
Matahari telah terbit, aku sudah bangun sejak pukul tiga tadi. semalam setelah pulang dari rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah. aku tidak sempat bertemu Freya, karna dia langsung pulang setelah mengantarkan Dariel dan Aulia.
kemarin aku sempat bilang pada Aulia, untuk tidak menceritakan apapun yang terjadi pada ayahku, dengan alasan itu akan membuat ayah sedih. untungnya Aulia menuruti perintahku.
soal yang dibicarakan Eugene dan Dimas semalam, aku masih belum diberitahu apapun. tapi aku baru ingat sesuatu, Irina dan Fiona adalah teman Freya, apa sebenarnya yang akan terjadi pada mereka?.
***
aku berinisiatif untuk mengantarkan Aulia pergi ke sekolah, hari ini dia sudah diperbolehkan untuk sekolah, karna trauma yang dia alami kemungkinan sudah sembuh.
pagi itu dia terlihat sangat bahagia. sebelum berangkat, ayah sudah membelikan sarapan untuk kami, kemudian kami bertiga makan bersama.
"hari ini apa kau akan ada kegiatan nak?" tanya ayah padaku.
"ya... hari ini aku shift malam" ucapku.
"kau tidak terpikirkan untuk melanjutkan sekolah?" tanya ayah.
"iya apa kakak tidak mau sekolah lagi?, Aulia ingin berangkat sekolah dan pulang bersama kakak, seperti dulu" ucap Aulia.
"entahlah... aku tidak terpikirkan untuk melanjutkan sekolahku" jawabku tersenyum. "tapi ayah jangan khawatir, aku tetap belajar setiap hari, Eugene selalu mengajariku belajar bahasa inggris dan fisika"
"baguslah kalau begitu" ayah tersenyum. "maaf ya nak, karna ayah kau tidak bisa melanjutkan sekolahmu, dan karna ayah kau harus bekerja untuk membantu keuangan"
"ayah tidak perlu meminta maaf seperti itu, ini adalah rasa terimakasih ku, karna ayah sudah menjadi ayahku" aku membalas tersenyum. "biar bagaimanapun, semua yang aku lakukan saat ini belum cukup, untuk membalas semua jasa ayah"
ayah memegang pundak ku, "kau... sejak kapan jadi se dewasa ini?" ayah terlihat bangga padaku.
"ini semua berkat ayah, ayah telah mengajariku banyak hal, aku sangat berterimakasih pada ayah" aku tersenyum.
"ayah benar-benar bangga padamu"
selesai makan, kami bertiga berangkat bersama. kebetulan proyek tempat ayah bekerja searah dengan sekolah Aulia.
ditengah perjalanan, kami harus berpisah dengan ayah. kami berdua melambaikan tangan, sambil berkata "AYAH SEMANGAT!!!" dengan senyuman lebar.
ayah ikut melambaikan tangan juga "KALIAN BERDUA JUGA SEMANGAT!" dia tersenyum dengan tulus.
saat-saat ini, entah mengapa ini yang ingin aku rasakan sejak dulu. saat-saat ini membuatku rindu, dengan kenangan kami bersama ibu.
"tuhan, aku tidak tahu apa yang kau rencanakan. kau memberikanku banyak musibah, kau bukan hanya menghancurkan mental ku, tapi kau juga sempat menghancurkan keluargaku. tapi biar bagaimanapun aku tetap percaya padamu, apapun yang kau lakukan, kumohon berikan akhir yang bahagia padaku, karna hanya kau yang dapat melakukan itu" begitulah isi hatiku saat itu.
akhirnya kami tiba di sekolah Aulia, aku hanya mengantarnya sampai gerbang.
"kakak hati-hati ya pulangnya" dia tersenyum.
"kau juga, belajarlah yang giat, agar menjadi wanita cantik dan pintar" aku tersenyum sambil mencubit hidung nya.
"oke!" ucap Aulia.
sebelum pergi, dia mencium pipiku, "hati-hati!" dia melambaikan tangan, lalu perlahan menjauh.
"jika kakak belum ada disini saat kau sudah pulang, jangan pergi, dan tunggu kakak" begitulah yang aku katakan sebelum pergi.
***
tiba-tiba Agam meneleponku, dia menyuruhku untuk bergegas ke kantor, aku langsung mengikuti perintahnya dan bergegas ke kantor.
saat aku membuka pintu, ternyata disana masih sepi. Agam turun dari tangga bersama Lingga. tak lama kemudian, Eugene, Dimas, Diana, dan Rei datang.
"kalian habis darimana?" tanyaku.
"aku dan Rei baru kembali dari pasar" ucap Diana.
"aku baru selesai sarapan" Eugene tersenyum.
"melihatku harusnya kau sudah tahu" ucap Dimas. dia menggunakan wujud seorang pegawai negri kali ini.
"SIAL... KENAPA KAU MEMBANGUNKAN KU?, KAU TIDAK TAHU AKU SANGAT LELAH HAH?!!!" Lingga sepertinya baru bangun, dan seperti biasa, dia mengawali hari dengan keluhan.
aku tersenyum menatap dirinya, "KENAPA MELIHATKU SEPERTI ITU?, APA KAU INGIN BERKELAHI?!!" mood nya sangat kacau.
aku menunduk, aku bingung kenapa masih takut padanya, "ma-maaf" kenapa aku malah meminta maaf.
"jadi kenapa kau menyuruh kami berkumpul?" tanya Rei.
"malam ini, dark tree mafia akan menjual Irina mantan pemilik iblis tingkat 4, dan Fiona yang memiliki ability unik, ke pasar gelap" ucap Agam.
"jadi, malam ini kita akan menghentikan mereka" ucap Eugene tersenyum.
"tapi untuk apa?, tidak biasanya kita mencoba mencari masalah lebih dulu dengan dark tree mafia" tanya Diana.
"karna kita membutuhkan Irina dan Fiona" jawab Dimas. "mereka berdua, kemungkinan memiliki informasi mengenai decay"
"itu berarti, malam ini kita akan berperang bukan?" tanya Rei.
"tentu tidak" senyuman licik Eugene tiba-tiba muncul. "mereka akan melelang Irina dan Fiona di pasar gelap, kita hanya perlu ikut lelangnya saja"
"tapi... apa kita memiliki uang?" dengan polosnya aku bertanya seperti itu.
tiba-tiba semuanya tertawa, bahkan Diana yang pendiam juga ikut tertawa. "a-ada apa?" aku kebingungan.
"hey, menurutmu alasan kita tidak memberi bunga pada orang yang meminjam itu karna apa?" tanya Dimas berusaha menghentikan tawanya.
aku hanya menaikan bahu dan menggelengkan kepala.
"pria disini, dia memiliki jumlah kekayaan yang besar. dia memiliki saham di perusahaan-perusahaan terkenal, dia juga memiliki banyak restoran, dan bukannya kau sudah diberi tahu?, kantor ini hanya kedok agar kita bisa mengumpulkan informasi dengan mudah" ucap Eugene sambil menepuk punggung Agam.
"dasar pecundang bodoh, hal seperti ini saja kau tidak tahu" Lingga menyahut ketus.
aneh sekali, aku selalu jadi orang terakhir yang mengetahui sesuatu tentang organisasi ini. padahal aku lebih dulu ada disini dari Lingga, tapi Lingga tau lebih banyak dariku, sungguh memalukan.
"baiklah, soal rencana, aku akan memberitahu nanti saat Ezeo sudah tiba" ucap Eugene tersenyum.
"lalu tujuan kami disini sekarang untuk apa?" tanya Diana.
"lalu cara kita untuk masuk, kalian hanya perlu memperlihatkan kartu ini" ucap Eugene tersenyum.
"wah... kartu ini sangat keren" ucap Rei membenarkan kacamatanya.
"apa rapat ini sudah selesai?, aku dan Rei harus menyiapkan sarapan, lalu bersiap untuk bekerja" ucap Diana.
"ya silahkan, maaf mengganggu waktu kalian pagi ini" ucap Agam.
Eugene mengajakku untuk ikut dengannya.
***
entah dia ingin mengajakku kemana, tapi sepertinya dia sedang serius saat ini.
karna suasana hening, aku mencoba untuk memulai percakapan, "apa kau sudah tahu, bagaimana cara kita menghentikan keluarga Ditya?" aku baru teringat bahwa aku masih memiliki janji, untuk menghentikan keluarga Ditya.
"tenang saja, misi kita nanti malam, akan berkaitan dengan mereka" Eugene tersenyum.
"lalu... bagaimana dengan ibuku?, apa sekarang bukan waktu yang tepat untukmu memberitahu padaku?" tanyaku.
"sebenarnya aku ingin bercerita nanti, tapi sepertinya aku bisa menceritakannya semalam" ucap Eugene.
"kalau begitu... cepat ceritakan padaku" ucapku menatap penuh keyakinan.
"13 tahun lalu, ibumu adalah seorang mata-mata, yang bertugas mencari jejak decay. saat itu devil Hunter belum terbentuk, kami memiliki organisasi sendiri saat itu" Eugene tersenyum.
"kami?" kata itu terasa sangat janggal di telingaku.
"ya!. aku, ibumu, Agam, Vincent, dan Daniel" lanjut Eugene.
"jadi kau sudah mengenal ibuku sejak dulu?" aku sangat kaget.
"hei... bahkan aku adalah orang pertama yang sadar bahwa kau memiliki ability" Eugene tersenyum.
"jadi... kau sudah lama mengenalku?" aku semakin dibuat kaget.
"ya!, kebetulan hanya aku yang mengenalmu, Agam sampai saat ini bahkan tidak tahu kalau kau anak dari Sarah" ucap Eugene. "saat itu kau masih berusia 3 tahun. saat aku kebetulan bertemu denganmu dan ibumu di sebuah pasar, ada orang yang kehilangan kendali atas ability nya, saat itu aku berusaha menghentikan orang itu. untuk sesaat ibumu mengalihkan perhatiannya, dan saat itu kau menghilang. tiba-tiba saja kau berada di samping pria itu, pria itu setengah tubuhnya sudah berubah menjadi serigala, dan saat kau menyentuhnya, boom... dia pingsan dan kembali menjadi manusia"
"aku yakin saat itu aku tersenyum sangat lebar, melihat hal yang sangat menakjubkan" Eugene terlihat kegirangan.
"sepertinya aku pernah membaca sedikit cerita ini dalam buku diari ibu. lalu setelah itu apa yang terjadi?" aku semakin penasaran.
"setelah itu.... kita lanjutkan nanti" Eugene malah tertawa terbahak-bahak.
"ayolah... aku ingin tahu kelanjutannya" ucapku.
"pelan-pelan saja, nikmati ceritanya" Eugene tersenyum.
dia benar-benar tidak melanjutkan ceritanya. tapi di buku diari ibu, aku sama sekali tidak pernah melihat nama Agam, Vincent, dan Eugene sebelumnya. jika mereka benar-benar pernah ada dalam satu organisasi, kenapa nama mereka tidak ada di buku diari itu?.
"Agam mungkin membawamu ke evening sun karna kejadian 2 tahun lalu, saat kau mengalahkan iblis. ya... meski kau tidak ada disana saat itu, kau tetap akan berada di evening sun, karna akulah yang akan membawamu" Eugene tersenyum.
meski aku tidak terlibat dalam tragedi dua tahun lalu, aku akan tetap jadi anggota evening sun, karna Eugene yang akan merekrut ku. ini seperti aku memang sudah ditakdirkan untu jadi bagian evening sun.
***
malam telah tiba, sudah dua jam lebih kami menunggu di pelabuhan. menurut informasi dari Dimas, kapal pesiarnya akan tiba puku 9 malam, dan itu lima menit lagi.
Suara kapalnya terdengar, berwarna putih dan sangat besar. satu persatu orang berkumpul, mereka mengenakan topeng seperti kami. pria memakai jas, dan wanita memakai gaun, sungguh mirip seperti pesta topeng, yang ada dalam dongeng Cinderella.
"masuklah satu persatu, mulai dari Agi dulu" ucap Eugene.
"ke-kenapa aku?, aku sangat gugup" ucapku.
"sudahlah... kita tidak punya banyak waktu" ucap Dimas.
dengan terpaksa aku maju lebih dulu, saat sampai di kapal pesiarnya, dua orang pria memeriksa tubuhku, lalu mereka menyuruhku untuk memperlihatkan tiketnya. aku menunjukkan kartu yang diberikan Eugene pada kami, akhirnya aku diperbolehkan masuk.
tiba-tiba aku ingin buang air kecil, aku mencari toilet terlebih dahulu, lalu mencari yang lain jika mereka sudah berhasil masuk.
saat sedang mencari toilet, aku bertabrakan dengan seorang wanita, "maaf..." wanita itu meminta maaf, sambil membungkuk dengan anggun.
"tidak masalah" aku tersenyum.
wanita dengan gaun merah muda, topeng berwarna putih, serta sepatu hak tinggi berwarna putih juga. dia terlihat sangat mempesona, tapi... entah mengapa aku tidak asing dengannya.
ya... kembali ke tujuan awalku, untuk mencari toilet. rasanya sangat lega setelah buang air kecil, sekarang saatnya mencari yang lain.
"dimana mereka" ucapku menyusuri kapal pesiar.
aku seperti dituntun ke sebuah tangga yang mengarah kebawah. karna penasaran aku masuk kesana, sangat gelap disana, saat aku menyalakan lampu, aku kaget karna ada Irina dan Fiona. mereka berdua sepertinya tidak sadarkan diri.
"sedang apa kau?" terdengar suara pria, sambil menepuk pundak ku.
jantungku berdetak kencang, nafasku terasa sesak, aku merasakan hawa membunuh yang luar biasa. aku menelan ludah dan mencoba tenang, perlahan aku menoleh kebelakang, "ah... tidak, aku hanya penasaran dengan isi ruangan ini" semoga dia tidak mencurigai ku.
"bisa tunjukkan kartu mu?" tanya pria itu.
"tentu..." aku tetap mencoba tenang, lalu memperlihatkan kartu milikku.
dia mengambil kartu ku dan memeriksanya, "hmm... ruangan ini tidak boleh dimasuki" ucapnya mengembalikan kartu ku.
"maaf" aku hanya tersenyum menggaruk kepalaku.
"silahkan keluar dan menunggu di dek kapal, dan semoga kau memenangkan lelangnya" ucap pria itu.
jadi benar, mereka berdua akan dilelang, tapi... siapa orang-orang yang akan membeli mereka?, dan untuk apa?.
lalu pria yang barusan... aku merasa bahwa dia bukan pria sembarangan. aku harus berhati-hati padanya.
bersambung....