Loser's Dream

Loser's Dream
KAU HANYA IRI



Untuk kesekian kalinya, Dika mencoba menarik ku, kembali ke dunia cermin nya. dia berencana untuk melawanku di dunia cermin, karna disana dia dapat melakukan apapun, tentu saja kemungkinannya untuk menang disana lebih besar.


"sepertinya memang sulit" ucap Dika.


"menyerah lah" ucapku.


Dika menghiraukan ku, dia masuk kedalam cermin, lalu keluar dari cermin yang berada di belakangku. dia mencoba menebas ku, tapi aku dapat menyadari serangannya, meski begitu sepertinya aku sedikit terlambat untuk menghindar, serangannya membuat luka di punggungku.


Freya sudah pergi bersama Dariel dan Aulia, beberapa saat yang lalu aku memerintahkan mereka untuk pergi ke tempat yang aman.


setiap orang yang diculik dan dilukai oleh Dika, sepertinya ikut terpental dari dunia cermin. polisi sudah mengevakuasi mereka.


"kenapa kau harus melakukan semua itu?, kau bukan hanya menghancurkan hubungan orang lain, tapi kau juga melukai mereka" ucapku.


"apa yang kau katakan?, aku hanya memperlihatkan mereka sebuah kenyataan. orang yang mereka cintai, hanyalah orang munafik yang penuh kebohongan, semua terbukti saat mereka lari meninggalkan pasangannya" ucap Dika.


"apa untungnya kau melakukan itu?" aku bertanya kesal.


"memang sepertinya tidak ada untungnya bagiku, tapi... bukannya bagus jika aku menampakkan kejujuran?" jawab Dika. "gadis yang bersamamu tadi, bahkan dia meninggalkan mu, meski kau yang menyuruhnya, setidaknya harusnya dia menolak terlebih dahulu. bukalah matamu, terlihat jelas bahwa gadis itu tidak peduli denganmu"


aku berlari mencoba menerjang Dika, dia menghindar dengan cara masuk kedalam cermin. selalu seperti itu, masuk lalu keluar lewat titik buta ku, setelah itu menyerang ku.


tapi tubuhku sudah terbiasa, aku juga mulai memahami pola serangannya, hingga akhirnya, aku berhasil memukul wajahnya.


"biar kuberi tahu satu hal. dia meninggalkan ku, bukan karna tidak peduli padaku, tapi karna dia percaya padaku" ucapku.


Dika memegangi pipinya, dia mencoba berdiri, "apa maksudmu?" dia terlihat geram.


"aku sudah banyak melewati pertarungan yang mengerikan, bertarung denganmu, saat ini, tidak lebih hanya seperti latihan bagiku" ucapku. "dia sendiri pasti mengetahui hal itu, karna itu... dia percaya bahwa aku pasti bisa mengalahkan mu"


seluruh cermin di dalam labirin tiba-tiba mengeluarkan cahaya, seperti ingin menembakkan laser. aku segera melompat dan menerjang Dika, aku berhasil mendekapnya. serangannya berhasil ku hentikan, kami berdua terjatuh bersama.


"apa-apaan, kenapa serangan ku tidak jadi keluar?" Dika kebingungan.


aku segera mengunci lehernya, "berhentilah, aku tahu kau adalah orang baik. kau melakukan semua itu hanya karna emosi, hatimu yang sebenarnya sangatlah lembut" ucapku.


"aku sudah melukai banyak orang, aku juga sudah membunuh orang, dan kau masih bisa mengatakan bahwa aku 'lembut'?" Dika berusaha melepas kuncian ku.


"ya!, untuk wanita yang kau cintai, kau adalah orang paling lembut di dunia ini" ucapku.


Dika mencolok mataku, dia berhasil lepas dari kuncian ku, "aku benar-benar tidak mengerti" ucap Dika.


aku kesulitan membuka mataku, dan sepertinya Dika sudah siap untuk menyerang ku, "aku akan menyingkirkan siapapun yang mencoba menggangguku, lagipula kita baru saling mengenal beberapa saat yang lalu" Dika mengeluarkan cermin raksasa.


cermin itu menembakkan laser, walau mataku tidak terbuka, tapi cahayanya menembus kelopak mataku. aku pasti akan mati.


tapi tiba-tiba aku merasa ada yang melesat melewati ku. untungnya aku sudah bisa membuka mataku, saat itu, di depanku, dewi perang berdiri dan memotong serangan Dika.


"aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya" suara Freya terdengar.


"kenapa kau kembali" Dika terlihat kecewa.


"tentu saja aku akan kembali, karna aku berjanji, akan melindunginya saat dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri" ucap Freya.


Dika terlihat sangat kecewa, sekali lagi seluruh cermin didalam labirin mengeluarkan cahaya. aku segera mengajak Freya untuk keluar dari dalam labirin. ledakan terjadi, membuat kami terpental, tapi aku berhasil menangkap Freya, dan menahan tubuhnya.


"kau tidak apa-apa?"


"aku tidak apa-apa"


***


keadaan jadi sangat kacau, kebakaran besar terjadi. didalam api, aku melihat sesuatu yang berkilau, ternyata Dika melindungi tubuhnya dan wanita yang ia cintai menggunakan cermin.


"kenapa kau sangat naif?, jika kau menggunakan seluruh kemampuan mu, kau mungkin sudah meringkus nya sejak tadi" suara Eugene terdengar.


Eugene datang dengan senyumannya, dia berjalan melewati api, dan langsung membanting Dika yang sudah kelelahan.


"lepaskan aku!" Dika mencoba melawan.


"berhenti, apa yang kau lakukan sia-sia, kau tidak dapat memaksakan cinta seseorang untukmu" ucap Eugene dengan wajah serius.


"berhenti!, jangan sakiti dia!" Aulia berlari dan mendorong Eugene.


"jangan sakiti kakak ini!" Aulia mencoba melindungi Dika.


"kau... kenapa kau melindungi ku" Dika kebingungan menatap Aulia.


"lihat saja kakakku, dia juga sudah siap untuk membantu mu" ucap Aulia.


yang dikatakan Aulia benar, saat Eugene membantingnya, aku memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menghentikan Eugene. tapi Aulia lebih dulu berlari dan mendorong Eugene.


"kakak ini orang baik, Aulia tidak akan membiarkanmu menyakitinya!" ucap Aulia.


Eugene hanya tersenyum dan mengusap kepala Aulia.


"kita memang baru mengenal, tapi aku tau, kau adalah orang yang sangat baik, aku bisa menjamin hal itu" ucapku. "kau berbuat jahat hanya saat kau dibutakan oleh emosi karna cinta, tapi aku yakin, hatimu menolak melakukan semua itu"


"perlahan saja..." ucap Freya pada wanita yang dicintai Dika.


"Dini!" Dika menghampiri wanita itu.


Dini tersadar, dia memegangi kepalanya. saat matanya benar-benar terbuka, dia sempat kaget dan kebingungan.


"a-apa yang terjadi?" tanya Dini.


"penyakitmu kambuh, dan kau sempat pingsan tadi" jawab Dika.


"ada apa dengan taman hiburan ini?, kenapa banyak api?" Dini semakin kebingungan.


"kau tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi. kumohon berhentilah berdiri dibalik bayang-bayang ku, lupakan aku, dan jalani hidupmu dengan benar" ucap Dini. "aku berterima kasih, karna kau selalu melindungi ku, kau juga selalu ada saat aku sedang hancur. aku juga minta maaf, karna tidak bisa membalas perasaanmu"


"tapi... kenapa?!" Dika terlihat sangat kecewa.


"aku tidak ingin merenggut senyuman mu" ucap Dini tersenyum.


"apa maksudmu?, justru dengan menolak ku begini, kau akan semakin menghancurkan ku" Dika mulai meneteskan air mata.


"sudahlah, menangis seperti itu hanya menghancurkan harga dirimu" ucap Eugene.


"DIAM, KAU TIDAK TAHU APAPUN!" Dika terlihat marah.


"mau kuberi tahu satu hal?" Eugene tersenyum.


"alasan kau membunuh setiap orang yang menyakiti Dini, salah satu alasannya adalah karna kau cemburu. kau kesal karna Dini menerima cinta mereka, sedangkan kau ditolak mentah-mentah. lalu alasan kau menyerang beberapa pasangan, bukan untuk memperlihatkan kebenaran atau sebagainya, tapi karna kau muak melihat orang lain memiliki kisah cinta yang mulus. ya... kesimpulannya, alasan kau melakukan semua kejahatan adalah, karna kau iri" Eugene tersenyum.


Dika mulai merenung, dia menatap wajah Dini, "sepertinya kau benar" lalu dia tersenyum.


"aku... terlihat sangat menyedihkan ya?" tanya Dika pada Eugene.


"tidak!, kau sangat hebat" jawab Eugene. "pria-pria yang kau bunuh, mereka pelaku tindak kriminal, bahkan salah satunya adalah pengedar. kau juga tidak sembarangan menyakiti seseorang, setiap orang yang kau sakiti, sebelumnya kau sudah melihat kebenaran tentang mereka bukan?. mereka yang kau lukai adalah pria bajingan, yang hobi memainkan perasaan wanita. tindakan mu memang salah, dan tidak pantas untuk di puji, tapi bagi Dini, kau sudah cukup hebat"


"dia benar, kau harus berhenti melakukan semua itu. aku mau kau memikirkan dirimu sendiri" ucap Dini tersenyum.


"begitu ya... jadi sudah waktunya untukku berhenti". Dika tersenyum.


Dika mencoba berdiri, Aulia dengan sigap membantunya, "kakak... kau adalah orang yang keren, jadi menurut Aulia, jalani lah hidup kakak dengan baik, tidak perlu iri dengan hidup orang lain, karna kakak adalah yang terbaik" Aulia tersenyum.


"kau benar-benar gadis yang baik" Dika tersenyum sambil mengusap kepala Aulia.


akhirnya Dika setuju untuk menyerahkan dirinya. Eugene membawanya ke penjara khusus pemilik special ability.


"sekali lagi, jaga selalu senyuman gadis itu" itulah yang dia katakan padaku sebelum naik ke mobil.


polisi menutup kasus penyerangan dan pembunuhan setahun yang lalu, dan tragedi di taman hiburan tadi, polisi mengatakan pada media, bahwa hal itu disebabkan oleh mafia.


soal Dini, alasan dia menolak Dika adalah karna penyakit gagal ginjalnya. dua tahun lalu, sejak ia pertama kali tahu kalau ia memiliki penyakit itu, kemungkinan hidupnya paling lama sampai empat tahun lagi. dia juga mencintai Dika, tapi dia tidak mau melihat Dika hancur saat ditinggalkan olehnya, karna itu dia selalu menolak Dika, membuat dirinya seakan tidak pernah memiliki perasaan pada Dika. padahal... sejak pertama kali bertemu, dia langsung jatuh cinta pada Dika.


dia menjalin hubungan dengan pria lain, untuk melupakan Dika, tapi ternyata semua sia-sia, bahkan saat menolaknya tadi, hatinya terasa sangat sakit.


***


Eugene mengantarkan ku untuk menemui Vanca, sementara Freya mengantar Dariel dan Aulia pulang, karna sudah kelelahan.


"tuhan memang kejam, mereka berdua saling mencintai, tapi tuhan menghalanginya" ucapku.


"terkadang kasih sayang Tuhan itu bukan apa yang ia berikan padamu, tapi apa yang ia singkirkan darimu" ucap Eugene tersenyum. "mungkin saja Dika bukanlah yang terbaik untuk Dini, begitu juga sebaliknya. dan jika mereka benar-benar memiliki takdir untuk bersama, mungkin suatu saat tuhan akan menyatukan mereka"


Aku tetap merasa bahwa Tuhan itu kejam, entah mengapa pikiran seperti itu muncul lagi di otakku.


"menurutmu cinta itu seperti apa?" tanyaku.


"cinta adalah hal yang paling sulit di artikan, semua terjadi karna cinta. bahkan dunia ini tercipta karna rasa cinta Tuhan pada laki-laki yang sejak awal namanya sudah ada di surga" jawab Eugene tersenyum. "ya... kesimpulannya, dunia ini butuh cinta"


"apa kau pernah jatuh cinta?" tanyaku.


"entahlah, aku belum pernah jatuh cinta, kecuali pada Tuhan" ucap Eugene. "kau sendiri?, bagaimana perasaanmu padanya?"


"entahlah, aku bingung" ucapku tersenyum.


"apa kau tidak pernah terpikirkan untuk berpacaran dengannya?" tanya Eugene.


"a-apa yang kau katakan" wajahku memerah.


Eugene hanya tertawa, dan setelah itu keadaan menjadi sunyi.


"kami berdua hidup di dunia yang berbeda, dia yang sejak kecil hidup lebih dari cukup, dan aku yang sejak kecil penuh kekurangan. memikirkan cinta ditengah keadaan genting seperti saat ini mungkin akan membuatku lengah, kita tidak tahu kapan decay akan muncul kepermukaan, saat itu tiba, mungkin mereka sudah siap untuk menghancurkan kita" ucapku. "lagipula... aku tidak pernah terpikirkan untuk pacaran. aku hanya akan jatuh cinta pada satu wanita, dan wanita itu adalah istriku, aku hanya akan jatuh cinta pada wanita yang sudah menjadi istriku"


"wah... pikiranmu ternyata dewasa ya" Eugene tersenyum.


***


kami sampai di rumah sakit, untuk kedua kalinya hari ini. Vanca menggelengkan kepalanya, ya... karna tadi siang dia baru menyembuhkan lenganku, dan sekarang aku sudah datang dengan luka lagi.


saat kami ingin pulang, kami bertemu pria dengan harmonika yang tergantung di celananya, di lobi rumah sakit.


pria itu adalah Dimas, dia memakai wujud orang lain lagi, "Irina dan Fiona, tiga hari lagi mereka akan dijual ke pasar gelap" Dimas kelihatan serius.


"Irina... dan Fiona?..." aku merasa kebingungan.


"sesuai perkiraan ku, tapi ini cukup lama, sudah satu bulan merek menculiknya, tapi baru ingin dijual" Eugene tersenyum.


"jadi apa kita harus bergerak sekarang?" tanya Dimas.


"tentu saja... besok malam, kita akan bergerak" Eugene tersenyum.


"aku akan kembali dan melapor pada Agam" ucap Dimas .


"ya, hati-hati" ucap Eugene.


"ada apa sebenarnya?" tanyaku.


"besok kau akan tahu, malam ini beristirahatlah dengan cukup, besok kita akan berperang" Eugene tersenyum.


aku hanya diam kebingungan, tapi... sepertinya besok akan ada hal besar yang terjadi.


bersambung....