
(scene berpindah ke Eugene dan Agam)
“kau masih berhutang penjelasan padaku!” ucap Agam sambil minum.
“hehe rupanya kau ingat” ucap Eugene tersenyum sambil menggaruk kepala.
Eugene menjelaskan semuanya pada Agam, tentang rencana gila nya yang hampir membunuh diriku, Lingga, dan Freya. dia bilang tujuan rencananya adalah untuk membuat kami jadi lebih kuat, sekaligus membuat Lingga menjadi temanku, karna menurutnya kami berdua akan jadi tak terkalahkan jika bekerja sama, tapi rupanya kekuatan Lingga masih jauh dari yang dia harapkan.
“membuat mereka bertiga menghadapi iblis tingkat 6, yang kau lakukan sangat berbahaya bagi mereka” ucap Agam.
“tapi lihatlah hasilnya!, Freya jadi bisa mengendalikan Dewi perang, Lingga sekarang bisa menahan tusukan benda tajam, dan kit jadi mengetahui fungsi lain dari ability Agi” ucap Eugene.
“kau memang benar, tapi jika tadi mereka gagal bagaimana?, nyawa mereka jauh lebih berharga dibanding perkembangan ambil mereka” ucap Agam dengan wajah kecewa.
“13 tahun kau mengenalku, dan kau masih meragukan ku?” tanya Eugene dengan wajah bingung. “sekali lagi aku tanya pada mu, apakah rencana ku pernah gagal?”
“tidak!” jawab Agam.
“kalau begitu kenapa kau harus ragu?” tanya Eugene.
“rencana mu selalu nekat, suatu saat itu bisa membawa dampak buruk bagimu, aku hanya tidak ingin mereka bertiga yang terkena dampak buruk dari rencana mu itu” ucap Agam.
“baiklah... aku janji tidak akan mengulanginya lagi!” ucap Eugene sambil menghela nafas.
“ada satu hal lagi!" ucap Agam.
“apa lagi?!!!" tanya Eugene dengan wajah jengkel.
“kemana kau 2 tahun belakangan ini?” tanya Agam. “tiba-tiba menghilang, tidak pernah memberi kabar, dan hanya mengirimkan SMS aneh”
“aku kan sudah bilang dalam SMS, aku berkeliling dunia untuk mencari orang-orang yang memiliki ability kuno” ucap Eugene.
“lalu apa hasilnya?" tanya Agam.
“aku menemukan mereka, flame berada di Indonesia, thunder di Brazil, earth di Norwegia, water di Belanda, dan wind di Jepang” ucap Eugene tersenyum. “oh ya... aku juga bertemu dengan bocah unik di Korea, bocah itu memiliki kekuatan semua dewa dari setiap mitologi, ability nya sangat menarik, kalau tidak salah namanya Kim Ray Ya”
“apa hanya itu saja?" tanya Agam dengan tatapan tajam.
“ayolah kau meragukan ku lagi?” tanya Eugene.
“tidak!” jawab Agam. “aku mengantuk, kau juga cepatlah tidur, besok jangan buat kekacauan di pesta ulang tahun putra ku!"
“baik!...." ucap Eugene tersenyum.
Agam pergi ke kamarnya dan meningkatkan Eugene di ruang tamu, kemudian Eugene menyalakan tv lalu menonton sebuah acara sambil memakan kue.
“Agam.... saat ini lebih baik kau tidak mengetahui lebih jauh” ucap Eugene sendiri dengan senyuman licik.
(scene berpindah ke Fadil dan Fikri)
setelah pulang dari rumah sakit usai menjengukku, mereka berdua jadi lebih akrab, bahkan mereka sudah makan bakso bersama, keduanya sama-sama memiliki impian untuk menjadi kuat, dan saat ini sudah tidak ada keraguan sedikitpun di hati mereka.
“kau mau ikut taekwondo?" tanya Fikri pada Fadil. “kalau mau, mari berlatih bersama, aku tau tempat latihan taekwondo yang bagus”
“boleh, aku jadi tertarik untuk ikut bela diri, supaya aku tidak merepotkan orang lain lagi!" ucap Fadil sambil sedikit tertawa.
“kalau begitu, bagaimana jika besok kita daftar bersama?” tanya Fikri.
“tentu saja!" jawab Fadil.
kemudian mereka berdua tertawa bersama, mereka benar-benar sudah berjanji akan jadi lebih kuat, semangatnya memungkinkan mereka menjadi pria sejati di masa depan.
tapi disaat mereka berdua sedang asiknya bercanda sambil berjalan menuju stasiun untuk pulang, tiba-tiba ada yang menebas punggung Fikri dari belakang.
“sialan!, bukannya kau sudah ditangkap!” ucap Fadil dengan tegas.
“Regi!..." ucap Fikri dengan wajah kaget.
“sejak tadi aku mencari kalian berdua!!!" ucap Regi sambil cekikikan.
“kenapa kau ada disini?” tanya Fikri.
“tentu saja aku disini karna rindu pada kalian berdua!" jawab Regi tersenyum. “lagipula kalian tidak takut melihat ku?!”
Regi mendatangi mereka berdua dengan wujud iblis nya, rupanya dia benar-benar sudah naik tingkat menjadi tingkat 5, sebuah tanduk muncul di ubun-ubun nya.
“hehe aku ingin merasakan darah kalian!” ucap Regi cekikikan sambil kembali ke wujud manusianya.
“apa kita harus lari?!” tanya Fadil bingung.
“pergilah.... biar aku yang menahannya!" ucap Fikri tersenyum.
“ternyata percuma ya...” ucap Fadil seakan putus asa. “sekencang apapun kita berlari dia pasti bisa mengejar kita”
“begitulah... lari kemanapun dia tetap akan menangkap kita" ucap Fikri tersenyum. “lagipula aku sudah berjanji untuk menjadi kuat, setidaknya.... aku ingin mati sebagai pemberani!”
“begitu ya... jadi tadi adalah bakso terakhir yang kita makan di dunia ini... hahaha” ucap Fadil tertawa.
“bukan hanya itu, saat ini juga sepertinya akan jadi malam terakhir kita haha" ucap Fikri tertawa.
“aku benci mengakuinya, tapi sepertinya kau benar" ucap Fadil
“kau tidak jadi lari?" tanya Fikri meledek.
“haha aku hanya bercanda” jawab Fadil tersenyum. “mari kita berjuang untuk mengalahkannya”
“ayo!” ucap Fikri penuh semangat.
“HAHAHA maju lah mangsa ku!!!” ucap Regi sambil mengangkat celuritnya.
(scene kembali ke Agi)
karna kelelahan, aku jadi tidur nyenyak semalam, sepertinya Lingga bangun lebih awal lagi dariku, dia sudah tidak ada di kasurnya, mungkin dia berlatih sendirian lagi di taman.
karna pesta ulang tahun putranya Agam dimulai pukul 12.30 nanti, aku berencana pergi ke makam Ditya terlebih dahulu, kebetulan dia dimakamkan di TPU yang sama dengan ibu ku, aku juga ingin sekalian mengunjungi makam ibu ku. setelah mandi dan siap-siap, aku langsung turun ke bawah, aku kaget karna Freya sudah ada di kantor saat ini, padahal sekarang baru pukul 05.45, entah ada urusan apa sampai dia datang sepagi ini.
“lama sekali!” ucap Freya cemberut.
melihat dirinya memakai pakaian serba putih, aku jadi tahu, sepertinya dia ingin ikut ke TPU, tapi aku bingung... padahal semalam aku langsung tidur dan tidak memberitahu nya sama sekali bahwa pagi ini aku akan berkunjung ke sana.
“kamu mau kemana?” tanyaku basa-basi.
“ikut denganmu!’ jawabnya tersenyum.
“memangnya kamu tahu aku mau kemana?” tanyaku.
“tentu saja!, semalam Eugene memberitahu ku, kalau kamu akan ke pemakaman pagi-pagi sekali” jawabnya.
bagaimana Eugene bisa tahu kalau aku akan ke pemakaman?, padahal aku belum memberitahu siapapun bahwa aku akan ke pemakaman, apa dia hanya memprediksi saja?, jika benar... prediksi nya sangat mengerikan.
“dia hanya bilang kamu akan ke pemakaman sendirian, lalu dia menyuruhku datang pagi-pagi supaya bisa menemanimu, itu saja” ucapnya tersenyum.
“jadi begitu...” ucapku. “baiklah tunggu disini sebentar”
“kamu mau kemana?” tanya Freya sambil menaikan kedua alisnya.
“hanya kebelakang sebentar, kamu tunggu disini saja” ucapku tersenyum.
“oke!!!” ucapnya sambil mengacungkan jempol.
aku pergi menuju gudang dibelakang kantor untuk mengambil sebuah sepeda, karna dari dalam tidak ada pintu yang mengarah langsung ke gudang, aku harus memutar melalui gang kecil yang berada di sebelah kantor. saat sedang berjalan santai, tiba-tiba ada kotak kardus besar di tengah gang, aku berpikir untuk memindahkannya, agar tidak menggangu orang yang lewat.
“kotak apa ini?, sepertinya kemarin tidak ada” ucapku sambil mendekati kotak itu.
saat melihat isi kotak nya, aku langsung terdiam, perutku terasa mual hingga aku muntah, aku kaget dan seakan tidak percaya dengan isi kotak itu.
“Fa-Fadil, Fikri...” ucapku sambil meneteskan air mata.
kotak itu berisi tubuh manusia yang sudah di mutilasi, saat aku melihat kepalanya, ternyata ini semua adalah potongan tubuh Fikri dan Fadil, aku benar-benar terkejut hingga hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara.
saat ini aku mencoba menenangkan diriku dan langsung menelpon Vanca yang kebetulan menginap di kantor semalam, aku bilang kepada Vanca untuk tidak memberitahu Freya bahwa aku yang menyuruhnya kesini, aku tidak mau dia melihat hal sekejam ini. tak butuh waktu lama Vanca langsung menghampiri ku, dia langsung memeriksa potongan-potongan tubuh itu, aku juga berharap dia bisa membangkitkan mereka lagi, tapi rupanya hasilnya nihil.
“kemungkinan mereka berdua tewas semalam, mungkin sekitar pukul 21.00” ucap Vanca sambil memberikan ku sapu tangan.
“jadi kau tidak bisa membangkitkan mereka ya” ucapku pasrah.
“ya!, lagipula... meskipun kau menemukannya semalam, aku tetap tidak akan bisa membangkitkan mereka” ucap Vanca sambil mengeluarkan ponsel.
”kenapa?” tanyaku.
“jiwa mereka lenyap, sama seperti Ditya dan yang lainnya kemarin” jawab Vanca.
mendengar hal itu, yang terlintas di benakku adalah Regi, ya!... sudah pasti dialah pelaku nya. memikirkan hal itu membuatku marah, dan sedikit kecewa pada diriku sendiri, aku seakan menyesal karna tidak membunuhnya, “jika saja aku membunuhnya, mungkin Ditya, Fadil, Riski, dan yang lainnya tidak akan mati” begitulah pikirku sambil merasakan penyesalan.
Vanca menelpon Eugene dan menyuruh nya kesini, tak lama kemudian Eugene datang, melihat jasad yang sudah terlihat mengenaskan begini, dia malah tersenyum sambil berkata “hobi yang lebih buruk dari iblis” begitu ucapnya.
“saat kau menyuruh Vanca kesini, kau bilang padanya
untuk tidak memberitahu Freya tentang hal ini, karna tidak mau dia melihat hal kejam seperti ini kan?” tanya Eugene.
“ya...” ucapku.
lagi-lagi Eugene dapat mengetahui apa yang terjadi, tebakan dan prediksi nya benar-benar hebat.
“kau jadi mengunjungi pemakaman?” tanya Eugene.
“iya” jawabku.
“kalau begitu cuci muka mu, perbaiki ekspresi mu, dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi” jawab Eugene tersenyum. “kemudian langsung berangkat ke TPU, karna aku akan menghubungi polisi, jika kau tidak mau Freya mengetahui ini, maka cepat ajak dia pergi”
“baiklah... kumohon urus ini!” ucapku meneteskan air mata lagi.
“tenang saja” ucap Eugene. “hapus air matamu dan bergegaslah!”
“baik!” ucapku sambil mengusap air mata.
aku segera mengambil sepeda dan memanggil Freya keluar, setelah itu kami berdua langsung bergegas menuju TPU. kami pergi ke TPU dengan sebuah sepeda yang baru aku perbaiki beberapa hari yang lalu, Freya duduk di belakang, diboncengi olehku.
“kamu lama sekali mengambil sepedanya” ucapnya.
“tadi ada sedikit urusan” ucapku tersenyum.
“begitu ya!” ucapnya tersenyum.
“kamu ke kantor sendirian?” tanyaku.
“ya!” jawabnya.
“apa kamu sudah izin pada bunda?” tanyaku.
“sudah!” jawabannya sambil mengacungkan jempol.
aku berusaha bersikap normal, seakan tidak terjadi apapun, tak lama kemudian kami berdua sampai, aku menyuruh Freya untuk membeli bunga terlebih dahulu, sementara aku memarkirkan sepedaku di tempat penitipan.
pertama kami mengunjungi makam ibuku terlebih dahulu, aku membersihkan makamnya, setelah itu Freya menabur bunga di makamnya.
“ibu mu seperti apa orangnya?” tanya Freya sambil menaburkan bunga.
“entahlah, sulit untuk menjelaskan nya, kurasa aku membencinya” ucapku sambil mencabut rumput yang tumbuh diatas makam ibu ku.
“tidak mungkin, jika kamu membencinya... tidak mungkin kamu mengunjungi makamnya” ucap Freya tersenyum.
“hatiku yang menggerakkan ku untuk kesini, setelah apa yang dia lakukan padaku, ayahku, dan adikku, tidak ada alasan bagiku untuk tidak membencinya” ucapku. “tapi hatiku menolak untuk membencinya, tidak!... di lubuk hatiku, aku benar-benar tidak bisa membencinya, meski begitu pikiranku tetap memaksaku untuk membenci dirinya”
“kalau begitu ikutilah kata hati mu!” ucap Freya tersenyum. “setiap manusia memiliki hati yang baik, bahkan orang jahat sekalipun tetap memiliki hati yang baik, hanya saja terkadang mereka dikalahkan oleh pikiran, dan akhirnya lebih mengikuti pikirannya dibandingkan hatinya”
“terima kasih!” ucapku tersenyum.
setelah itu kami berdo'a di makam ibuku, yang dikatakan Freya benar, aku harus mengikuti kata hatiku, seburuk apapun dirinya, dia tetaplah ibu ku, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku benar-benar menyayanginya.
selesai berdo'a, kami langsung pergi menuju makam Ditya, kemarahan dan penyesalan ku muncul lagi setelah melihat makam Ditya, hingga tanpa sadar aku menghancurkan botol berisi air mawar yang sedang ku genggam.
“kamu kenapa?!!!” tanya Freya panik melihat darah ditangan ku akibat pecahan beling.
“ah tidak... sepertinya aku menggenggam botolnya terlalu keras" jawabku tersenyum.
“kita harus segera mengobati nya!" ucap Freya.
“tidak apa-apa, kita obati setelah mendoakan Ditya saja” ucapku.
“kau yakin?!” ucap Freya sedikit ragu. “baiklah jika itu mau mu”
aku pergi sebentar ke toilet untuk membersihkan darahku, setelah itu kembali ke makam Ditya dan mendoakannya. saat sedang berdo'a, aku tidak sengaja menyentuh batu nisannya, tiba-tiba tanganku terasa tersetrum, ability yang kudapat lewat iblis Ditya muncul, tapi dengan ukuran yang lebih besar dan terasa lebih kuat.
“jadilah lebih kuat, dan lindungi dunia ini!” suara ini tiba-tiba muncul di pikiran ku, suaranya terdengar mirip dengan suara Ditya, seketika semangat ku membara, jiwa ku juga semakin yakin untuk menggantikan tugas Ditya.
“ada apa?, kenapa kamu mengeluarkan ini?” tanya Freya menunjuk ability di pergelangan tanganku.
“tidak ada apa-apa” jawabku tersenyum.
kedepannya Regi akan jadi sangat berbahaya, aku harus memburunya secepat mungkin, jika dibiarkan... dia akan membahayakan kota ini, dia lebih berbahaya ketimbang iblis, dia... Adalah perwujudan iblis.
“aku berjanji akan melindungi semuanya, dan menangkap Regi!” ucapku sambil memegang batu nisa Ditya.
Bersambung....