Loser's Dream

Loser's Dream
PRIA YANG PATAH HATI



Aku tercengang saat masuk kedalam cermin. semuanya terlihat sama dengan dunia nyata, tapi sepertinya semua yang ada di dunia ini tercipta dari cermin.


saat aku keluar dari labirin cermin di dunia ini, aku semakin tercengang, karna langitnya berwarna hijau, sangat indah.


"tempat ini sama seperti dunia nyata" ucapku.


hampir saja aku lupa dengan tujuanku, aku harus bergegas mencari Aulia.


(scene berpindah ke Aulia)


selama Aulia mengikuti Dika, dia melihat Dika sesekali menculik sepasang kekasih, dia selalu menakuti kedua pasangan yang ia culik, dan membuat hubungan pasangan itu rusak.


"berhenti... kumohon berhenti..." ucap seorang wanita ketakutan.


"kemari lah, selamatkan kekasihmu" Dika tersenyum lebar.


"ti-tidak!" seorang pria lari ketakutan.


Dika melukai dan menakuti sepasang kekasih lagi, dia sengaja mengancam seorang pria, dan menjadikan kekasih pria itu sebagai sandera. beberapakali dia melukai pria yang menjadi targetnya, membuat pria itu ketakutan, sehingga lari meninggalkan pasangannya.


"lihatlah... dia bahkan lari meninggalkan mu!" itulah yang ia katakan setelah pria yang menjadi korbannya lari, meninggalkan kekasihnya.


"jika dia menyayangimu, dia pasti akan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan mu. tapi nyatanya? dia pergi meninggalkan mu" Dika kemudian tertawa lepas.


"tolong biarkan aku pergi..." wanita yang sedang ia jadikan sandera menangis.


"ya....pergilah, aku hanya ingin memperlihatkan kebenaran padamu" Dika melepaskan wanita itu.


bukan hanya itu, Dika juga dapat memperlihatkan kebenaran lewat cermin nya. dia akan menampilkan sebuah cermin raksasa didepan targetnya, setelah itu targetnya akan diberikan sebuah pertanyaan, jika targetnya berbohong, maka cermin itu akan menampakkan kejujuran, lalu menghujani targetnya dengan panah cermin.


***


"hei anak kecil... apa kau tidak bosan mengikuti ku?" ucap Dika yang menyadari, bahwa dia diikuti Aulia.


"kakak sudah tau ya hehe..." Aulia tersenyum menggaruk kepalanya.


"aku kan sudah bilang padamu, jangan ikuti aku" ucap Dika.


"kakak hobi menakuti orang ya?, dari tadi Aulia melihat kakak menakuti banyak orang" ucap Aulia.


"begitulah..." Dika duduk disebuah bangku taman yang terbuat dari cermin.


Aulia mendekati Dika, lalu berusaha untuk duduk di bangku taman itu, "aduh... kenapa susah sekali naiknya" gumam Aulia.


Dika lalu membantu Aulia untuk naik ke bangku taman, "sebenarnya apa yang kau lakukan" ucap Dika sambil mengangkat Aulia.


"kak, kenapa kakak menakuti mereka?, kakak juga melukai banyak laki-laki, itu tidak naik loh" ucap Aulia.


"kau masih kecil, jika kuberi tahu pun kau tidak akan mengerti" ucap Dika.


"hmmm, aku pintar loh, kakakku juga bilang begitu" Aulia bersikeras. "jadi beritahu aku, alasan kakak melakukan semuanya tadi"


Dika berpikir sebentar, dia menatap Aulia, "kau adalah gadis kecil, saat besar nanti... jangan sampai salah memilih pria, pilihlah pria yang rela mati untukmu" Dika mengusap kepala Aulia.


"apa maksud kakak?" Aulia kebingungan.


"sudah kuduga kau tidak akan mengerti" Dika tersenyum.


Dika kemudian berdiri, "cinta adalah hal paling rumit, tidak ada orang yang mampu mencari arti dari cinta. cinta dapat menimbulkan peperangan, kebencian, rasa sakit, dan musibah"


"tapi cinta juga dapat memberikan kebahagiaan bukan?, kakakku terlihat bahagia setiap bertemu kak Freya" ucap Aulia polos.


"aku tidak kenal kakakmu, aku juga tidak tahu siapa Freya yang kau maksud. tapi tentang cinta yang yang dapat memberikan kebahagiaan, itu benar" ucap Dika.


"lalu penyebab kakak melakukan hal nakal tadi, apa karna cinta?" Aulia penasaran.


"ya, sepertinya memang begitu" ucap Dika. "aku bingung, padahal aku sudah memberikan segalanya, tapi dia tetap tidak mau menerimaku"


"mungkin karna kakak nakal" ucap Aulia dengan polos.


"haha mungkin saja" Dika tertawa.


Aulia ikut tertawa. sepertinya dia merasa nyaman mengobrol dengan Dika, padahal Dika sudah melukai banyak orang, tapi dia sama sekali tidak melukai Aulia.


"boleh aku bercerita padamu?" tanya Dika.


"silahkan saja, aku juga sering mendengar cerita sebelum tidur" Aulia tersenyum lebar.


"seumur hidupku, aku hanya mencintai satu wanita. aku mengenalnya lima tahun yang lalu, saat itu aku hanya berani memperhatikannya dari jauh. tapi dua tahun yang lalu, akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatinya. hubungan kami jadi sangat baik, kami jadi semakin dekat, tapi... saat aku menyatakan perasaanku, dia malah menolak ku" ucap Dika. "dia menolak ku dengan alasan, 'aku sudah dianggap seperti kakak baginya'. beberapa hari kemudian dia malah berpacaran dengan pria lain, saat itu aku mulai merelakannya, aku lebih memilih dia bahagia dengan pilihannya. tapi pria itu malah menyakitinya. mereka putus, dia kembali padaku, menangis sambil bercerita padaku, tentu saja aku marah pada pria yang menyakitinya. aku membantunya keluar dari kesedihan, tapi saat dia sudah keluar, dia justru kembali memilih pria lain. hubungannya kali ini cukup lama, mungkin sekitar setahun, ya... setelah itu dia kembali disakiti. dia kembali lagi padaku, aku selalu menerimanya, apapun yang dia lakukan padaku, aku mencintainya. cinta itu indah, setiap orang memiliki kisah cinta yang luar biasa, karna itu... aku mulai membongkar setiap kebohongan dalam sebuah hubungan, aku menghukum setiap lelaki yang menyakiti wanita. dengan kemampuan yang aku miliki sejak kecil ini, aku menghukum mereka. aku juga sudah membunuh semua laki-laki yang menyakiti wanita yang aku cintai, aku menghabisi mereka, menyiksa mereka, dan membiarkan tubuh mereka lenyap di dunia ini. kemampuan ini membuatku dapat melakukan kejahatan tanpa harus takut ada yang mengetahuinya. tadi aku menyatakan cintaku lagi, tapi dia tetap menolak ku"


"apa kakak akan menyerah?" tanya Aulia.


"ya... aku menyerah, jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya" Dika tersenyum lebar. "aku akan mengurungnya di dunia ini, tidak akan aku biarkan dia keluar, aku... akan melindunginya, tidak akan aku biarkan dunia menyakitinya lagi"


Dika mengepalkan tangannya, seluruh urat di kepalanya menonjol, tapi kemudian dia kembali tenang.


"biasanya aku tidak banyak bicara, tapi kau sepertinya gadis yang baik, lagipula kau tidak akan mengerti apa yang aku bicarakan barusan" Dika tersenyum.


"aku suka cerita kakak" Aulia tersenyum.


"maaf ya... " ucap Dika.


***


Dika berkeliling dengan Aulia di dunia cermin miliknya, tiba-tiba mereka jadi sangat dekat, Aulia juga kelihatanya sangat senang.


"oh ya... sekarang jam berapa?" tanya Aulia. "apa kakak bisa mengantarkan ku kembali?, kakakku pasti khawatir"


"ayo, aku akan mengantarmu kembali" ucap Dika.


Dika mengantar Aulia kembali ke labirin cermin, "aku mengantar sampai sini saja ya!" Dika tersenyum.


"kakak tidak ikut?" tanya Aulia.


"tidak... aku memutuskan untuk tidak keluar dari dunia ini" ucap Dika.


Aulia melambaikan tangannya, "dadah!" perlahan Aulia menghilang, dia menembus cermin, sekarang dia kembali ke dunia nyata.


"saat sudah dewasa nanti, jadilah wanita yang bijak, ikuti kata hatimu, pilihlah laki-laki yang mementingkan kebahagiaan mu!" Dika berteriak sambil melambaikan tangannya.


saat Aulia berkeliling di kota di dunia cermin, Agi masih berada di taman hiburan, saat dia mencoba mencari diluar, mereka malah kembali, karna itu Agi tidak bertemu Aulia.


(scene kembali ke Agi)


saat aku ingin membuka peti itu, tiba-tiba muncul dua buah cermin raksasa. kedua cermin itu mengeluarkan anak panah yang terbuat dari kaca, mungkin lebih dari seratus anak panah ditembakkan, saking banyaknya sampai terlihat seperti hujan panah. aku menghindari semua anak panah itu, tapi salah satunya berhasil menggores pipiku.


"sial!, siapa sebenarnya orang yang memiliki dunia ini" aku benar-benar kesal.


"SIAPA KAU?!" teriak seorang pria.


"kau yang siapa?" tanyaku.


pria yang berteriak barusan adalah Dika. dia mengeluarkan sebuah cermin, lalu menembakkan ku dengan laser yang keluar dari cermin.


"aku tahu, jadi kau pemilik ability ini, dimana adikku?" tanyaku emosi.


"adikmu?, apa maksudmu?" Dika terus menembak ku dengan laser.


"kau adalah dalang dibalik tragedi setahun yang lalu, lima orang pria menghilang, bukankah kau pelakunya?" aku mencoba mendesaknya.


"memangnya kau punya bukti?, jangan seenaknya menuduhku sial!" Dika kelihatan marah.


"wanita itu... apa yang akan kau lakukan padanya?" aku menunjuk wanita didalam peti.


"kau tidak perlu ikut campur urusanku" Dika mengangkat tangannya, menunjuk ke langit.


cermin raksasa muncul di langit, saat Dika mengayunkan tangannya dan menunjuk ke arahku, tiba-tiba sebuah laser keluar dari cermin raksasa itu, aku serasa dihujani laser panas.


aku tidak merasa sakit, tapi bahu kananku menerima luka bakar yang parah, padahal hanya tergores sedikit. jika serangan itu mengenai seluruh tubuhku, dapat dipastikan aku akan mati.


aku harus menangkapnya, dia adalah pelaku tindak kriminal, selain itu kemungkinan dia menyembunyikan Aulia.


"pergilah dari sini, aku akan membiarkanmu" ucap Dika.


"aku tidak akan pergi sendiri, akan kubawa kau ke kantor polisi" ucapku.


"dasar keras kepala, lagipula bagaimana kau bisa masuk ke dunia ini?, tadi gadis kecil yang masuk, sekarang kau, apa tanpa sadar aku lupa menutup pintunya" ucap Dika.


Dika bilang 'gadis kecil', apa itu Aulia?, "dimana gadis kecil yang kau maksud?" tanyaku.


"dia sudah pergi sejak tadi" jawab Dika.


"apa dia baik-baik saja?" tanyaku.


"ya, dia baik-baik saja" jawab Dika.


"syukurlah...." aku kemudian tersenyum.


Dika kaget dengan sifat ku yang tiba-tiba berubah, "apa gadis kecil itu adalah adikmu?" tanya Dika.


"ya, dia adalah adikku, sejak tadi aku terus mencarinya, aku sangat khawatir" aku tersenyum menggaruk kepalaku.


"begitu ya, gadis kecil itu sangat pintar, dia ceria dan baik" Dika tersenyum. "jaga dia, jangan biarkan ada pria yang menyakitinya"


"tentu saja, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya" ucapku.


(scene berpindah ke Freya)


beberapa saat yang lalu, Aulia tiba-tiba keluar dari dalam cermin, tepat di hadapan Freya.


"AULIA!, SYUKURLAH... KAMU TIDAK APA-APA?" Freya memeluknya dengan sangat erat, tentu saja dia juga khawatir.


"Aulia tidak apa-apa!" jawab Aulia dengan senyuman lebar.


"dimana kak Agi?" Dariel menyela pembicaraan.


"bukannya kakak bersama kalian?" Aulia kebingungan.


"tidak, tadi Agi masuk kedalam cermin" ucap Freya.


(scene kembali ke Agi)


selama lima belas menit, entah kenapa kami malah membicarakan Aulia. aku menceritakan rencana ku kedepannya untuk Aulia, seperti membuatkan rumah untuknya, membelikannya banyak mainan, dan mengabulkan semua keinginannya.


setelah aku bercerita, Dika juga memberitahuku tentang masa lalunya, alasan dia membunuh, dan melukai banyak orang.


"aku hanya tidak ingin, dia mendapatkan cinta yang palsu" ucap Dika sambil menatap wanita di dalam peti.


"tapi yang kau lakukan salah, tidak seharusnya kau melakukan hal itu" ucapku. "jika yang kau lakukan demi dirinya, serahkan dirimu pada polisi, biarkan dia menemukan cintanya sendiri"


"tapi bagaimana?, sudah dua tahun, aku selalu menjadi teman ceritanya disaat dia sedang jatuh cinta. dia tahu bahwa aku mencintainya, tapi dia tidak bisa menerimaku, dan memilih pria lain. aku mencoba merelakan nya, tapi pria yang ia pilih pada akhirnya selalu menyakitinya" ucap Dika. "kali ini, aku tidak akan membiarkannya, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku"


aku mendekatinya dan menepuk pundaknya, "kau tahu kan?, cinta bukan suatu hal yang bisa dipaksakan"


setelah aku menepuk pundaknya, tiba-tiba hal aneh terjadi, dunia ini mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan, "apa yang terjadi?!" membuat Dika sampai panik.


cahaya itu membuatku tidak dapat membuka mata, dan saat cahayanya menghilang, aku membuka mataku, saat itu aku sudah berada di dunia nyata.


"kamu tidak apa-apa?" tanya Freya.


"kenapa tiba-tiba aku ada disini?" tanyaku balik.


"entahlah, barusan seluruh cermin di tempat ini mengeluarkan cahaya, saat cahayanya hilang, aku lihat kau sudah berada disini" Freya menjelaskan.


aku lupa, ability ku dapat menetralkan sementara ability orang yang ku sentuh. mungkin Dika terkena efek ability ku, sehingga dunia cermin nya memaksa kami keluar.


dan sepertinya bukan hanya kami berdua, tapi wanita di peti tadi, sekarang berada di hadapanku.


aku harus tetap fokus, biar bagaimanapun Dika adalah pelaku tindak kriminal, aku harus membuatnya menerima hukuman.


"Dika.... sekali lagi aku akan mengatakan ini, serahkan dirimu, jika tidak, aku akan memaksamu!"


Dika malah mengeluarkan sebuah pedang yang tercipta dari cermin, "sepertinya kau belum kuberi tahu tentang tujuanku. aku ingin menciptakan dunia, tanpa ada kepalsuan dalam cinta"


"melihat semua hal yang sudah kau lakukan, sepertinya kau akan mewujudkan rencana mu dengan cara yang salah. sayang sekali, kau adalah orang baik, tapi caramu untuk mendapatkan sesuatu itu salah" ucapku tersenyum.


"dan aku berdiri disini, untuk menyelamatkanmu!" dengan hati yang teguh, aku akan membuat Dika sadar.


bersambung....