
Aku menanyakan banyak hal tentang burung raksasa yang dilihat Dariel, saking banyaknya bertanya, Agatha sampai bingung karna aku terlihat sangat penasaran.
setelah dapat cukup banyak informasi, perut Dariel berbunyi, sepertinya dia kelaparan.
“kau lapar?” aku bertanya sambil melihat isi belanjaan, “disini tidak ada yang bisa langsung dimakan, hanya ada bahan mentah.”
“kau mau ikut kami?, kami ada acara makan-makan, mungkin kau bisa ikut dan makan bersama dengan kami" ucap Agatha mengajak Dariel.
“tidak perlu kak... kakak sekalian sudah menyelamatkan diriku, dan mengantarkan aku pulang, aku tidak bisa merepotkan kalian lagi” Dariel membalas sambil tersenyum.
“tidak apa-apa, lagipula sepertinya makanannya akan tersisa banyak jika kau tidak ikut” ucapku tersenyum.
“sekali lagi terimakasih karna kakak sudah mengajakku, tapi aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, aku takut saat pergi bersama kalian, bapak panti dan teman-temanku kembali, aku tidak mau membuat mereka khawatir” ucap Dariel tersenyum polos.
“begitu ya...” ucapku berdiri kemudian mengeluarkan dompet. “kalau begitu kau tunggu disini sebentar bersama Agatha ya!”
“hey kau mau kemana lagi!” tanya Agatha berteriak.
“tunggu disitu sebentar!” jawabku balas berteriak.
aku segera berlari ke pasar, membeli banyak roti dan beberapa susu, setelah itu aku langsung berlari lagi kembali ke tempat Agatha dan Dariel.
“ini untukmu!” ucapku memberikan beberapa roti dan susu, kemudian menyeka keringat.
“te-terima kasih!, aku jadi merepotkan kakak lagi" ucap Dariel tersenyum malu.
aku hanya membalas dengan senyuman, kemudian aku membukakan botol susunya, dan memberikannya pada Dariel yang sedang makan roti.
“sejak bapak panti dan temanmu menghilang, bagaimana kau makan?” tanya Agatha tersenyum menatap Dariel yang sedang makan.
Dariel segera menelan makanannya dan minum, “aku membantu membawakan barang-barang orang di pasar, mereka pasti memberikan ku upah, setelah itu upah yang kudapat barulah kupakai untuk membeli makanan." Dariel tersenyum kemudian lanjut memakan rotinya.
aku meraih tangan Agatha untuk melihat jam, tapi wajahnya malah memerah kemudian disusul tamparan keras kearah wajahku.
“kenapa kau menamparku?!, aku hanya mau melihat jam!” ucapku sambil memegang pipi.
“bo-bodoh, kukira kau mau macam-macam, ma-maafkan aku!” ucap Agatha ketus sambil memalingkan wajah.
tamparan nya tidak terasa sakit, aku hanya kaget saja, sepertinya sekarang aku benar-benar tidak bisa merasakan sakit lagi.
tak terasa sudah satu jam sejak kami meninggalkan villa, aku segera mengajak Agatha untuk kembali ke villa.
“Dariel, kami harus kembali, jika kau ada masalah atau butuh bantuan, kau bisa datang ke villa besar di dekat sini" ucapku tersenyum.
dia hanya mengangguk sambil asyik memakan rotinya.
“jika para preman itu mengganggu mu lagi, katakan saja padaku!” ucap Agatha tersenyum tegas.
kami berdua akhirnya berdiri dan mulai berjalan menuju villa, Dariel melambaikan tangannya dan berteriak “terima kasih atas makanannya!!!” dia melambaikan tangannya dengan penuh semangat.
panti itu benar-benar sangat dekat dengan villa kami, mungkin berjarak 200 meter saja. sesampainya di villa, teman-teman yang lain menatapku dan Agatha dengan tatapan tak berdaya, mereka terlihat seperti zombie yang kelaparan. satu persatu menghampiri ku dan Agatha, kemudian membantu membawa belanjaan, jalan mereka juga jadi mirip dengan zombie, itu terlihat lucu.
“lapar... lapar” ucap Isla membawa belanjaan.
Eugene menghampiriku dengan sempoyongan, dia sepertinya sangat lemas, “lama sekali, kalian habis kencan ya?!” ucapnya menepuk pundak ku lemah.
wajah Agatha terlihat memerah lagi, kemudian disusul oleh tamparan kuat kearah wajah Eugene, tamparan nya membuat Eugene terjengkang. setelah mendaratkan tamparan keras itu, Agatha langsung pergi meninggalkan kami dengan wajah memerah, aku bingung... sepertinya dia sangat suka menampar wajah orang.
Eugene bangun, mengusap-usap pipinya, lalu bertanya “jadi kalian benar-benar berkencan ya?!” dengan wajah datar seakan meledekku.
“tidak... tadi kami bertemu dengan anak kecil, dia bilang beberapa Minggu yang lalu, dia melihat suzaku” ucapku.
wajah Eugene seketika berubah jadi serius, dia mendekatkan wajahnya ke telinga ku, “ceritakan semuanya setelah makan-makan” dia mengatakan itu sambil berbisik lalu pergi meninggalkanku.
***
makanan telah selesai disajikan, kami semua makan dengan nikmat, sungguh menyenangkan rasanya. tapi ditengah kesenangan itu, aku teringat Dariel, aku takut dia belum makan, akhirnya aku memutuskan mengambil banyak makanan di piring ku, kemudian pergi ke panti tempat Dariel.
“mau kemana kau?” tanya Rize.
“aku ingin makan diluar, sekalian mencari angin” jawabku tersenyum.
yang lain sepertinya tidak menghiraukan ku, aku langsung bergegas ke tempat Dariel. tiba-tiba aku melihat seseorang sedang memukuli batu besar di belakang villa, karna gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas, aku jadi tidak tahu siapa orang itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri dan melihat karna penasaran, ternyata orang itu adalah Lingga, dia memang keluar lebih dulu dariku, dia hanya makan sedikit, sepertinya dia sedang banyak pikiran.
“kau sedang berlatih?” tanyaku.
“apa yang kau lakukan disini?, pergilah dan jangan ganggu aku!” jawab Lingga ketus.
“baiklah, aku akan pergi sebentar, kau jangan kemana-mana!” ucapku berjalan menuju panti.
setelah sampai di panti, rupanya dugaan ku benar, Dariel sedang kelaparan, dia langsung berterima kasih padaku, “kak... jika ada hal yang bisa ku bantu, katakan saja, aku bisa membersihkan rumah serta membawakan barang” dia mengatakan itu dengan mulut yang dipenuhi makanan, “aku hanya ingin membalas semua kebaikan kakak, mungkin aku hanya bisa membalas menggunakan tenagaku.”
“ya... sekali lagi terimakasih ya kak!" ucap Dariel tersenyum.
aku kembali ke tempat Lingga, dan meninggalkan Dariel yang sedang sibuk dengan makanannya.
“aku kira kau akan pergi” ucapku pada Lingga tersenyum.
“kenapa kau kembali lagi bajingan?!” ucap Lingga dengan wajah kesalnya.
“aku kan sudah bilang akan kembali” ucapku tersenyum sambil duduk di bawah pohon.
Lingga menghiraukan ku dan mulai memukul batu besar lagi, dia memukul dengan penuh semangat. tapi di setiap pukulannya, aku merasakan dendam, dendam yang sangat besar, juga kemarahan.
setengah jam aku hanya melihat Lingga memukul batu, akhirnya dia berhenti dan duduk, keadaan jadi sangat hening selama beberapa saat, “bagaimana kau bisa ikut dengan Agam?, apa keluarga mu tidak khawatir?” aku bertanya memecah keheningan.
Lingga hanya menatap ku sebentar, kemudian melihat kearah batu yang ia pukul, suasana jadi hening lagi.
“keluargaku... semuanya tewas dibunuh iblis” tiba-tiba Lingga memecah keheningan.
aku cukup kaget mendengarnya, tapi aku hanya merespon dengan mengubah posisi duduk ku menghadap Lingga, kemudian ia lanjut bercerita.
“pagi itu semuanya berjalan seperti biasa, kami semua makan bersama di meja makan. setelah makan aku langsung berangkat ke sekolah seperti biasa, tapi karna uang saku ku tertinggal, aku jadi harus kembali ke rumah. saat sampai di depan gerbang rumahku, aku mendengar teriakkan ibuku, aku berlari karna takut terjadi sesuatu. saat itu untuk pertama kalinya aku melihat iblis, iblis itu sudah melubangi tubuh ayahku, dan sedang mencekik ibuku. ibuku menyuruhku lari sambil tersenyum dan meneteskan air mata, sialnya aku benar-benar lari, bukan karna disuruh ibuku, tapi karna aku takut, aku sadar waktu itu, bahwa aku juga seorang pecundang” Lingga bercerita perlahan meneteskan air mata.
aku mengusap punggungnya, mencoba menenangkan dirinya.
“jika saja aku lebih berani, mungkin aku tidak akan kehilangan ibuku” ucap Lingga dengan suara bergetar. “karna itu... saat ini aku harus jadi lebih kuat, agar bisa menghabisi semua iblis di dunia ini, aku akan balas dendam dengan cara melenyapkan semua iblis.”
Lingga menghapus air matanya, dengan wajah penuh percaya diri, dia mulai berdiri di depan batu besar yang jadi samsak nya, aku merasakan tekad yang besar darinya, dia benar-benar memiliki dendam dengan para iblis.
“melihatmu tanpa takut melawan iblis, membuat hatiku tergerak, aku jadi berani untuk melawan mereka sekarang. dan karna melihatmu yang berjuang mati-matian, membuat diriku tidak mau kalah. aku.... akan jadi lebih kuat darimu, dan mengalahkan semua iblis di dunia ini!" ucap Lingga sambil memukul batu besar yang jadi samsak nya, dalam satu pukulan terakhir, akhirnya batu itu hancur.
Lingga mendekatiku kemudian menepuk pundak ku, “karna itu... apapun yang terjadi, jangan mati sebelum aku membalas kekalahan ku, mengalahkan mu adalah salah satu tujuanku saat ini!” dia tersenyum kemudian pergi.
Dia pergi meninggalkan ku sendiri di depan batu besar yang telah dia hancurkan. aku terdiam setelah mendengar cerita Lingga, ternyata dia mengalami sesuatu yang mengerikan. aku memutuskan untuk kembali ke villa, rupanya Eugene sudah menunggu ku, dia kemudian mengajakku berkeliling.
“informasi apa yang kau dapat?” tanya Eugene.
“sekitar 2 Minggu yang lalu, panti asuhan di dekat villa ini diserang oleh burung besar berwarna merah, kemungkinan itu adalah suzaku” jawabku.
“darimana kau dapat informasi itu?” tanya Eugene.
“dari seorang anak laki-laki yang tinggal di panti itu, namanya Dariel, dia bilang dia melihat kejadian itu secara langsung, tapi dia pingsan, dan saat terbangun semua temannya menghilang bersama burung itu” jawabku.
Eugene diam sebentar dan mengeluarkan sebuah apel dari kantung celananya, “besok bisakah kau pertemukan aku dengan anak itu?” dia bertanya sambil memakan apelnya.
“ya!, tentu saja bisa” jawabku tersenyum.
“kalau begitu sekarang kembali lah ke kamar mu, karna besok pagi kau akan memulai latihannya" ucap Eugene tersenyum.
aku hanya mengangguk kemudian kembali ke kamarku. perutku masih terasa sangat kenyang, sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak.
***
kami semua dibangunkan pukul 04.30 pagi, kemudian kami bersama-sama membersihkan villa, selesai membersihkan villa, Vincent menyuruh kami untuk berkumpul di halaman villa dan melakukan pemanasan.
Vincent maju kedepan dan memimpin kami lari pagi, semua lari sambil bernyanyi, kami mengelilingi kota, mungkin jarak kami berlari sekitar 12 kilometer, karna berlari bersama, aku tidak merasa lelah sama sekali.
selesai lari pagi, kami semua antri untuk mandi. anggota yang sudah selesai mandi langsung diperintahkan untuk kembali ke halaman villa. aku juga langsung bergegas kembali ke halaman setelah mandi, disana semuanya duduk melingkar seperti membuat arena untuk bertarung.
aku duduk di sebelah Lingga dan menunggu arahan selanjutnya, tiba-tiba Eugene maju dan berdiri di tengah-tengah. oh ya... sepertinya tadi Eugene tidak ikut lari pagi, karna aku tidak melihatnya sama sekali, aku baru melihatnya sekarang.
Vincent mengeluarkan pengeras suara, “Agi, Lingga, kalian berdua harap maju kedepan!" ucap Vincent lewat pengeras suara.
aku dan Lingga lantas berdiri, kemudian kami maju dan berdiri di tengah-tengah anggota lain, kami berdiri di sebelah Eugene.
“aku mau kalian berdua bertarung denganku” ucap Eugene tiba-tiba.
aku sempat kebingungan dengan apa yang dia katakan, tapi sepertinya Lingga tidak merasakan hal yang sama denganku. setelah kata-kata itu keluar dari mulut Eugene, tanpa banyak bicara Lingga langsung maju dan mencoba memukul wajah Eugene.
sudah tiga pukulan yang dilayangkan Lingga, tapi satupun tidak ada yang mengenai Eugene, bahkan Eugene sampai meledeknya, “kau sangat lambat!, jika terus begini... kau hanya akan jadi beban saat bertarung melawan iblis!" ucap Eugene sambil tertawa meledek.
“BAJINGAN!!!” ucap Lingga melompat mencoba menendang wajah Eugene.
Eugene reflek menghindari serangannya, dia menghindar sambil tersenyum, “tidak kena wleee.” lagi-lagi dia meledek Lingga.
saat Lingga mencoba memukul lagi, Eugene mundur satu langkah, dan menendang wajah Lingga dengan tumitnya. tendangannya sangat cepat, saking cepatnya, Lingga sampai tidak bereaksi. Lingga terpental akibat tendangan Eugene, aku semakin bingung, tapi juga kagum, karna tau bahwa Eugene ternyata sekuat ini.
“kau!... ayo lawan aku juga!” ucap Eugene tersenyum menunjuk ku.
bersambung....