Loser's Dream

Loser's Dream
SI PECUNDANG JADI LEBIH KUAT?



“aku harus mengatur nafasku, tenangkan pikiran, dan konsentrasi untuk menyalurkan ability ku ke pisau ini” pikirku.


aku berusaha menggunakan cara yang sama seperti saat melawan Irina, tapi... anehnya tubuhku terasa lebih ringan, seakan bukan hanya pisau ini yang dipenuhi kekuatan, aku merasa tubuhku juga dipenuhi kekuatan.


(scene berpindah ke Eugene)


“sepertinya dia mulai menyadari kekuatannya yang sesungguhnya” ucap Eugene sambil tersenyum.


“apa maksudmu?” tanya Agam.


“ability Agi yang sebenarnya, bukanlah sekedar menetralisir ability orang lain saat dia menyentuhnya” jawab Eugene.


“lalu apa?” tanya Agam penasaran.


“bukan hanya menghilangkan ability orang lain saat menyentuhnya, dia bisa melakukan lebih dari itu, jika dia bisa memaksimalkan potensinya” ucap Eugene tersenyum.


“jangan bilang!...” ucap Agam melotot.


“ya!, suatu hari nanti, dia bisa menjadi penyelamat, atau bahkan penghancur bagi dunia ini” ucap Eugene dengan wajah serius.


(scene berpindah ke Freya)


“bisakah kalian berdua membantuku untuk menggotong Lingga?” tanya Freya pada Fadil dan Fikri.


“baik!” ucap Fadil dan Fikri secara bersamaan.


“maaf karna aku tidak bisa membantu, padahal Agi dan Lingga terlibat semua ini karena aku” ucap Fikri penuh penyesalan.


“aku juga, jika saja aku lebih kuat, mungkin aku bisa melakukan semuanya sendiri, mereka jadi terluka juga karna diriku” ucap Fadil menyesal sambil mengepalkan tinjunya.


“kalau begitu, berjanjilah untuk menjadi lebih kuat setelah semua ini selesai!” ucap Freya tersenyum dan memberikan semangat.


“aku berjanji, aku akan jadi lebih kuat setelah ini!” ucap Fikri penuh semangat.


“aku juga!” ucap Fadil.


“Agi juga lemah saat aku pertama kali bertemu dengannya, tapi dia selalu berusaha menjadi lebih kuat, bahkan jika itu harus menghancurkan dirinya sendiri, entah sudah berapa kali aku melihat air matanya yang keluar karna menahan rasa sakit dari proses yang sedang dijalaninya, dia tidak pernah menyerah, bahkan saat dia sudah kehilangan segala hal dalam dirinya” ucap Freya sambil melihat ke arahku. “entah apa hal yang diperjuangkan olehnya sampai dia harus berusaha sekuat itu, bahkan terkadang ia terlihat bodoh, tapi... dia sangat keren!”


(scene kembali ke Agi)


“apa-apaan makhluk ini, dia terlalu kuat!” ucap Andre kesulitan.


“dia adalah ability kuno, bagaimana mungkin gadis itu memiliki ability yang kuat seperti ini!” ucap Ditya kebingungan.


Dewi perang terus menyerang mereka secara brutal, mereka sampai tidak diberi kesempatan untuk menyerang balik, aku dapat merasakannya, kekuatan yang benar-benar besar dari si Dewi perang.


aku langsung maju dan berhadapan dengan Regi, aku bisa mengimbangi kecepatannya, padahal tubuhku sudah penuh dengan luka, aku juga merasa bahwa serangan ku jauh lebih kuat dari sebelumnya, terlihat jelas di wajah Regi kalau dia kesulitan melawanku.


“kau memang anak yang mengerikan, kau bertambah kuat seiring berjalannya pertarungan, bahkan stamina dan energi mu seakan tidak bisa habis, aku harus membunuhmu disini!” ucap Regi melotot.


“coba saja kalau bisa!” ucapku sambil menyerangnya.


(scene berpindah ke Eugene)


“hebat sekali, Agi bisa mengimbangi musuhnya padahal tubuhnya sudah penuh dengan luka!” ucap Agam tercengang.


“bukan Agi yang bisa mengimbangi Regi, tapi Regi lah yang berusaha mengimbangi Agi, lihat lah wajahnya, Agi bertarung dengan wajah tenang dan santai, sedangkan Regi seperti orang yang sedang kesulitan” ucap Eugene.


“mungkin kau benar, sejak awal kekuatan fisik Agi yang terbaik diantara mereka semua, sepertinya latihannya selama ini membuahkan hasil” ucap Agam tersenyum.


“ya!, dia hanya belum menyadari kekuatannya selama ini, dia terus berpikir bahwa dirinya masih lemah dan harus berjuang lebih keras agar jadi lebih kuat, pemikiran itulah yang membuatnya akan menjadi yang terkuat suatu saat” ucap Eugene tersenyum.


(scene kembali ke Agi)


Dewi perang akhirnya berhasil mengalahkan Yuda, tersisa Andre dan Ditya yang sedang melawannya, mereka berdua juga terlihat sangat kesulitan, padahal sudah menggunakan kekuatan iblis. sementara aku masih kesulitan mencari celah untuk mengalahkan Regi, dia bisa memprediksi semua serangan ku, sampai aku terpeleset dan dia mencoba untuk menyerang ku.


tiba-tiba Dewi perang menghampiri kami dan menyerang Regi, dia menghindari serangannya, tapi Dewi perang berhasil mengenai tangan kirinya hingga putus. tanpa membuang kesempatan aku langsung mencoba menyerang nya juga, dia tidak punya waktu untuk menghindar, tapi dia malah berubah kembali ke wujud manusianya, dan itu membuatku tidak dapat menusuknya, aku takut iblis nya tidak mati jika aku menusuknya dalam wujud manusia, aku takut jika aku melakukan hal itu yang mati adalah Regi, aku tidak ingin menjadi pembunuh.


“kenapa kau tidak jadi menyerang ku!” ucap Regi kesal. “apa kau merasa kasihan padaku hah?!!!”


“tinggal kita berdua ya...” ucap Andre.


“aku akan mengurus ability itu!” ucap Ditya sambil berlari kearah Dewi perang.


“jadi maksudmu aku harus mengurus bocah itu ya” ucap Andre tersenyum.


Andre menghampiri ku dan langsung menyeruduk diriku seperti seekor badak, diantara mereka berempat, perubahan iblis Andre yang paling menyeramkan menurutku, dia seperti monster yang ada di film-film, dia memiliki empat kaki seperti badak, dan tubuhnya adalah tubuh iblis, ditambah lengannya juga semakin besar.


“hebat... kau bisa menahan serangan ku!” ucap Andre. “pantas saja kau bisa mengalahkan Regi”


Andre langsung memukul wajahku dengan tangan besarnya, hal itu membuatku terpental dan kepalaku membentur tanah, darah kembali keluar dari kepalaku, beberapa gigi ku juga patah, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun. ini bukan karna banyaknya luka ditubuh ku, sebelumnya aku sering merasakan hal ini, tapi itu semua dikarenakan banyak luka di tubuh ku, saking banyaknya luka, tubuhku sampai mati rasa karna rasa sakitnya, dan akhirnya aku tidak bisa merasakan sakit.


tapi kalo ini berbeda, aku benar-benar tidak merasa sakit, seakan aku kebal terhadap rasa sakit, tenaga ku juga seakan tidak berkurang sedikitpun, tubuhku juga tidak terasa lemas, energi ku juga terasa semakin banyak, aku benar-benar jadi lebih kuat.


(scene berpindah ke Eugene)


“mesinnya semakin panas!” ucap Eugene sambil tersenyum.


“dia sampai di titik tidak dapat merasakan sakit!" ucap Agam tersenyum. “bukan karna banyaknya luka ditubuhnya, tapi dia benar-benar sudah tidak bisa merasakan sakit”


“hal itu bisa menjadi keuntungan, bisa juga membuatnya rugi, karna tak bisa merasakan sakit... bisa saja dia memaksakan diri nya, meski tubuhnya sudah benar-benar hancur, dan pada akhirnya dia akan mati karna hal itu” ucap Eugene tersenyum.


“kau benar, dia bisa saja tidak sadar dan mengabaikan luka fatal ditubuhnya, mungkin dia bisa mati tiba-tiba” ucap Agam tertawa.


“haha kau benar, arwahnya bisa saja kaget karna tiba-tiba ia mati” ucap Eugene tertawa. “kau harus langsung turun kesana jika hal itu terjadi”


(scene kembali ke Agi)


aku berhasil menghindari setiap pukulan Andre, dan membalas memukulnya, semua serangan ku berhasil mengenai nya, kelihatannya Andre sudah mencapai batasnya, aku harus segera mengakhiri ini.


“mati kau!” ucap Andre sambil mendaratkan pukulan di liver ku.


“kau saja yang mati!” ucapku sambil menggenggam tangannya dan membanting tubuhnya.


aku memukul wajahnya setelah membantingnya, kemudian dia kembali ke wujud manusianya, sepertinya dia pingsan, aku berhasil mengalahkannya juga. di sisi lain Dewi perang berhasil menusuk tubuh Ditya dengan pedang miliknya hingga tembus sangat dalam, tapi ternyata Ditya sengaja menerima serangan itu dan melancarkan pukulan yang sangat kuat ke wajah Dewi perang, serangan itu membuat Dewi perang menghilang, dan sekarang... hanya tinggal kami berdua.


“kita sudah sama-sama terluka” ucap Ditya. “mau selesaikan dengan senjata?”


“sayangnya aku lebih suka adu pukul!” ucapku tersenyum sambil menjatuhkan belati ku.


“kalau begitu mari selesaikan dengan cepat!” ucap Ditya berlari kearah ku dan membuang pisaunya.


kami sama-sama melayangkan tinju ke arah wajah, tinju Ditya mengenai wajahku, begitu juga sebaliknya, tinju nya terasa lebih berat daripada tinju Andre, meski aku tidak merasa sakit, tapi aku merasa seperti ditabrak kereta, benar-benar cepat dan berat.


“namamu Agi?, akan selalu kuingat nama itu!” ucap Ditya sambil terus menyerang ku.


“ingatlah, karna suatu saat aku akan membawa kebahagiaan pada semua orang!” ucapku tersenyum sambi menahan serangannya.


kami berdua saling menyerang dan bertahan, terus begitu sampai aku berpikir bahwa pertarungan ini tidak akan selesai, tapi... tiba-tiba tubuhku terasa sangat panas, semangat bertarung ku juga semakin naik. akhirnya aku menaikan tempo serangan ku, mengkombinasikan pukulan dan bantingan, aku berhasil membanting Ditya beberapa kali, tapi dia tetap bisa bangkit dan memukul wajahku, ini benar-benar pertarungan yang sangat sengit.


“apa alasanmu bertarung mati-matian?” ucap Ditya. “padahal sepertinya orang yang kau tolong itu adalah orang yang selalu merundung mu”


“kau benar, dia adalah orang yang selalu merundung ku, bahkan membuatku mencoba untuk bunuh diri, dia adalah orang yang paling menjengkelkan dalam hidupku, tapi... setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua dalam hidupnya, belakangan ini dia suka menolong orang walau hanya sekedar membantu seorang nenek menyeberang jalan, aku yakin dia ingin berubah, seburuk apapun masa lalu nya, setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk jadi lebih baik, aku akan membantu dia jika memang dia ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya, lagipula dia adalah temanku, bukankah membantu teman yang sedang kesulitan adalah tugasku juga sebagai seorang teman?” ucapku tersenyum.


aku berteriak maju dan mencekik lehernya, kemudian aku membanting tubuhnya kebawah dengan kencang, Ditya menendang perutku hingga aku terjatuh, dia bangun dan menaiki tubuhku kemudian memukuli wajahku, aku memberontak dan berhasil lepas darinya.


“sayang sekali Ditya, tapi sepertinya aku yang akan menang!” ucapku sambil tersenyum.


“percaya diri yang berlebihan itu sama dengan sombong!” ucap Ditya tersenyum juga.


dia mencoba memukul wajahku, aku menghindar dengan teknik roll, lalu aku lancarkan pukulan tepat pada wajahnya, aku mengerahkan semua kekuatan ku saat itu, dan akhirnya tinju ku membuat Ditya terpental sangat jauh.


“AKU MENANG!!!” ucapku berteriak.


bersambung....