Loser's Dream

Loser's Dream
SIAPA SEBENARNYA IBU SI PECUNDANG?



Kami sampai di depan FX Sudirman, Freya turun dari mobil dan berterimakasih pada Vanca, “terima kasih karna sudah mengantarku” sambil tersenyum, kemudian dia melambaikan tangan pada kami sambil berjalan mundur.


“hati-hati!” teriakku melambaikan tangan sambil tersenyum, aku juga tidak lupa memberinya semangat.


Vanca mengoper gigi dan memutar balikkan mobilnya, “kita pergi sekarang?” dia bertanya sambil mengoper gigi.


aku hanya mengangguk, kemudian Vanca menginjak gas nya, kami berangkat menuju rumah sakit tempat ayah dirawat. sebelumnya pihak rumah sakit sudah menelepon ku, katanya ayah dan adikku sudah bisa pulang, tapi dengan kondisi ayahku yang sekarang, aku takut dia akan kesusahan, terlebih aku juga tidak bisa membantu karna harus bekerja di evening sun.


sejak pertama bertemu Vanca aku sempat terpikir untuk meminta bantuannya, sayangnya Vanca selalu kelihatan sibuk, tapi seminggu belakangan ini dia senggang, jadi aku bisa meminta tolong padanya, untungnya dia tidak menolak dan mengiyakan, meski memberi satu syarat, ya... syaratnya juga tidak menyulitkan ku.


aku menanyakan sesuatu pada Vanca, setelah 5 menit kami hanya saling diam, “anak-anak panti tadi memanggil Davis papa, memangnya mereka ada hubungan apa?”.


“kau tidak tahu?, Davis adalah pemilik panti asuhan itu” ucap Vanca sambil menekan klakson, karna ada orang yang menyeberang sembarangan.


“apa?!” reaksiku kaget, “Agam yang memiliki seorang putra, dan sekarang Davis yang memiliki panti asuhan?!” aku tidak habis pikir, pria pemabuk seperti Davis ternyata memiliki panti asuhan.


“Lucy juga salah satu anak yang dia besarkan” Vanca mulai bercerita. “dahulu Davis adalah seorang tentara bayaran, lalu dia bertemu dengan gadis kecil, gadis itu berhasil merubah hidup Davis, ‘Lucy Scarlett’ itulah nama gadis itu” Vanca tersenyum sambil menekan klakson lagi, kali ini karna ada mobil yang ngerem mendadak.


“sudah berapa lama kau mengenal Davis?” tanyaku.


Vanca mempercepat laju mobilnya, kemudian mulai bercerita lagi, “13 tahun lalu aku adalah tim medis kemiliteran, saat itu adalah pertama kalinya aku bertemu Agam, Eugene, dan Davis”.


“Eugene? apa dia anggota militer juga?" tanyaku.


“bukan, Agam dan Eugene adalah anggota dari tim penyelidik khusus, yang bekerja menyelidiki apapun tentang iblis, sekarang mungkin kau mengenalnya dengan ‘Devil hunter’, dulu tim penyelidik itu tidak memiliki nama” jawab Vanca.


“lalu bagaimana dengan Davis?” tanyaku.


“saat itu terjadi konflik antara mereka bertiga, Davis berada di pihak yang berseberangan dengan Eugene dan Agam, tentu saja Davis ada di pihak itu karna dibayar, dulu Davis adalah orang yang akan melakukan segalanya demi uang. sampai suatu hari, di sebuah insiden yang menyebabkan kebakaran besar di beberapa gedung, Davis bertemu Lucy, meski seorang tentara bayaran berdarah dingin, hatinya tersentuh melihat Lucy yang sedang menangis, karna keluarganya meninggal saat kebakaran itu, waktu itu Davis melihatnya dari jauh, dia menggunakan ability dan tak sengaja melihat Lucy. aku melihat Davis yang sedang berusaha membunuh Eugene, tapi melihat Lucy yang tidak berdaya, dia lebih memilih meninggalkan tugasnya dan menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil, setelah kejadian itu mereka jadi selalu bersama” Vanca bercerita, hingga kami tiba di rumah sakit dan ia memarkirkan mobilnya. sambil membuka sabuk pengaman, dia berkata bahwa kami sudah sampai.


aku segera menuntun Vanca ke kamar ayah, disana aku lihat ayah sedang asyik menonton pertandingan sepakbola, dia terlihat senang saat melihat ku, “wah... Agi!, sudah lama kamu tidak berkunjung”.


“maaf yah, aku sangat sibuk belakangan ini” ucapku sambil mencium tangannya.


“halo pak” Vanca mengulurkan tangan sambil tersenyum. “aku teman sekantor Agi”


“begitu ya, maaf kalau Agi terkadang merepotkan ya” ucap ayahku tersenyum merasa tidak enak.


“justru aku yang harus banyak berterima kasih, anak bapak sangat membantu kami, dia anak yang rajin juga hebat!" Vanca tersenyum kemudian bilang ingin mengurus surat-surat kepulangan ayah dan adikku dulu.


saat Vanca sedang mengurus administrasi serta yang lainnya, aku dan ayah pergi keruangan adikku, saat membuka pintu, aku kira dia masih diam dan trauma, ternyata dia sudah bisa tersenyum lepas, dia terlihat gembira saat melihat ku, bahkan sampai berteriak memanggil namaku, “kak Agi!” dengan wajah senang dan mata berbinar.


Aulia Sarah Azhari, dia adalah adik perempuan ku, usianya masih 6 tahun, kulitnya putih, matanya sedikit sipit, dengan bola mata hitam yang indah, rambutnya yang lurus serta panjang, adikku adalah gadis paling cantik dan lucu di dunia.


dia masih bayi saat kedua orang tuaku bercerai, aku merasa kasihan padanya, karna tidak bisa merasakan bagaimana indahnya bercanda bersama keluarga, walau ditempat sempit yang sederhana.


Aku sangat dekat dengannya walau kami jarang bertemu, terkadang aku menjemputnya dari TK, lalu kami pulang bersama, setelah menjalani hari yang berat karna dibully, atau setelah dimarahi guru karna SPP ku menunggak, semuanya seakan hilang dari kepalaku saat melihat senyuman adik kecilku, tanpa kusadari dia juga salah satu kebahagiaanku.


adikku celingak-celinguk melihat sekitar, seakan mencari sesuatu, “dimana Kakak yang waktu itu?, dia tidak ikut?” dia bertanya sambil celingukan.


“maksudmu Freya?, dia tidak bisa ikut karna sedang sibuk” jawabku sambil tersenyum.


kemudian dia menghela nafas pendek, terlihat sedikit kecewa, lalu sambil cemberut dia berkata, “padahal aku ingin main dengan kak Freya”.


“saat ini kita pulang dulu, nanti kalau dia tidak sibuk, kakak akan mengajaknya bertemu denganmu” ucapku tersenyum sambil mengemasi barang nya.


setelah mengemasi barang-barang adik dan ayahku, Vanca datang dan membantu membawakan barang ke bagasi mobil. lalu aku dan adikku mendorong ayah dengan kursi roda, sesekali kami bercanda saat berjalan menuju mobil. Vanca sudah menunggu di mobil, “kita berangkat sekarang?” Vanca tersenyum di kursi kemudi, lalu Aulia menjawab, “AYO!” dengan penuh semangat dan tersenyum.


kami berangkat menuju rumah, aku sudah membujuk ayah untuk pindah ke kontrakan di sekat kantor, tapi dia tidak mau dan memilih kembali ke rumah kami yang sempit. padahal gaji yang ku terima dari Agam, cukup untuk membayar sewa kontrakan rumah yang lebih layak dari rumah kami, tapi dia tetap bersikeras kembali ke rumah yang dulu, dan menasehati ku, “daripada untuk sewa kontrakan, lebih baik uangnya kau tabung untuk masa depan mu" begitulah nasihatnya sambil tersenyum.


aku mengiyakan nasihat ayahku, lalu aku mulai bercerita pada ayah, bahwa besok aku harus pergi ke luar kota, “aku tidak tahu sampai kapan, tapi sepertinya akan lama” sambil membuka sebuah Snack untuk adikku.


“nanti malam aku akan menginap di rumah” aku tersenyum sambil memberikan Snack nya pada adikku.


“sekali lagi ayah minta maaf padamu, karna ayah tidak bisa membantu, dan kedepannya mungkin hanya akan menjadi beban buatmu” ucap ayah sambil menghela nafas.


“apa yang ayah katakan?, 15 tahun ayah bekerja supaya aku bisa makan, supaya bisa membeli susu untukku, dan memastikan aku bisa sekolah. seharusnya aku yang meminta maaf karna sudah merepotkan ayah selama ini, apa yang aku lakukan sekarang, belum cukup untuk membalas budi ayah” kata-kata itu keluar dari mulutku sambil tersenyum.


tiba-tiba ayah meneteskan air mata, adikku menatapnya kebingungan, “ayah kenapa?, kok menangis?”. ayahku menjawab sambil menyeka air matanya, “kakakmu... kita beruntung memilikinya”.


kami akhirnya sampai dirumah, aku langsung membawa ayah masuk, lalu menurunkan barang-barangnya dari mobil, Vanca juga ikut membantu. rumah tidak terlalu kotor karna aku sering berkunjung untuk membersihkannya.


“apa itu?, sudahlah nak, kau tidak perlu memberikan ayah apapun” ucap ayah tersenyum balik.


aku menatap Vanca kemudian mengangguk seperti memberi kode, Vanca menjawab dengan anggukan juga, lalu dia menyentuh punggung ayahku.


lingkaran sihir berwarna kuning muncul, Aulia terdiam kagum saat melihatnya, matanya berbinar seperti sedang melihat bintang-bintang, dia tersenyum lebar. sedangkan ayah, dia hanya sedikit melotot, hingga tiba-tiba lingkaran sihir itu bergerak melingkari kepala ayah, melewati tubuhnya, ke pinggang, sampai ke tempat yang sudah diamputasi, ayah terlihat seperti sedang di scan dengan peralatan canggih.


lingkaran itu kembali bergerak, perlahan kaki ayah muncul lagi, dari paha, dengkul, mata kaki, hingga akhirnya sampai ke telapak kaki, kaki ayah muncul kembali.


“coba gerakan perlahan” ucap Vanca pada ayah.


“ayah tidak perlu kaget, nanti aku akan menjelaskan semuanya” ucapku tersenyum.


ayah terdiam seribu bahasa, tapi sepertinya bukan karna melihat kakinya tumbuh kembali, ia kaget karna hal lain, “kau... kau sama seperti Sarah” dia malah menyebut nama ibuku dengan wajah kaget, “tidak!, aku yakin ini adalah kemampuan Sarah”.


“Sarah?, siapa Sarah yang kau maksud?” tanya Vanca benar-benar penasaran.


“apa maksud ayah?” aku ikut bertanya.


“kemampuan yang digunakan temanmu ini adalah milik ibumu, aku yakin sekali!” ucap ayahku.


“lalu kenapa?” tanyaku semakin penasaran.


“ability akan selalu bersama orang yang terpilih, sampai orang itu mati, jika diambil paksa, maka pemiliknya akan mati” jawab ayahku, kemudian dia bertanya pada Vanca dengan intonasi tinggi, “dimana kau mendapatkan ability ini?!!!, jangan-jangan kau yang membunuh Sarah!”.


“aku tidak mengerti apa yang kau katakan, lagipula mantan istri mu baru tewas tahun ini, aku sudah memiliki ability ini sejak 7 tahun yang lalu” jawab Vanca merasa terganggu.


Ayah memegang kepalanya, dia berteriak tiba-tiba, kemudian air mata keluar sedikit demi sedikit, Aulia Yang ketakutan sontak memelukku, “kakak... ayah kenapa?...” aku menenangkannya, “tenang saja... ayah hanya kaget” sambil tersenyum.


Vanca mencoba menenangkan ayahku, saat dia sudah mulai tenang, Vanca seperti mengingat sesuatu, “Sarah.... maksud mu Sarah Wulandari?” Vanca bertanya dengan wajah sedikit kaget.


“bagaimana kau bisa tahu nama lengkap ibu ku?" tanyaku.


“jadi dia ibumu?, dia adalah orang yang memberikan ku ability ini!” jawab Vanca.


“tidak mungkin!, seseorang harusnya mati jika special ability nya hilang dari tubuhnya, entah diberikan atau diambil paksa!” ucap ayahku bersikeras.


“aku bersumpah!” Vanca lalu bercerita, “7 tahun yang lalu, keluarga ku di bantai oleh iblis, tidak ada satu orangpun yang tersisa kecuali keponakan ku, saat itu perempuan bernama Sarah datang mencoba untuk menghidupkan keluarga ku yang sudah mati, tapi usahanya sia-sia, karna jiwa mereka sudah dimakan oleh iblis tersebut. saat aku menangis dan bersumpah akan membalas dendam, dia menggenggam tanganku, seketika aku merasa ada sesuatu yang masuk ke tubuhku, ternyata itu adalah special ability ini. sebenernya sampai saat ini aku juga bingung, kenapa dia baik-baik saja setelah memberikan ability nya padaku”.


ponsel Vanca berdering, dia mengangkat telepon nya, rupanya rumah sakit menyuruhnya bergegas kesana, mendadak dia harus melakukan operasi. dia pamit pada kami karna harus sampai dalam waktu 30 menit, saat dia pergi, ayah hanya terdiam dengan wajah yang masih kaget, dia seperti sedang berpikir.


“pemilik special ability pasti mati jika ability nya hilang...” ayah berbicara sendiri.


karna penasaran, lantas aku bertanya “siapa sebenarnya ibu?!” selama 9 tahun hidup bersama, aku baru tahu ibuku memiliki special ability.


“ibumu adalah pahlawan, dia menyelamatkan banyak orang dari insiden 18 tahun yang lalu” jawab ayah.


“insiden apa yang ayah maksud?” tanyaku semakin penasaran.


tiba-tiba ponsel ku berdering, yang menelepon ku adalah Eugene, aku langsung mengangkat telepon nya, dia hanya menyuruhku untuk berkemas, karna kami akan berangkat pagi-pagi sekali besok, aku mengiyakannya. lalu aku juga bilang padanya, kalau malam ini aku akan tidur di rumahku, besok aku akan kembali saat subuh, lalu dia hanya berkata “baiklah!” lalu disambung dengan “ngomong-ngomong soal ibu mu, nanti aku akan menceritakan semua hal yang bahkan ayahmu tidak tahu” aku yakin dia bilang begitu sambil tersenyum.


aku kaget karna Eugene mengetahui topik yang sedang kami bicarakan, aku langsung berpikir bahwa dia memiliki ability, tapi saat menyentuhnya aku tidak merasakan adanya ability. saat aku menyentuh pemilik ability, aku dapat merasakan sesuatu yang sejuk pada orang itu, tapi saat menyentuh Eugene, aku merasa biasa saja, seperti tidak merasakan apapun.


“bagaimana kau bisa tahu?” aku langsung bertanya padanya, lalu dia hanya menjawab “sudahlah, jika waktunya sudah tepat, aku akan menceritakan segalanya” aku yakin dia tersenyum lagi, kemudian dia langsung menutup teleponnya.


aku berpikir keras, bagaimana Eugene bisa tahu, tidak mungkin Vanca yang memberi tahunya. lalu aku kembali ke topik pembicaraan ku dengan ayah, aku kembali bertanya “insiden apa yang ayah maksud?” padanya.


“18 tahun yang lalu, terjadi insiden besar di kampung Kedaung, yang orang lain tahu, insiden itu disebabkan oleh ter*ris, tapi sebenarnya bukan. saat itu hari sudah gelap, udara terasa dingin, tiba-tiba ada sekelompok pria lewat di depan ayah, saat ayah sedang asyik bermain kartu dengan teman-teman ayah. awalnya ayah tidak curiga, tapi beberapa saat setelah sekelompok pria itu lewat, terjadi ledakan besar, para warga berkumpul di satu tempat untuk mengungsi, lalu sekelompok pria itu mendatangi kami. tiba-tiba saja tubuh mereka terbakar, mereka berubah menjadi iblis, mereka sangat mengerikan. dengan sekejap para iblis itu membunuh banyak warga, sampai 2 orang pria datang bersama ibumu, saat itu ayah belum mengenalnya, itu adalah kali pertama ayah melihat ibumu, dan ayah langsung jatuh cinta. kedua pria yang datang bersama ibumu langsung bertarung melawan iblis, mereka sangat kuat sampai bisa mengalahkan semuanya, ibumu dengan kekuatan ajaibnya membangkitkan warga yang sudah mati disebabkan iblis dan ledakan, dia juga menyembuhkan kami yang terluka, sampai saat ini ibu mu dianggap pahlawan oleh semua orang yang ia selamatkan, anehnya media bilang kejadian itu disebabkan oleh ter*ris” ayah bercerita panjang lebar tentang insiden 18 tahun yang lalu sekaligus awal pertemuannya dengan ibu ku.


saat aku bertanya lagi tentang “apa ada hal yang lain, yang ayah ketahui tentang ibu?” dia hanya menjawab “yang ayah tahu ibumu adalah anggota dari sebuah organisasi, tapi sampai saat ini ayah tidak mengetahui organisasi apa itu" begitulah jawabnya.


Karna hari mulai gelap, aku mengakhiri perbincangan ini dan pergi membeli makanan, kami makan malam bersama dengan penuh tawa, meski begitu aku masih memikirkan banyak hal tentang ibu ku, siapa dia? organisasi apa yang dimaksud?, siapa 2 orang pria yang diceritakan ayah?,dan bagaimana Eugene bisa tahu kalau kamu sedang membahas ibu ku?.


Eugene bilang dia akan menceritakan segala hal tentang ibu ku, yang bahkan tidak diketahui oleh ayahku, sepertinya Eugene memiliki sebuah hubungan dengan ibu ku.


selesai makan ayah dan Aulia membantuku mengemas pakaian, aku hanya membawa pakaian ku yang ada di rumah, lalu karna Aulia mengantuk, dia merengek memintaku untuk menemaninya tidur. aku mengiyakan dan tidur bersama di kamar yang kecil, kamar yang pernah dipakai aku, ibu, dan ayah untuk tidur bersama, walau terasa sebentar, semua itu membuatku bahagia.


akhirnya ayah dan Aulia tertidur, tapi aku tidak, karna aku masih memikirkan semua itu “siapa sebenarnya ibu ku?”.


bersambung....