Loser's Dream

Loser's Dream
ENERGI YANG DISEBUT "BERKAH TUHAN"



Kami sampai di panti asuhan itu, tapi aku tidak melihat Dariel dimana pun. berkali-kali aku memanggilnya, aku juga sudah masuk kedalam panti yang hampir roboh itu, aku sama sekali tidak menemukannya. hingga seorang pria tua menghampiri kami, sepertinya pria itu baru pulang dari pasar.


“kalian mencari Dariel?, tadi aku melihat dia sedang bekerja di pasar” ucap pria itu.


“begitu ya... terima kasih pak” ucapku menganggukkan kepala tersenyum.


bapak itu membalas tersenyum kemudian pergi, kami bertiga akhirnya mencoba menghampiri Dariel di pasar.


***


baru saja kami sampai di pasar, tapi sepertinya sudah ada keributan, semua orang disana melingkar seperti sedang melihat sesuatu, mereka seperti semut yang sedang mengerubungi permen. kami segera menghampiri karna penasaran, aku menyerobot dan berusaha masuk, aku ingin tahu hal apa yang sedang mereka tonton. saat berhasil masuk kedalam gerombolan orang, aku melihat Dariel yang sedang dipukuli, kali ini oleh enam orang, empat lainnya adalah yang memukulinya kemarin.


baru saja aku ingin melompat dan membantu Dariel, tiba-tiba saja Eugene menerjang dari dalam kerumunan, dia langsung menendang wajah salah satu preman itu sambil tersenyum, “kakiku bau atau tidak?” bahkan dia sempat meledek saat menendang.


“kalian berdua diam dan amati saja!" ucap Eugene berteriak.


aku dan Agatha menurutinya, seketika Eugene melompat dan melakukan spinning back kick, dia terlihat seperti sedang berdansa dengan para preman itu, dia menghajar mereka.


salah satu preman mengeluarkan pisau, lalu dia mencoba menikam Eugene, “kau... mati kau!" temannya yang lain juga melakukan hal yang sama.


saat melihat Eugene diserang bersamaan, tiba-tiba kaki kananku maju satu langkah, aku reflek ingin maju membantunya, tapi dia berteriak lagi, “jangan ikut campur, aku sedang bersenang-senang!” akhirnya aku memutuskan untuk tetap diam dan menonton.


gaya bertarung Eugene berubah, kini dia terlihat seperti orang yang sedang melakukan breakdance, “gerakan apa yang dilakukan Eugene?” sontak aku bertanya pada Agatha, “itu adalah Capoeira” begitulah jawab Agatha.


tak butuh waktu lama, Eugene mengalahkan keenam preman itu, mereka lari sambil terpincang-pincang. Agatha dan aku segera menghampiri Dariel, sepertinya dia pingsan, akhirnya kami memutuskan membawanya ke villa.


***


sesampainya di villa, aku dan Agatha membawanya ke kamarku, sementara itu Eugene pergi membuatkan teh. setengah jam lebih kemi mencoba menyadarkan nya dengan memijat kepala dan kakinya, lalu memberikannya minyak angin, tapi dia belum sadar juga.


Eugene pergi keluar, sudah satu jam menunggu, dia masih belum sadar.


“bagaimana? dia belum sadar juga?” tanya Eugene masuk ke kamarku.


“belum” jawab Agatha singkat.


“bahkan teh yang ku buat sudah dingin” ucap Eugene tersenyum.


keadaan menjadi hening beberapa saat, sampai tangan Dariel bergerak. kemudian dia membuka matanya, lalu tiba-tiba air mata keluar dari matanya, aku bingung dan sempat menanyakan apa yang dia rasakan, mungkin saja dia menangis karna tubuhnya kesakitan.


tapi dia menjawab “tidak, ini lebih sakit dari luka ditubuh ku” air matanya mengalir semakin banyak.


“apa yang kau rasakan?” tanya Eugene tersenyum mengelus punggung Dariel.


“bapak panti dan seluruh temanku, aku bermimpi membunuh mereka semua” ucap Dariel sesegukan.


“tenanglah, mungkin itu hanya mimpi buruk” ucap Agatha menenangkan.


Dariel menghapus air matanya sambil berkata, “kakak benar, mungkin saja itu hanya imajinasi ku”.


Eugene memberikannya makanan, aku membantunya duduk, lalu dia makan, sepertinya dia sangat kelaparan, makan nya sangat lahap.


“malam ini kau tidur disini saja, aku takut preman-preman itu mendatangi tempatmu“ ucap Agatha khawatir.


“tidak apa-apa, aku akan tidur di panti, aku takut jika yang lain pulang dan aku tidak ada disana, mereka bisa khawatir” jawab Dariel tersenyum.


“kau suka bekerja di pasar kan?, jadi kuli panggul?" tanya Eugene.


“iya!” Dariel menjawab singkat kemudian lanjut menyantap makanannya.


“kalai begitu... bagaimana jika mulai besok kau bekerja disini?, jadi kau tidak perlu jadi kuli panggul pasar lagi” tanya Eugene tersenyum.


“benarkah?!!, mau!, aku mau!" jawab Dariel antusias.


“ya... pekerjaan mu hanya membersihkan villa dan membantu membawa belanjaan yang lain, saat mereka sedang piket” ucap Eugene. “singkatnya kau membantu piket disini”


“baiklah!, besok pagi-pagi sekali aku akan datang kesini!” Dariel menganggukkan kepalanya.


“apa komandan akan mengizinkannya?” tanya Agatha.


“tenang saja, komandan selalu menuruti kemauan ku sejak dulu” Eugene mengacungkan jempol sambil tersenyum.


karna sudah malam, Agatha kembali ke kamarnya, yang lain juga sudah kembali ke kamar. Isla, Rize, dan Lingga awalnya bingung, saat melihat ada bocah yang sedang makan di kasurku.


tapi mereka hanya sekedar bertanya “siapa anak itu?” pada Eugene, kemudian naik ke kasur masing-masing menghiraukan kami, lalu beberapa menit kemudian mereka tidur, mereka sangat lelah.


***


Aku dan Eugene mengantar Dariel ke panti setelah dia selesai makan, dia bilang ingin segera pulang setelah makan. sepertinya dia merasa sudah merepotkan kami, dia juga berterimakasih karna hal itu.


sebelum pulang ke villa, Eugene mengajakku berkeliling ke pasar, dia bilang ingin membeli camilan.


“bocah itu sangat menarik” ucap Eugene tersenyum.


“kau tidak jadi menanyakan informasi tentang suzaku padanya?” tanyaku.


“tidak perlu, aku sudah tidak membutuhkan informasi apapun lagi” jawab Eugene tersenyum.


Eugene membeli banyak camilan di pasar, aku yang kesulitan karna harus membawanya, sedangkan dia dengan wajah polos sambil tersenyum, menikmati es krim di perjalanan, membiarkan aku kesulitan membawa belanjaannya.


ya... itu hal yang biasa semenjak aku mengikuti Eugene, dia selalu memperlakukan ku seperti pembantu saat sedang belanja.


“ngomong-ngomong... kau bisa merasakan ability di tubuh seseorang, apa kau juga bisa merasakan iblis di tubuh seseorang?” tanya Eugene menikmati es krim nya.


“tidak... aku tidak bisa merasakannya” jawabku.


“begitu ya” Eugene kemudian menoleh ke arahku, ”lebih tepatnya kau belum bisa merasakannya” kemudian ia tersenyum.


“belum bisa?” aku kebingungan.


“ya... nanti kau akan tahu sendiri” ucap Eugene tersenyum. “oh ya... besok pelatihan mu denganku akan dimulai, jadi istirahat yang baik malam ini”


***


pagi telah tiba, seperti kemarin, kami semua memulai hari dengan lari pagi. setelah selesai lari pagi, rupanya Dariel sudah berada di villa, dia membantu anggota yang kebagian jatah piket saat itu.


aku sebenarnya ingin cepat-cepat mandi, keringat di sekujur tubuhku membuatku gatal, aku merasa tidak nyaman. karna kamar mandinya penuh, yang lain sedang antri, dan aku dapat antrian paling terakhir, mau tidak mau aku harus menunggu lama.


karna bosan, aku pergi ke dapur berniat untuk membantu, aku lihat Dariel sedang membantu Agatha dan yang lainnya untuk menyiapkan sarapan. dari jauh aku menyapa dan langsung menghampiri mereka.


“sudah matang ya?” aku tersenyum melihat-lihat kearah banyaknya makanan.


“begitulah” jawab Agatha singkat.


“halo Dariel, bagaimana? sepertinya kau kelihatan sangat sibuk" aku basa-basi menyapa Dariel.


“ya!, tapi ini sangat menyenangkan!. oh ya... kak Agatha tadi memasakkan sesuatu khusus untukmu” ucap Dariel tersenyum.


aku menoleh kearah Agatha “benarkah? apa itu?” aku benar-benar penasaran, apa yang ia buat untukku, kebetulan aku sudah sangat lapar.


Agatha memalingkan wajahnya kemudian mengambil sepiring makanan dari atas meja “ini...” dia menyodorkan makanan nya perlahan padaku.


aku tidak tahu makanan apa itu, seperti kulit lumpia yang dibuat berlapis-lapis, di atasnya ada keju yang meleleh, ada banyak sayur, lalu ada daging juga, dan sepertinya ada saus tomat di setiap lapisannya.


“apa ini?, apa ini lumpia goreng?” aku bertanya penasaran.


“hah...., lumpia goreng?, ini lasagna” jawab Agatha heran.


“lalu apa ini?, dan kulitnya ini memang bukan kulit lumpia?" aku masih bertanya penasaran.


Agatha tertawa, dia menepuk-nepuk pundakku, “kau benar tidak tahu lasagna?” kemudian dia lanjut tertawa terbahak-bahak.


aku hanya tersenyum tipis mengangguk, dan Dariel sepertinya kebingungan melihat Agatha yang tertawa terbahak-bahak.


“ini adalah makanan tradisional Italia, namanya lasagna, cara membuatnya juga di panggang, dan kulitnya lebih tebal dibanding kulit lumpia” Agatha tersenyum menjelaskan.


“oh... jadi itu lasagna...” aku tersenyum karna merasa bodoh.


seumur hidup aku tidak pernah makan-makanan seperti ini, yang aku tahu hanya bakso, ketoprak, gado-gado, dan makanan Indonesia lainnya. jangankan lasagna, bahkan pertama dan terakhir kali aku malam burger saat usiaku baru lima tahun, itupun pemberian tetangga kami, dan sudah dingin. bisa makan ayam saja aku sudah bersyukur, mungkin ini makanan Italia kedua yang pernah aku makan, yang pertama adalah pizza dengan topping jengkol buatan Rey.


“ayo... cobalah!" ucap Agatha tersenyum.


aku mengambil sendok lalu memakan lasagna nya. Agatha menatapku dengan antusias, “bagaimana? enak?” dia bertanya sambil tersenyum, seperti sedang bahagia.


“kejunya meleleh di dalam mulutku, dagingnya berlimpah, sausnya juga sangat nikmat, ini enak sekali” aku menjawab sejujur-jujurnya, ini memang sangat enak.


wajah Agatha memerah, dia tersenyum kemudian memalingkan wajahnya, ya... sepertinya dia memang sedang bahagia, tapi syukurlah, karna biasanya jika wajahnya memerah, dia pasti akan menamparku.


“te-terima kasih" ucap Agatha tersenyum memalingkan wajahnya.


“wah... apa itu?!, kelihatannya enak!” Eugene tiba-tiba menghampiri kami. “apa aku boleh minta?!” dia kelihatan bersemangat ingin mencoba lasagna buatan Agatha.


“tentu saja!, ini sangat enak, jadi kita harus berbagi!" ucapku sambil membagi lasagna nya jadi tiga bagian, untukku, Eugene, dan Dariel.


“perkataanku benar kan?!, komandan pasti mengizinkan Dariel bekerja disini. ya... jika aku yang meminta, komandan tidak mungkin tidak mengiyakan” ucap Eugene sombong sambil memakan lasagna.


“sebenarnya apa hubunganmu dengan Vincent? sampai dia menuruti kemauan mu?” tanyaku penasaran.


“sebenarnya ini berhubungan dengan semua hal yang ingin kau ketahui, jadi aku akan menceritakannya nanti” jawab Eugene tersenyum.


aku hanya mengangguk lanjut menikmati lasagna. setelah itu aku kembali ke kamar mandi, sisa dua orang lagi yang sedang mandi, aku memutuskan untuk menunggu sampai giliran ku tiba.


semuanya mulai berlatih lagi, aku dan Lingga tidak berlatih bersama yang lain, karna kamu berdua dapat pelatihan khusus dengan Eugene.


“baiklah!, sekarang kita akan mempelajari cara membuat segel untuk iblis” ucap Eugene.


“untuk apa hah?!, aku ingin belajar meningkatkan kemampuan ability ku, agar bisa membunuh semua iblis tanpa menyentuhnya!, aku tidak mau belajar hal tidak penting seperti ini!!!” Lingga menjawab tidak senang.


“hahaha.. dasar bodoh, kau tahu?, mungkin kau bisa membunuh iblis tingkat 6 kebawah, tapi untuk melawan tingkat 5 keatas, kau membutuhkan segel ini. bukan hanya itu, jangankan untuk membunuh, dirimu yang sekarang masih terlalu lemah, kau bahkan belum cukup kuat untuk melawan iblis tingkat 5 sendirian. di organisasi saat ini, yang bisa melawan iblis tingkat 5 sendirian hanya aku, Agam, dan Agi, kau memerlukan segel ini” Eugene tersenyum sombong.


“hey sial!, kau bahkan tidak punya special ability, bagaimana caramu mengalahkan iblis?, jangan berlagak sok kuat!” Lingga terlihat semakin kesal.


“sudah cukup, jangan berkelahi!" ucapku berusaha melerai. tapi sepertinya mereka malah mengabaikan ku.


“kau benar, aku memang tidak memiliki special ability, aku adalah manusia biasa, tapi... aku ini sangat kuat loh” ucap Eugene tersenyum. “tenang saja, aku hanya akan mengajarkan teknik dasar penyegelan, untuk memperkuat segel nya itu urusan kalian, yang terpenting ini adalah antisipasi saat kalian tidak bisa membunuh iblis yang kalian lawan”


“yang dikatakan Eugene benar, setidaknya dengan mempelajari segel ini, kita bisa jadi lebih kuat” ucapku tersenyum pada Lingga.


“baiklah!, jika itu memang membuatku jadi lebih kuat, aku akan belajar” Lingga akhirnya menurut.


Eugene tersenyum kemudian mulai menjelaskan “pertama-tama, aku akan menjelaskan suatu hal bernama evloth pada kalian. sejak zaman dahulu, evloth sudah ada di setiap diri manusia, ya... bisa dibilang mirip dengan tenaga dalam, tapi berbeda, evloth adalah berkah yang diberikan Tuhan pada kita. sejak dulu evloth digunakan untuk menyegel iblis yang bersekutu dengan manusia, dan juga untuk melawan orang menyalahgunakan sihir yang diajarkan harut dan Marut. evloth adalah sebuah cahaya di dalam jiwa kita, ini adalah senjata alami yang diberikan Tuhan untuk kita, agar bisa melawan iblis, semua orang memiliki evloth di dalam dirinya, tapi tidak semua orang dapat membangkitkan nya, butuh latihan supaya bisa membangkitkan kekuatan alami manusia ini” ternyata penjelasan Eugene sangat panjang.


“biar kuberikan contohnya” Eugene mengulurkan tangannya dan melebarkan telapak tangannya, tiba-tiba muncul bola cahaya berwarna putih, dengan tiga cincin yang melingkari bola itu, seperti planet venus. ketiga cincin itu memiliki tulisan, sepertinya itu huruf Yunani kuno.


“orang yang membuat kontrak dengan iblis, tidak akan bisa menggunakan evloth, walaupun sebelum membuat kontrak dia sudah menguasainya, karna evloth memiliki energi yang berlawanan dengan iblis, itu sebabnya... jika kau sudah menguasai evloth, lalu membuat kontrak dengan iblis, maka kau tidak akan bisa menggunakan evloth lagi sampai iblis dalam dirimu hilang” ucap Eugene. “sayangnya... iblis selalu ada dalam diri manusia, meski mereka tidak membuat kontrak dengannya”


“kalau begitu, bukannya berarti kita tidak dapat menggunakan evloth?" aku bertanya karna bingung dengan perkataan Eugene.


“tentu saja bisa!, iblis yang ku maksud adalah hawa nafsu. meski kau tidak membuat kontrak dengan iblis sungguhan, hawa nafsu tetap ada dalam dirimu, jika kau tida bisa mengendalikan dirimu, maka hawa nafsu itu akan menghantarkan mu pada kehancuran” jawab Eugene tersenyum.


aku dan Lingga hanya mengangguk.


“dari tadi kau hanya berbicara saja, kapan kita akan latihan untuk membangkitkan evloth?” tanya Lingga.


“cara membangkitkan nya mudah, kalian hanya harus meditasi dan mencapai titik terdalam dari diri kalian. karna itu... sekarang duduk dan agungkan nama tuhanmu, sebut selalu namanya, dan rasakan ketenangan dalam jiwamu!" Eugene tersenyum memerintahkan kami duduk.


kami berdua menuruti Eugene dan langsung duduk, semoga latihan ini dapat membuatku jadi lebih kuat!.


Bersambung....