Pria itu tersenyum pada Malika ketika mau melewatinya. "Mau kopi?" Tawar Lukas berhenti di depannya.


"Tidak"


"Apa aku perlu membantu tugasmu?" Lukas menengok Malika dan Nayla juga tengah sibuk. "Tidak, ice americano sepertinya akan membantu." Malika cepat berubah pikiran.


"Baiklah, aku akan kembali"


Zack melaporkan sesuatu pada Wira. "Saya ingin melaporkan hasil pengintaian Presdir. Dari hasil penyelidikan, anak buah Roy mengatakan jika orang-orang yang mengikuti Presdir adalah orang suruhan dari Pak Ricky" Jelas Zack.


Roy adalah anak buah Zack yang di tugaskan mengintai setiap gerak-gerik orang yang telah membuntuti Wira saat itu.


"Aku sudah menduganya Zack. Kita biarkan saja mereka melakukan apa yang di suruh oleh Ricky. Terus awasi aku dari jauh. Cukup kerahkan pengawal motor dan mobil untuk berjaga setiap aku pergi. Suruh mereka memakai pakaian biasa agar tidak mencurigai. Aku akan terus mencari tahu apa alasan Ricky"


"Tapi apa itu tidak terlalu berbahaya Presdir?" Zack merasa khawatir pada Wira. "Tidak Zack, lakukan saja apa yang aku minta."


"Baik Presdir."


"Dan satu lagi Zack, jangan sampai Nayla tahu. Aku ingin kau terus mengawasi pergerakan Malika juga. Karena aku sebentar lagi akan menikahi Nayla. Aku tidak ingin ada kekacauan."


"Baik Presdir, benarkah Presdir akan menikah dengan Nayla?" Zack benar-benar terkejut dengan penjelasan dari Wira.


"Ya Zack, bantu aku menyiapkan pernikahanku nanti. Kau orang yang selalu ku percaya."


"Saya senang mendengarnya Presdir. Saya akan melakukan semua yang Presdir minta. Kalau begitu saya permisi"


"Hm, kerja bagus Zack. Aku akan mentransfer bonus bulan ini untuk mu."


"Terima kasih Presdir" Zack merasa senang dalam hatinya


Zack keluar dari ruangan Wira dengan perasaan bahagia. Bagaimana pun selama ini dia selalu menemani Wira dalam kesuksesan nya. Selama itu juga Zack tidak pernah melihat Wira berkencan.


Sebuah informasi yang baru saja di katakan Wira langsung, adalah kabar baik bagi dirinya. Dia turut senang sebagai Sekretaris nya selama ini.


Sudah satu minggu mereka menghabiskan waktunya di Jepang. Hari ini mereka berlima akan kembali ke Negara nya.


"Sayang, apa semua sudah siap?" Tanya Wira memeluk Nayla dari belakang. Gadis itu telah selesai membereskan baju-bajunya.


"Sudah Mas, aku sudah memeriksanya dua kali. Semoga tidak ada yang tertinggal" Nayla tersenyum manis padanya.


"Asal jangan dirimu yang tertinggal di sini" Hal itu mampu membuat Nayla tertawa kecil. "Bagaimana bisa aku tertinggal, aku akan menempel terus pada Mas" Nayla memegang kedua tangan Wira yang memeluknya dari belakang.


"Datang bulan mu sudah selesai kan sayang?" Tanya Wira membuat Nayla menegang.


"Mas, aku lupa kalau aku meninggalkan sesuatu di kamarku. Aku akan mengambilnya dulu" Nayla mencoba menghindari Wira dengan ide nya.


Nayla mencoba melepaskan tangan Wira. Tapi pria itu tidak melepaskannya, malah semakin mengeratkan pelukannya.


Bokong Nayla pun menempel pada milik Wira yang sudah mengeras. Nayla pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Seberapa pentingnya barangmu yang tertinggal di kamarmu sayang?" Wira menggoda Nayla dengan menciumi tengkuknya yang harum. Aroma melati kesukaan Nayla juga menjadi candu bagi Wira.


"M-mas..."


"Ada apa sayang?" Wira kembali menggoda, tangannya bahkan sudah bergerilya di dada padat milik Nayla.


"Ah, ini sangat pas di tanganku sayang. Tapi sepertinya belakangan ini menjadi lebih sedikit besar. Apa kau meminum sesuatu?" Tanya Wira mencium leher kekasihnya.


"Ti-tidak Mas. Aku hanya minum jamu racikan Ibu agar badanku tetap segar dan sehat"


"Benarkah?" Nayla mengangguk.


Ya, jamu racikan Luna memang sengaja di buat untuk Nayla. Namun jamu itu juga berkhasiat untuk menjaga badan Nayla tetap ramping dan kencang.


Wira sudah menurunkan resleting dress hitam Nayla yang berada di punggungnya. Dia sudah tidak tahan, entah kenapa otaknya tidak bisa menahan nafsunya ketika bersama Nayla.


"Sayang aku menginginkanmu" Tidak perlu menunggu jawaban dari Nayla. Wira sudah menurunkan dress hitam milik Nayla.


Terpampang lah punggung mulus milik Nayla yang putih dan bersih. Wira bersusah payah menelan saliva nya. Gairahnya sudah bergejolak dan membara.


"Nay, aku tidak bisa menahannya lagi." Wira membalikkan tubuh Nayla dan mencium bibir Nayla yang kemerahan alami itu.


"Mmhh... Mas"


"Mas hentikan, dua jam lagi kita akan pergi ke bandara." Nayla mencoba mengingatkan Wira bahwa sebentar lagi mereka harus pulang.


"Persetan dengan semuanya sayang!! Aku menginginkanmu" Wira mendorong tubuh Nayla yang sudah setengah telanjang ke atas ranjang.


"Ahh.."


Wira melepaskan bra hitam milik Nayla dan menghisap kuat dua bukit kembarnya. Di remas nya kuat dan membuat Nayla sedikit meringis.


"Akh,,,, S-sakit Mas"


"Maaf sayang, aku akan melakukannya dengan lembut." Ucap Wira kembali mencium bibir Nayla.


Dua jam adalah waktu yang berharga bagi Wira, dia tidak ingin melewatkan waktu yang tersisa bersama Nayla.


"Kemarin kamu menggodaku, sekarang kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan padaku kemarin, sayang"


Wira turun ke bagian bawah Nayla. Dia segera menjilat milik Nayla dengan penuh tekanan. Nayla sampang mengangkat dadanya dan tubuhnya ke atas.


"Akhh ampun Mas..." Teriak Nayla merasa tergelitik di sekujur tubuhnya.


"Aku tidak akan berhenti, kamu harus menerimanya sayang." Wira benar-benar akan menuntaskan hasratnya.


Dia mengambil alih dirinya setelah melepaskan pakaiannya. Mengarahkan tongkat sakitnya ke milik Nayla. "Hmmm..." Suara Nayla tertahan, wajahnya terangkat dan menatap Wira sayu.


"Kamu milikku sayang" Bisik Wira lalu memaju mundurkan miliknya dengan tempo cepat.


Miliknya sangat di jepit oleh Nayla. Rasa denyut begitu membuat Wira ingin lagi dan lagi. "Aahh Nay..."


"Mas pelan.." Nayla meremas sprei putih dengan kuat. Sesuatu akan keluar dari dirinya. "Mas aku____" Nayla tidak sanggup bicara lagi.


"Keluarkan sayang, ini yang aku mau!!" Wira terus mempercepat temponya.


Tubuh Nayla menegang, kakinya seperti kebas. "Aaakhhhh....." Akhirnya Nayla berhasil mengeluarkannya.


Wira mengecup dada Nayla, memberikan tanda merah di sana. "Mas,,,, beri aku jeda." Nayla bahkan sangat merasa lemas. Tapi Wira belum mencapai puncaknya.


"Maaf, tapi tidak akan sayang" Wira memutar tubuh Nayla memunggungi nya.


Nayla bertumpu di kedua lututnya. Kedua tangan Nayla di pegang ke belakang oleh Wira. "Mas kamu ingin apa?" Nayla merasa panik.


"Aku ingin mencobanya seperti ini sayang"


"Tapi Mas___"


"Aaakhh...." Belum selesai Nayla bicara, Wira sudah kembali memasukkan miliknya dari belakang.


Hal itu sedikit membuat Nayla menegang, tapi kenikmatan juga terus ia dapatkan. Wira merendahkan sedikit punggung Nayla.


Posisi Nayla saat ini menungging, Wira meremas dadanya dari belakang. "Ahhh Nay, kamu sangat nikmat" Wira menggigit bahu Nayla. "Aahh Mas.."


"Mas sudah, aku lelah.." Pinta Nayla agar Wira segera mengakhirinya. Wira membalikkan tubuh Nayla dan menggendongnya tanpa melepaskan penyatuannya.


"Mas apa yang kamu lakukan?!" Nayla dengan spontan melingkarkan tangannya di leher Wira.


Tidak di sangka, Wira memiliki hasrat yang begitu tinggi. Nayla sampai kewalahan dengan dirinya.


Nayla di tempelkan pada dinding, Wira menghisap kuat lagi bagian dada Nayla. Dia mempercepat temponya, dan mencapai puncaknya. Pria itu mencabut miliknya dan menumpahkannya di luar.


Lalu mengecup kening Nayla dan membawanya ke kamar mandi. "Kita mandi bersama. Terima kasih karena kamu tidak pernah menolakku" Wira memeluk Nayla dalam gendongannya.


"Aku ingin menolaknya, tapi Mas tidak akan menerima penolakan. Pada akhirnya akan berakhir seperti ini" Kesal Nayla pada Wira. Membuat pria itu tertawa melihat tingkah Nayla yang sudah mulai berani menjawabnya.


"Maafkan aku sayang.."


Mereka mandi bersama setelah melakukan kegiatan panasnya. Badan Nayla terasa remuk di buat Wira.


"Mas kaki ku rasanya tidak punya tenaga."


"Tidurlah, masih ada waktu setengah jam lagi. Nanti aku akan menggendong mu ke mobil" Jawab Wira setelah mengeringkan rambut Nayla yang basah.