
Sekarang kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar kota. aku, Eugene, dan Lingga sedang menunggu Devil Hunter menjemput kami, kami menunggu di sebuah halte yang terletak di depan FX Sudirman.
aku pamit pada ayah tadi subuh, sekitar pukul 04.30 pagi, ayah membangunkan ku pukul 03.45, Aulia ikut terbangun karna aku berisik saat mencari belati pemberian Eugene, karna sudah terlanjur bangun akhirnya dia menemaniku mencari belati nya, aku yakin bahkan dia tidak tahu belati itu apa, dia hanya ikut-ikutan.
setelah setengah jam kami mencari, aku baru ingat kalau belati nya ada di kantor, aku meletakkan nya disebuah laci di kamarku, saat mengingatnya aku merasa lelah sendiri dan menghela nafas panjang. selain masih ceroboh... sepertinya aku juga masih pelupa.
aku kembali ke kantor naik taksi, saat berpamitan, aku memberikan uang pada ayah, mungkin uang itu cukup untuk makan mereka selama sebulan, ayah bilang dia juga akan mencari kerja lagi. Aulia menatapku dengan wajah sedih “kakak jangan pergi terlalu lama” dia bicara dengan intonasi lemah, aku merasa tidak tega, “tenang saja, saat kakak kembali, kita akan main bersama lagi, dengan kak Freya juga!” kemudian dia sedikit tersenyum lalu mengacungkan kelingking nya, “kakak berjanji?” akhirnya kami melakukan perjanjian Kelingking, “janji!”.
sejujurnya aku masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan adikku, tapi karna aku sadar suatu hari Decay bisa jadi sangat berbahaya, aku memutuskan untuk jadi lebih kuat agar bisa mengalahkan mereka semua, semuanya juga demi menciptakan masa depan yang aman untuk Aulia.
sesampainya di kantor, aku berpapasan dengan Eugene di depan pintu, dia menyuruhku bergegas karna Lingga sudah lebih dulu pergi ke halte, akhirnya aku berlari ke kamar untuk mengambil belati pemberian Eugene, dan langsung menuju halte bersama Eugene.
begitulah kira-kira yang terjadi pagi ini, sebelum kami bertiga merasa bosan karna menunggu jemputan di halte.
“sial!, sampai saat ini para bajingan itu belum juga sampai!” ucap Lingga kesal sambil menendang sebuah botol.
“benar!, para bajingan itu tidak bisa menghargai waktu, aku berpikir mungkin saja macet, tapi sekarang masih pukul 05.00, hanya ada 8 kendaraan yang lewat sejak tadi. apa mereka tidak diajarkan disiplin?, sialan sepertinya aku harus mendisiplinkan para bajingan itu!” ucap Eugene mengeluh lebih panjang dari Lingga.
aku hanya tersenyum sambil menyimak keluhan mereka, tidak sampai 10 menit setelah mereka mengeluh, sebuah mobil dengan kapasitas 6 orang menghampiri kami, akhirnya jemputan nya datang.
seorang pria keluar dari mobil, “biar aku bantu angkat barang-barang kalian ke mobil” pria itu lantas membuka garasi, dan membantu mengangkat koper kami.
Lingga yang kesal sepertinya ingin memukul pria itu, “kau membuang 30 menit waktuku yang berharga bajingan!!!” sambil ancang-ancang ingin memukul, tapi dihentikan olehku.
Eugene malah ikut-ikutan dan memarahi pria itu, “apa di Devil Hunter sekarang tidak mengajarkan disiplin lagi hah?!, sialan kalian membuang banyak waktu!” dengan wajah mengesalkan dia mengatakan itu, aku ingin tertawa melihatnya.
“ban kami tadi bocor, jadi kami harus memperbaiki nya terlebih dahulu!” ucap seorang wanita ketus dari dalam mobil.
“wah-wah lihat, siapa bajingan di dalam sini yang berani menjawab!!!” ucap Lingga melihat kedalam lewat kaca.
“apa?!, kau mau mengajakku berkelahi?!” wanita itu menjawab Lingga dengan ketus lagi.
“cara bicara mu selalu membuat orang lain kesal... Agatha” ucap Eugene tersenyum sambil melihat kedalam mobil.
rupanya itu Agatha, dia datang bersama Rize dan Isla, saat aku menjalankan misi untuk menangkap iblis yang bersembunyi di angels48, yang ternyata iblis itu adalah Irina, salah satu membernya. saat itu dia terluka dan dilarikan ke rumah sakit bersama Davis, Lucy, dan Cakra dari dark tree mafia.
“halo!, lukamu sudah pulih?” aku tersenyum hangat sambil bertanya pada Agatha.
“ti-tidak usah sok peduli!” dia tiba-tiba memalingkan wajahnya setelah aku bertanya, wajahnya memerah.
aku hanya tertawa canggung mendengar jawabannya, aku berpikir "apa kata-kataku ada yang salah?" sambil menggaruk kepala.
melihat diriku yang diperlakukan begitu, Eugene tertawa keras sambil menepuk-nepuk punggungku, “haha sepertinya kau mendapatkan satu penggemar!” tertawanya semakin keras.
Agatha melotot kearah Eugene, akhirnya Eugene berhenti tertawa, meski begitu dia masih cengengesan, “kau tahu?, berurusan dengan wanita yang sedang jatuh cinta adalah hal yang paling merepotkan” ucap Eugene berbisik padaku.
aku tidak mengerti apa yang dikatakan Eugene dan hanya tersenyum tipis saja.
setelah semua barang dinaikkan ke bagasi, kami langsung berangkat ke bandara, Agatha bilang yang lain sudah berada disana. sampai sekarang aku masih belum tahu kami akan pergi kemana, Eugene belum memberitahu sama sekali, akhirnya karna penasaran aku menanyakannya pada Eugene, “sebenarnya kita mau kemana?”.
“kita akan ke Kalimantan” jawab Eugene tersenyum.
“pelatihan apa yang akan kami lakukan?” tanyaku.
“ya... hanya latihan militer biasa, mungkin ditambah sedikit untuk melatih ability” jawab Eugene mengangkat bahu.
“berhentilah mengobrol!, aku mau tidur!” ucap Lingga memejamkan mata.
aku dan Eugene menghiraukannya, kemudian Eugene memberitahu satu hal lagi, “khusus untukmu dan Lingga, kalian akan diajari cara menyegel iblis” Eugene mulai membuka Snack.
“tapi aku bisa mengalahkan iblis tanpa harus menyegelnya” ucapku.
“kau benar, tapi tetap saja kau akan diajari untuk jaga-jaga, tidak semua iblis bisa kau kalahkan dengan tanganmu, mungkin suatu saat kau butuh segel ini” ucap Eugene sambil merogoh snack nya. “terutama teknik belati mu, sebenarnya cukup bagus... tapi kau masih kurang lihai, terlebih harusnya kau bisa mengalirkan kekuatan mu kedalam belati itu, dan sepertinya saat ini kau belum bisa melakukannya”
aku hanya mengangguk sambil melihat jalanan yang masih sepi.
setengah jam berlalu, akhirnya kami sampai di bandara, matahari sudah mulai terbit, saat turun dari mobil udaranya terasa segar. aku melihat para anggota Devil Hunter sedang berbaris, saat aku ingin membantu memindahkan koper kami ke bagasi pesawat, si supir malah menyuruhku dan Lingga untuk ikut berbaris “kalian pergilah kesana, biar aku yang memindahkan barang-barang kalian".
“terima kasih!" begitu ucapku, seketika langsung masuk ke barisan.
Vincent berdiri di depan kami, menjelaskan hal-hal yang akan kami lakukan saat pelatihan, saat aku celingukan melihat sana-sini, aku lihat Rize dan Isla ada di barisan depan, mereka terlihat segar dan bersemangat.
sebelum naik aku sempat mencari Eugene, tapi rupanya dia sudah naik terlebih dahulu, dan saat ini dia sedang asyik menyantap puding. karna naik paling terakhir, aku jadi tidak bisa memilih tempat duduk, dan harus duduk di tempat yang tersisa. yang tersisa hanya di sebelah kanan Agatha, dia duduk di sebelah kanan dekat jendela, tepat dibelakang ku ada Lingga yang duduk bersama Isla, di depanku ada Eugene dan Vincent, lalu di seberang sebelah kananku ada Rize.
pesawat lepas landas, di perjalanan kami mengobrol, bercanda, dan bernyanyi, ini sangat menyenangkan.
(scene berpindah ke Regi)
Regi berjalan di lorong menuju sebuah ruangan, lorong itu hanya diterangi oleh obor, dia berjalan sambil cekikikan sendiri. saat sudah hampi sampai di ruangan itu, dia mengeluarkan lingkaran sihir dan mengambil celuritnya dari dalam, kemudian dia menyeretnya hingga terdengar decitan, “aku tidak sabar... AKU TIDAK SABAR! hahaha!” dia bicara sendiri sampai akhirnya dia membuka pintu ruangan itu.
“lama tidak bertemu... Xaverio!” ucap Regi menjilat celuritnya.
di dalam ruangan itu ada pria yang sedang melukis, pria itu adalah 'Isaac Xaverio', dia memiliki kontrak dengan iblis tingkat 3.
“aku sudah membunuh pengkhianat organisasi kita!, sebagai bayaran, aku mau kau memperkuat ability ku” ucap Regi.
Xaverio kemudian menoleh dan berkata, “baiklah!" sambil tersenyum.
ability Xaverio membuat dia dapat memperkuat ability orang lain, dengan syarat orang itu harus membuat kesepakatan dengannya, jika kesepakatannya di langgar, maka orang yang melanggar akan di bunuh oleh ability nya sendiri.
“kau sudah tau konsekuensinya kan?" tanya Xaverio berdiri sambil mengarahkan telapak tangannya pada Regi.
“sudah cepat lakukan saja!" ucap Regi cekikikan.
tubuh Regi kemudian kelilingi oleh cahaya berwarna hijau, cahaya itu membungkus menjadi bola, lalu muncul tulisan-tulisan aneh di luarnya, sampai akhirnya bola itu meresap ke tubuh Regi, dan membuat celurit Regi yang awalnya berukuran 1,2 meter, menjadi 1,7 meter.
“hahaha!, aku merasakannya, senjata ini jadi lebih kuat sekarang!” ucap Regi sambil meraba celuritnya.
“apa yang akan kau lakukan setelah ini?, apa kau akan membunuh bocah itu?” Taya Xaverio kembali duduk.
“membunuhnya sekarang tidak akan seru, akan ku rampas segala miliknya terlebih dahulu, akan ku buat dia menderita karna kehilangan, setelah itu... baru ku penggal kepala nya dengan celurit ini!” ucap Regi sambil menjilat celuritnya.
“oh ya!, ability yang didapatkan iblis mu adalah 'mind manipulation', benar begitu?” tanya Xaverio.
“ya, memangnya kenapa?" ucap Regi dengan wajah jengkel.
“kenapa kau tidak memanipulasi pikiran ku saat ini?” tanya Xaverio sambil menunjuk kepalanya.
“hihihi entahlah, aku tidak bisa menggunakan ability ku pada mu” ucap Regi cekikikan.
“ah... aku mengerti!, karna ada iblis di dalam diriku, kau jadi tidak bisa menggunakannya, karna iblis di dalam diriku ini dapat menyadarkan ku, saat kau memanipulasi pikiran ku!, benar begitu kan?!” Xaverio menjelaskan sambil tersenyum lebar.
“haha padahal aku berniat untuk menyembunyikan informasi itu, kau sungguh mengerikan!” ucap Regi mengacungkan celuritnya.
Regi kemudian berjalan menuju luar, dia mengeluarkan lingkaran sihir dan memasukkan celuritnya, kemudian bicara sendiri lagi, “aku tidak sabar... akan ku hancurkan hidupmu...” dia bicara seperti orang yang sedang merasakan hasrat seksual.
“hati-hati!, dan jangan lupa tutup lagi pintunya!" teriak Xaverio sambil melambaikan tangan.
Regi menutup pintunya dan pergi sambil tertawa.
(scene kembali ke Agi)
aku tertidur di pesawat, dan saat dibangunkan, aku kaget karna kami sudah sampai, kurasa aku baru tidur 5 menit kami mengangkut barang-barang kami sebuah bis, rupanya masih harus naik bis untuk sampai ke tempat tujuan.
setelah 20 menit naik bis, akhirnya kami sampai tempat tujuan, sebuah villa besar di tengah hutan, dengan pemandangan indah, banyak tumbuhan mawar di sekitar villa nya, padahal kami sedang melakukan pelatihan, tapi rasanya seperti sedang rekreasi.
selesai memindahkan koper ke kamar, Rize langsung mengajakku berkeliling. satu kamar diisi oleh 4 orang, aku sekamar dengan Lingga, Rize, dan Isla.
saat sedang asik berkeliling, tiba-tiba Eugene malah memanggil ku, dia kemudian mengajakku ke atap untuk mengobrol.
“apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku.
Eugene kemudian berjalan mendekat ke pagar pembatas di atap, dia memegang pembatas nya dan berkata, “jika yang dikatakan Ditya benar, kemungkinan mereka mengikuti kita, dan akan menyerang mu saat kita lengah”.
“kalau begitu apa yang harus aku lakukan?" tanyaku bingung.
“tenang saja!, selama ada aku, kau pasti aman!" ucap Eugene menoleh ke arahku dan tersenyum.
bersambung....