Loser's Dream

Loser's Dream
AKU TAU SIAPA DIRIMU



Aku bertemu dengan Ezeo saat masih mencari yang lain, Ezeo rupanya juga habis dari toilet, kami berdua akhirnya pergi bersama.


yang lain ternyata sudah masuk, aku merasakan kapal pesiarnya bergerak. "kemana saja kau?, padahal aku menyuruhmu menunggu" ucap Eugene.


"maaf... tadi aku harus ke toilet terlebih dahulu" aku tersenyum.


"kau menemukan mereka kan?" Eugene tersenyum licik.


aku tersenyum tipis sambil menggaruk kepala, "lagi-lagi kau langsung menyimpulkan dengan benar" ya... tidak heran, dia adalah si jenius Eugene.


"mereka berdua diikat, sepertinya mereka tidak sadarkan diri" ucapku.


"kenapa kita tidak langsung menyelamatkan mereka saja?!!" Lingga kelihatan sudah bosan di tempat ini.


"dasar payah, ditempat ini bukan hanya ada mafia atau pengusaha-pengusaha jahat saja, beberapa anggota decay bisa jadi ada disini. tidak!, bahkan bisa jadi 90 persen orang yang ada disini adalah anggota decay" ucap Diana.


"Diana benar, jika kita gegabah, kita bisa terbunuh" ucap Dimas.


"arghh membosankan!" Lingga terlihat kesal dan mengacak-acak rambutnya.


"aku juga bosan..." ucap Ezeo.


kami saat ini berada ditengah kapal, sedang menunggu acara lelangnya dimulai.


tak lama setelah aku berkumpul dengan yang lain, seorang pria naik keatas panggung, dan akhirnya lelang dimulai.


"menangkan lelang, sebisa mungkin jangan sampai ada pertempuran" itulah yang dikatakan Eugene tadi sore.


lelang dimulai, barang yang pertamakali di lelang adalah sebuah patung, nama patung itu "L'Homme au doigt". mereka menawarkan harga yang sangat tinggi, hingga akhirnya patung itu terjual seharga 1,8 triliun.


"si-sial, barang pertama saja terjual dengan harga yang tidak masuk akal" aku sampai tercengang.


pemenang lelang yang pertama adalah pria tinggi dengan rambut berwarna pirang.


selanjutnya adalah sebuah lukisan bernama salvator Mundi, dan harga yang berhasil membuat palu diketuk adalah 6,4 triliun. ini semakin tidak masuk akal, sangat gila.


pemenang lelang kedua ini adalah wanita yang sepertinya berasal dari Itali.


***


"sekarang... kita masuk ke acara inti, kami akan menawarkan dua orang wanita dengan kemampuan yang unik. wanita pertama bernama Fiona, gadis cantik dan lugu, siapa pria yang tidak terpesona dengan keluguan nya?" ucap pria pembawa acara.


Fiona naik keatas panggung, dengan kondisi tubuh terikat. dia terlihat sangat lemas, entah apa saja yang sudah dialaminya.


"yang kedua, namanya Irina. gadis berkacamata dengan wajah polos, tapi sebenarnya sangat berbahaya. bayangkan dengan wajah polosnya dia melakukan hal yang membuat jantung kalian terasa berhenti berdetak" ucap pembawa acara.


semuanya terpesona melihat Irina dan Fiona, mereka berdua dilelang bersama, jadi tidak bisa hanya membeli satu dari mereka.


"SIAL!" Rei terlihat sangat geram.


"sabarlah Rei" ucap Eugene tanpa tersenyum.


"Fiona ku, tatapannya terlihat sangat kosong, aku akan membuat mereka membayarnya" Rei kelihatan akan mengamuk.


"baiklah, kami membuka harga dari 100 juta" ucap pria pembawa acara.


seorang gadis langsung mengangkat tangannya, "200 juta" ucap gadis itu, dia gadis yang bertabrakan denganku tadi.


"500 juta" ucap pria berambut emas.


"1 miliar" ucap Eugene.


gadis itu mengangkat tangannya lagi, "1,5 miliar" ucap gadis itu.


"4 miliar" ucap pria berambut emas.


"10 miliar" seorang pria dengan tubuh gemuk tiba-tiba menaikan tawaran.


"11 miliar" ucap pria berambut emas.


aku sempat bingung, karna Eugene diam saja. "apa kau tidak ingin menaikan tawarannya?" tanyaku.


dia malah mengeluarkan senyum liciknya, "diam... dan amati"


"30 miliar" pria bertubuh gemuk menaikan tawarannya lagi.


"50 miliar" pria berambut emas tidak mau kalah.


gadis itu tiba-tiba menghela nafas panjang, "10 triliun" palu langsung diketuk.


semua orang yang ada disana kaget, bahkan termasuk kami kecuali Eugene.


"HEI KENAPA KAU TIDAK MENAIKAN TAWARANNYA?!!" Lingga benar-benar emosi.


"ayolah Eugene, ada apa denganmu?!!" Rei mencengkeram kerah baju Eugene.


"apa misi ini sia-sia?" tanya Diana.


"tenang saja... semuanya baru dimulai sekarang" Eugene tersenyum.


suasana jadi hening, aku merasa orang-orang yang kalah untuk mendapatkan Fiona dan Irina sangat marah. tatapan mereka pada wanita yang memenangkan lelang itu, sangat tajam.


"tunggu...." Eugene tiba-tiba mengangkat tangannya.


"apa 10 triliun cukup untuk mendapatkan mereka?" entah apa yang Eugene pikirkan.


"tentu saja, buktinya tidak ada yang memberikan harga lebih tinggi" ucap pria pembawa acara.


"apa maksudmu?, saat aku ingin menaikan harganya kau malah langsung mengetuk palu nya" ucap Eugene.


"memang kau berani menaikan harga berapa?" tanya pria pembawa acara.


"cek cek... apa 100 triliun cukup?" semua orang terlihat lebih terkejut dari sebelumnya.


si pembawa acara terjatuh saking kagetnya, "he-hei... apa kau serius?" tanya pembawa acara.


"apa mataku menampakkan kebohongan?" ucap Eugene polos.


Si pembawa acara berdiri, dia merebut palu ditangan Eugene, "maaf nona... tapi sepertinya pria ini yang akan jadi pemenangnya" palu diketuk untuk kedua kalinya.


***


kami memenangkan lelangnya, tapi Rei kelihatan bingung, "ada apa Rei?" tanyaku.


"Agam memang orang yang kaya, tapi kekayaannya tidak sebanyak itu. aku tahu karna aku sudah membantu beberapa bisnisnya, jika dijumlah, kekayaannya mungkin hanya sampai 2,5 triliun saja" Rei tercengang. "sial... bagaimana caranya membayar"


Eugene tersenyum dan melambaikan tangan diatas panggung, dia seperti orang bodoh, "jadi aku pemenangnya ya!, hehehe" orang-orang sampai kebingungan melihatnya.


"apa pria itu gila?"


"sepertinya dia kehilangan akal sehat"


"tapi apa serius dia akan membeli dengan harga 100 triliun?"


orang-orang sangat meragukan Eugene, ya... itu wajar, karna kami temannya juga meragukannya saat ini.


pria berambut pirang ikut naik keatas panggung, "kau Edward Eugene bukan, bagaimana penyusup seperti ini bisa masuk?" ucap pria berambut pirang itu.


"apa maksudmu?" Eugene tersenyum.


dua orang pria bertubuh besar tiba-tiba lari keatas panggung, mereka berniat menangkap Eugene.


Eugene melompat dan menjaga jarak dari mereka, "sial... bagaimana kalian bisa tahu?" dia bahkan masih bisa tersenyum.


"EDWARD EUGENE?!!!, KENAPA PRIA SEPERTI ITU BISA ADA DISINI?" seorang pria terlihat panik.


"CEPAT TANGKAP DIA!" ucap pembawa acara.


mereka mengeluarkan senjata api, mau tidak mau kami harus bertarung.


pria berambut pirang itu kali ini menghampiri kami, dia menunjuk kami semua satu persatu, "kalian... Rivaldi bersaudara, lalu yang pendek ini bocah terkuat, Ezeo. lalu kau, namamu Lingga ya, dan kau... adalah Dimas ya, keren, bagaimana evening sun bisa ada disini?" dia tersenyum pada kami.


"siapa pria ini" Diana terlihat khawatir.


keadaan sudah sangat kacau, ada banyak orang yang mengambil kesempatan dalam situasi ini. disaat kebanyakan orang disini berusaha menangkap Eugene, ada beberapa orang yang mencoba mencuri lukisan dan patung yang dilelang tadi.


baku hantam terjadi untuk memperebutkan barang itu. sementara gadis yang tadi aku tabrak, dia mencoba untuk kabur dengan Fiona dan Irina.


sementara Ezeo, Rei, Diana, Dimas dan Lingga berusaha membantu Eugene, aku langsung berlari untuk menyelamatkan Irina dan Fiona.


aku melompat dan berdiri dihadapan gadis itu, "berhenti!, aku tidak akan membiarkanmu membawa mereka!" aku melepas jas, kemudian melipat lengan kemejaku.


gadis itu hanya diam, dia kemudian menggenggam tangannya. sebuah lingkaran sihir muncul di depanku, sontak aku melompat mundur, dan tanpa sadar aku mengeluarkan devil glove.


tapi lingkaran sihir itu terlihat tidak asing, hingga muncul sesuatu dari dalam sana, ternyata itu adalah Dewi perang.


aku langsung membuka topengku, "Freya?, bagaimana kamu bisa ada disini?" aku bingung.


"lho... Agi?, kenapa kamu ada disini?" gadis itu ternyata Freya, dan dia malah bertanya balik.


"aku ada urusan disini" jawabku.


"tunggu... jadi kamu tahu kalau Fiona dan Irina ada disini?, dan kamu mau menyelamatkan mereka tanpa memberitahu aku?" Freya kelihatan marah.


"a-apa maksudmu?, sudahlah, mari kuantar keluar, disini sangat berbahaya" aku memapah Irina, sementara Freya memapah Fiona.


saat kami sudah dekat dengan pintu keluar, pria berambut pirang menghalangi jalan kami, "wah... bahkan seorang idol ada disini" dia tersenyum.


mata pria itu menyala, seperti sedang menganalisa sesuatu, sejak tadi matanya yang berwarna biru selalu menyala, sebelum dia berbicara.


"Freya Fortuna, usia 15 tahun, tinggi 155 cm, berat badan 45, serta special ability yang dapat memanggil Dewi perang. ability yang sangat kuat, tapi... kenapa bisa ada pada gadis lemah sepertimu?" dia membelai rambut Freya.


aku menghentikan tangannya, "kumohon... jaga sikapmu!"


saat aku menyentuh tangannya, cahaya di matanya redup, rupanya mata miliknya berwarna hitam, sama sepertiku. tapi entah mengapa bisa berubah menjadi biru, lalu bercahaya. kemungkinan itu adalah special ability.


"apa ini?, aku tidak dapat menggunakan ability ku" pria berambut pirang itu kebingungan.


dia menatap wajahku, lalu tertawa, "wah... jadi itu kau ya?, Agi?" dia mengenalku.


"bagaimana kau tahu?" tanyaku.


dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, dia membisikan sesuatu kepadaku, "bagaimana mungkin aku tidak mengenal seseorang yang membuat decay waspada?"


mendengar kata "decay", tanpa sadar aku mundur selangkah, lalu bersiap dengan kuda-kuda ku. aku memasuki mode siap bertempur, entah mengapa sekujur tubuhku jadi sangat waspada.


"maaf... tapi tuanku tidak memperbolehkan ku pulang, tanpa membawa mereka berdua" pria itu menunjuk Irina dan Fiona.


Freya dan Dewi perang berdiri di depan Irina dan Fiona, Dewi perang juga sudah mengeluarkan pedangnya, dia juga sudah siap bertarung.


"maaf juga, karna aku akan melindungi mereka kali ini" ucap Freya tegas.


Pria itu membuka topengnya, "hahaha, sepertinya aku harus bertarung dengan kalian. kalau begitu, sebelum kIta bertarung, izinkan aku memperkenalkan diri" pria itu malah tersenyum. "namaku Evan, dan aku... tahu siapa dirimu"


sementara itu dari pintu lain, masuk pria yang aku temui di ruang bawah kapal tadi. pria itu langsung memukul orang-orang yang mencoba untuk mencuri lukisan dan patung yang dilelang.


orang yang ia pukul semuanya terpental hingga membentur tembok kapal, jika saja tidak ada tembok disana, mungkin mereka akan terpental lebih jauh.


"siapapun yang menyentuh kedua barang ini, akan ku bunuh!" ucap pria itu.


bersambung....