Love In November

Love In November
Wira Marah



Hari ini Nayla berangkat dari Escala bersama Wira. Nayla membawa kotak bekal berisi sandwich dan juga kue yang ia buat semalam. Setelah pulang dari jepang dia rindu kue brownies bikinan nya sendiri. Maka itu Nayla membuatnya dengan penuh cinta.


"Mas, kamu mau ke rumah hari apa? Jadwal kamu masih sibuk minggu ini" Nayla bertanya pada kekasihnya yang sedang mengendarai mobil sportnya.


"Iya kamu benar, aku masih sibuk minggu ini. Bagaimana kalau minggu depan? Eh, tidak,,tidak. Itu terlalu lama. Yang benar minggu depan kita sudah harus menikah" Ucap Wira dengan rasa tidak sabarnya.


Nayla tertawa kecil. "Mas kita mau menikah bukan mau liburan. Apa bisa secepat itu persiapan kita untuk menikah?" Nayla agak meragukan persiapannya yang terlalu dekat.


"Sayang, kamu jangan meragukan aku dalam hal itu. Aku sudah menyuruh Zack untuk mempersiapkan pernikahan kita. Soal konsep pernikahan nya, nanti Zack akan konfirmasi sama kamu Nay"


"Jadi Zack sudah tahu Mas kalau kita pacaran saat ini?" Wira mengangguk. "Baru tahu kemarin saat di Jepang"


"Ah begitu.. Tapi tetap saja Mas, apa itu tidak terlalu kecepatan?"


"Jadi kamu mau menundanya sampai berapa lama lagi sayang?" Wira menatap Nayla cukup lama.


"Bukan, bukan begitu maksudku. Hum, baiklah aku terserah Mas saja." Nayla pasrah, berhadapan dengan Wira tentu dia salah. Karena Wira bukan orang sembarangan, sangat benar kalau dia bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan cepat.


"Kamu tenang saja sayang. Aku hanya tidak ingin menunda pernikahan kita lebih lama lagi. Kamu paham kan maksud ku" Nayla menangguk. "Iya Mas aku mengerti"


Saat jam makan siang Nayla janji bertemu dengan Fatma dan Siska di kantin perusahaan. Mereka makan siang bersama seperti biasa.


"Maaf ya Fat, Sis. Aku belum sempat mengundang kalian untuk barbeque. Kemarin aku ikut Mas Wira ke Jepang."


"Wuuhhh,,, ciee yang habis dari Jepang. Oleh-olehnya mana nih?" Tagih Fatma dengan wajah riang nya.


"Tenang, aku bawakan oleh-oleh untuk kalian. Ini untuk Siska, dan ini untuk kamu Fat" Nayla memberikan keduanya paperbag berisi oleh-oleh.


"Waah... Makasih ya Nay" Ucap Siska tersenyum. "Makasih ya Nay" Timpal Fatma juga. "Iya sama-sama." Nayla senang bisa memberikan temannya oleh-oleh dari Jepang.


"Ah iya, kamu kan masih punya hutang cerita sama kita Nay" Fatma mengingatkan kembali. "Iya aku nggak lupa kok. Nanti malam kalian mampir ya ke tempatku. Kalau kalian nggak sibuk" Ajak Nayla lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Yang benar nih?"


"Boleh lah, nanti malam aku nggak ada acara kok. Kita nanti malam ke tempat kamu. Kamu share location aja ya Nay" Jawab Siska, dan Fatma menyetujuinya.


"Beres"


Setelah makan siang, Nayla ingin sekali naik ke atap gedung Pranata Group. Dia ingin melihat bunga-bunga di atas sana.


Nayla memutuskan naik lift dan pergi ke atap gedung. Benar saja, begitu tiba matanya terasa segar di sambut bunga-bunga indah di sana.


Nampak sepi siang ini, nyaris tidak ada orang sama sekali di atas sana.


"Hm.. Indah sekali bunga-bunga di sini. Buat aku rindu untuk melihatnya lagi" Ucap Nayla menghirup salah satu bunga di sana.


"Sama! Aku juga rindu melihatnya lagi" Ucap seorang pria dari belakang.


"Irwan?" Ya, pria itu adalah Irwan.


"Hai, rupanya kamu di sini. Lagi suntuk ya?" Irwan menghampiri Nayla dan berhenti di depannya. "Nggak, aku cuma pingin lihat bunga-bunga ini saja." Nayla tersenyum kaku.


"Kamu suka bunga Nay? Aku bisa merangkai bunga kalau kamu mau." Tawar Irwan mengisi obrolannya.


"Hum, aku nggak pernah melihara bunga. Tapi aku senang saja melihat mereka-mereka. Cantik dan bikin nyaman saat di lihat"


"Iya kamu benar. Kayak kamu Nay" Irwan sedikit bengong menatap Nayla.


"Ya?"


"Eh, iya maksudnya kamu benar banget. Bunga-bunga ini sangat cantik." Jawab Irwan cepat, Nayla mengangguk dan mengitari bunga di sana.


"Yang itu namanya bunga Lily."


"Dia cantik" Jawab Nayla, lalu berpindah ke sebelahnya lagi.


"Indah sekali." Ucap Nayla.


"Ya kamu benar, butuh kesabaran untuk merawatnya. Bunga Peony tidak bisa sembarang untuk merawatnya. Mereka menguji setiap orang yang memeliharanya. Maka itu mereka memiliki arti cinta. Karena butuh cinta untuk memeliharanya."


"Ah jadi begitu. Berarti kamu hebat sekali bisa merawat mereka semua dan memeliharanya secara bersamaan."


"Bisa di bilang mereka sudah seperti keluargaku. Aku bersama mereka setiap hari. Dan mereka mempunyai sifat dan karakternya masing-masing. Hidup bersama bunga-bunga ini membuat aku lebih tahu banyak arti kehidupan."


"Kamu luar biasa, Irwan."


"Mereka membuatku sabar menunggu, melewati hari demi hari. Menanti sebuah harapan, dan yang pasti merawat mereka adalah sebuah waktu." Jelas Irwan penuh makna. Matanya menyiratkan sesuatu pada Nayla.


"Mendengar mu seperti itu, aku jadi tambah menyukai bunga-bunga di sini."


"Sering-seringlah kesini. Aku akan melihatkan ke kamu bagaimana cara merawat mereka." Ucap Irwan tersenyum.


Nayla menimang pikiran setelah Irwan berbicara seperti itu. Dia mengingat akan seseorang yang mencintainya.


"Hum, terima kasih. Aku harus kembali, permisi"


"Nay, tunggu!!" Irwan tiba-tiba menahan tangan Nayla yang hendak pergi.


Di saat itu juga Wira datang ke atap gedung. Dia biasa melihat bunga-bunga di sana saat rindu pada kedua orang tuanya.


"Nayla!!!"


"P-presdir?" Nayla terkejut, dia melepaskan tangannya dari genggaman Irwan.


"Ikut aku sekarang!!" Wira merasa hatinya panas, dia menarik tangan Nayla dan membawanya pergi. Dan menatap tidak suka pada Irwan. "Mas__"


Wira terus menggenggam tangan Nayla dengan erat. Hingga gadis itu sedikit kesakitan. Bahkan di dalam lift raut wajah Wira sudah terlihat dingin sekali.


"Mas kamu marah padaku?" Wira tetap diam saja.


Pria itu menarik tangan Nayla hingga ke dalam ruang kerjanya. "Jadi habis ngapain kamu di atas sama pria itu Nayla?!!" Wira sepertinya marah besar.


Nayla sampai tersentak dengar Wira marah. "A-aku tadi cuma mampir sebentar Mas ke atas." Jawabnya sedikit takut.


"Kamu mau ketemu sama dia?!! Jawab aku Nay!!" Wira benar-benar marah melihat Nayla dengan Irwan tadi.


"Nggak Mas, aku ke atap cuma ingin lihat bunga-bunga di sana dan kebetulan ada dia."


"Lantas kenapa dia memegang tangan kamu Nayla?!" Wira mendekat pada Nayla. Nafasnya bahkan sudah memburu.


"A-aku juga nggak tahu Mas. Tadi tiba-tiba dia pegang tanganku." Nayla menunduk tidak berani menatap Wira yang sedang marah.


"Tatap aku Nay!!"


Nayla menggeleng pelan. "Tatap!!" Akhirnya Nayla memberanikan diri menatap Wira dengan mata sendu nya.


"Aku paling tidak suka wanitaku bersama pria lain, mau itu di sengaja atau tidak di sengaja. Aku tetap tidak suka!! Apa lagi kamu tadi hanya berdua saja di sana. Kamu sengaja Nay?" Wira masih di selimuti amarahnya.


"Mas, apa yang kamu lihat tadi itu__"


Wira memegang rahang Nayla dengan cukup menekan. "Aku tetap tidak suka!!!" Wira langsung menyambar bibir ranum milik Nayla dengan ganasnya.


Menggigit kecil hingga Wira bisa bebas mengakses lidah Nayla dengan membelitnya.


"Mmmmpp.."


Nayla mendorong dada Wira agar pria itu mau melepaskannya. Ciuman itu begitu agresif dan menuntut.