Love In November

Love In November
Kamu Sengaja Ya?!



Nayla masuk ke dalam kamarnya setelah menceritakan tentang hubungannya dengan Wira pada keluarganya.


Dia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. "Halo Mas" Nayla menelpon Wira malam hari ini di kamarnya.


"Halo Nay.. Bagaimana, apa kamu sudah bilang pada keluargamu?" Tanya Wira yang juga tengah berada di dalam kamarnya.


"Mas, kamu lagi di mana?"


"Aku sedang di kamar, ada apa?"


"Hum, tidak. Aku hanya mendengar suara hujan. Apa Mas sudah makan?" Nayla mengerti kalau suara hujan yang ia dengar adalah suara hujan buatan yang biasa Wira nyalakan di kamarnya.


"Sudah, aku sudah makan tadi. Kamu?"


"Hum, aku sudah makan Mas. Aku juga sudah cerita pada keluargaku." Wira menaikkan satu alisnya sambil penasaran.


"Lalu mereka bilang apa? Apa mereka marah padamu?"


"Tidak Mas, kamu nggak perlu khawatir. Aku akan ceritakan pada Mas besok. Malam ini aku tidur di rumah ya Mas"


"Baiklah, aku menunggu cerita mu besok. Iya sayang aku mengerti, aku juga pulang ke rumahku sore tadi" Jawab Wira membuat gadis itu tersenyum sendiri.


"Iya Mas terima kasih. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya"


"Iya sayang, kamu tidur lah.. Selamat malam"


"Iya Mas kamu juga ya, selamat malam" Jawab Nayla bahagia. Dia menutup panggilan teleponnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Ya Tuhan, aku tidak menyangka aku bisa berpacaran dengannya" Gumam Nayla menatap langit-langit kamarnya.


Keesokan harinya Nayla sudah rapi dengan pakaian kantornya. "Kamu sudah mau berangkat Nay?" Tanya Luna yang sedang menyusun piring di meja ruang tv.


"Iya Bu"


"Kamu sarapan dulu ya"


Nayla mengangguk, ia lalu duduk di kursi sederhana dalam ruangan itu. "Ayah mana Bu?" Nayla celingukan mencari Frans.


"Ayah kamu sedang jalan santai keliling kampung. Katanya biar badannya semakin sehat" Luna ikut duduk di samping Nayla.


"Bilang sama Ayah jangan terlalu capek Bu. Banyakin istirahat dulu, kan Ayah baru saja sembuh" Nayla mulai menyuap nasi goreng yang di masak Luna. "Hmmm,,, ini enak sekali. Aku sangat rindu masakan Ibu" Puji Nayla membuat Luna tersenyum bahagia.


"Iya Nay.. Oh ya Nay, hutang Ayah kamu kan sudah di bayar sama Nak Wira. Rencana nya Ibu sama Ayah mau ketemu sama dia. Apa kamu bisa membantu Ibu Nay?"


"Iya Bu, nanti Nay bicarakan sama Mas Wira."


"Iya nanti kamu tolong sampaikan ya, dia pasti sangat sibuk. Kalau ada waktu senggang Ibu mau ketemu ya Nak. Ayah sama Ibu mau mengucapkan terima kasih langsung." Ucap Luna sambil menuangkan air ke dalam gelas.


"Iya Bu. Nanti Nay kabari ya"


Nayla sudah menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya. Lalu ia meminum air putih yang ada di atas meja. "Bu, Nay nanti nggak pulang ke rumah ya.. Nay pulang ke Escala" Izin Nayla pada Luna.


"Maksud kamu apartemen milik Nak Wira yang kamu ceritakan semalam itu?" Nayla mengangguk.


"Memangnya kenapa kamu nggak pulang ke rumah saja Nay?"


"Mau nya gitu Bu, tapi di Escala benar-benar dekat dari kantor. Lima belas menit saja sampai. Kalau dari rumah ke kantor butuh waktu satu setengah jam Bu." Jelas Nayla yang masih belum di mengerti Luna.


"Iya tapi kan setidaknya kamu pulang ke rumah kamu sendiri Nay"


"Nay akan pulang ke rumah setiap akhir pekan Bu, setiap hari kerja Nay akan tinggal di Escala. Maafkan Nayla ya Bu. Tapi Mas Wira sudah menyediakan itu semua, awalnya Nay juga memikirkan dulu kok Bu. Baru Nayla setuju setelah mempertimbangkan jaraknya yang lumayan dekat dari kantor." Jelas Nayla lagi agar Luna bisa memahaminya.


"Ya sudah kalau gitu, jaga diri kamu baik-baik di sana ya. Jangan telat makan, dan selalu kabari Ibu dan Ayah"


"Iya Nay, kamu hati-hati ya. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut"


"Baik Bu"


Nayla menyalakan mobil mini cooper merahnya di halaman rumah. Dia melambaikan tangan pada Luna lalu pergi ke kantor Pranata Group.


Tiba di parkiran basement kantor, Malika yang baru juga datang melihat Nayla turun dari mobil mewahnya. Mata wanita itu menyipit dan menatap tidak suka pada Nayla.


"Sialan, pasti mobil itu dari Wira!!" Geram Malika menebak mobil mini cooper itu dari Wira.


"Awas kamu cewek kampungan!!" Malika mengepalkan tangannya lalu turun dari mobilnya.


Nayla melihat ruangan Wira masih kosong, dia lalu masuk ke dalam ruangan itu, memeriksanya apa sudah rapi atau belum. Setelah di pastikan semuanya rapi, Nayla bergegas untuk keluar tapi Wira sudah masuk ke ruangannya membuat kekasihnya terkejut.


"Astaga!!"


"Hei, kenapa kaget begitu?" Wira memegang kedua bahu Nayla. "Mas, kamu membuatku terkejut" Nayla menghela nafasnya pelan.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut"


Wira merasa rindu dengan Nayla, dia mencium bibir kekasihnya sekilas. "Mas Wira ini di kantor."


"Hm, ya aku tahu. Tapi ini ruanganku" Jawab Wira santai tersenyum di hadapan Nayla. Gadis itu terkekeh melihat tingkah Wira. "Presdir mau aku buatkan teh atau kopi?" Tanya Nayla sengaja menggoda Wira.


Menaruh tangannya di dada kekar Wira. Pria itu menelan saliva nya, mengatur nafas karena tahu Nayla tengah memancingnya.


"Kalau aku mau kamu bagaimana?" Wira mengedipkan sebelah matanya.


"Tapi aku menawari Presdir kopi atau teh?" Jemari Nayla mulai nakal di dada Wira. Pria itu langsung menangkap tangan Nayla.


"Aku suka yang begini. Bagaimana kalau kita olahraga pagi di kamar sana?" Wira menatap dalam wajah Nayla yang tersenyum padanya.


Ada sesuatu di bawah sana yang sudah terpancing dan terasa sesak akibat ulah Nayla. Gadis itu mendekat pada Wira, dia membisikkan sesuatu tepat di telinga Wira.


"Sayang sekali Presdir, aku sedang datang bulan" Nayla terkekeh geli, Wira serasa di kecewakan. Gairah yang sudah terpancing kini harus ia pendam.


"Nay, kamu sengaja ya?!" Wira merasa di permainkan. Dia menyudutkan Nayla di dinding sambil tersenyum.


"Iya maaf Mas, maaf.." Tangan Wira menggelitik tubuh Nayla hingga gadis itu kegelian. "Ampun Mas ampun.." Rasanya sudah tidak tahan lagi Nayla.


"Aku akan membalas mu nanti" Bisik Wira di telinga Nayla. Nayla tertawa kecil di pagi ini. "He he sudah Mas sudah, aku akan membuatkan kamu teh." Nayla membenarkan bajunya.


"Hm, terima kasih sayang" Wira mengecup kening Nayla dengan mesra.


Gadis itu pun tersenyum, lalu keluar dari ruangan Wira untuk membuatkan teh di pantry. Di sana ternyata ada Zack yang sedang membuat kopi.


"Zack, kamu sedang buat apa?"


"Eh, Nay. Aku sedang buat kopi"


Nayla mengambil cangkir khusus Wira di dalam lemari. "Hum, mau cookies ini nggak Zack?" Tawar Nayla mengeluarkan cookies coklat dari dalam lemari.


"Milik siapa itu?" Tanya Zack hati-hati, dia tidak mau sampai memakan milik Wira.


"Ah, ini aku beli kemarin. Sengaja aku taruh sini, ini kamu cobain" Nayla memberikan dua cookies yang masih terbungkus kotak.


"Baiklah terima kasih"


"Hum, sama-sama."


"Aku duluan" Ucap Zack membawa kopi dan cookies nya di nampan kecil. Nayla mengangguk dan melanjutkan membuat teh untuk Wira.