
Kami berangkat ke taman hiburan naik kereta, sekitar setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesana, untungnya Aulia dan Dariel merasa gembira di kereta.
aku melihat Dariel seperti seorang kakak bagi Aulia, mereka seringkali bercanda, bahkan sesekali Dariel membuat Aulia terbahak-bahak.
aku gembira melihat Aulia yang seperti itu, dia sepertinya sudah melupakan trauma nya, aku sangat bersyukur.
"kakak... apa tempatnya masih jauh?" tanya Aulia.
"sebentar lagi kita sampai" jawabku tersenyum.
***
akhirnya kami sampai, kami semua langsung menuju ketempat registrasi, setelah selesai melakukan registrasi, kami semua masuk.
rasa takjub terlihat jelas di wajah Dariel dan Aulia, mereka menatap pemandangan di taman hiburan dengan mata berbinar. sejak kecil Aulia memang belum pernah ketempat seperti ini, kami tidak memiliki uang untuk datang ketempat seperti ini. sepertinya Dariel juga sama, karna sejak kecil hidup di panti asuhan, jadi wajar jika dia belum pernah ke wahana bermain.
Aulia melompat-lompat, dengan sangat riang dia menarik-narik bajuku, "kakak-kakak... aku mau naik yang itu!" dia menunjuk kearah bianglala.
aku menggendongnya, dan langsung berjalan menghampiri bianglala, "baiklah... ini yang pertama!" sambil tersenyum.
kami berempat mengantri untuk menaikinya. saat sudah naik, Aulia dan Dariel terlihat sangat senang.
"wahhh lihat!, semua orang terlihat kecil dari atas sini!" ucap Dariel.
Aulia naik keatas paha Freya, "iya!, pemandangannya indah" Aulia sangat gembira.
"hati-hati... nanti kamu terjatuh" ucap Freya tersenyum.
setelah naik bianglala, Aulia langsung menuntunku ke wahana berikutnya. belum lama kami tiba di taman hiburan ini, sudah banyak wahana yang kami coba.
Dariel mengajakku untuk naik roller coaster, tapi sayang Aulia tidak bisa ikut, dia masih kurang tinggi untuk bisa menaiki wahana itu. Aulia sempat ngambek karna tidak bisa ikut naik, untungnya Freya bisa membujuknya. sambil menunggu aku dan Dariel, mereka berdua makan eskrim bersama.
"tadi sangat menakjubkan!" Dariel benar-benar gembira.
"sial.... jantungku sepertinya tertinggal di atas..." ucapku sempoyongan.
Aulia dan Freya menghampiri kami, "memangnya seram kak?" Aulia bertanya padaku.
"sangat menyeramkan..." aku duduk dengan kaki gemetar.
"jika sudah besar nanti, aku mau coba naik juga!" Aulia malah bersemangat.
ya... kau tidak akan sanggup, bagiku roller coaster sangat mengerikan, saat melaju cepat dari atas, rasanya jantungku tertinggal. belum lagi rasa mual nya, sangat menyiksa, ya Aulia tidak akan kuat.
***
kami sudah menaiki banyak wahana, dan saat ini kami sedang mengantri untuk wahana terakhir, yaitu labirin cermin. sepuluh menit kami mengantri, akhirnya tiba saatnya untuk masuk.
didalam sangat indah, Freya dan Aulia tidak hentinya berfoto bersama. kami menikmati labirin nya, berkali-kali salah jalan, dan harus menemui jalan buntu, tapi itu tetap saja menyenangkan.
saat kami menemukan jalan buntu untuk kesekian kalinya, aku melihat pria dan wanita di ujung lorong. si pria menunduk dan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, rupanya pria itu sedang menyatakan perasaan.
karna kami harus menemukan jalan keluar labirin ini, kami pergi, dan pria itu menghilang dari pandanganku.
"sangat sulit, sebenarnya dimana jalan keluarnya" ucap Freya.
sekarang kami berada di posisi harus memilih antara dua lorong, "bagaimana jika kita memilih yang ini!" Aulia menunjuk kearah lorong sebelah kanan.
"aku rasa juga yang ini" ucap Dariel.
"baiklah mari kita lewat sini" ucapku.
dari dua lorong, kami memilih yang sebelah kanan. ternyata pilihan Aulia benar, kami berhasil keluar dari wahana itu.
"hebat!..." ucap Dariel.
"itu tadi sangat menyenangkan" ucap Freya.
"Aulia, sekarang waktunya untuk makan, setelah itu kita akan pulang" ucapku.
"dimana Aulia?" Freya kebingungan.
"apa maksudmu?, dia berada di..."
aku kaget, Aulia menghilang, padahal sebelumnya dia berada di samping Freya. aku berjalan paling depan, lalu dibelakang ku ada Freya, Aulia, dan Dariel. Aulia berada ditengah Dariel dan Freya, sekarang bagaimana dia bisa menghilang?.
aku yang panik langsung berlari masuk kembali kedalam labirin cermin, sebaliknya Freya berlari menuju ruang keamanan wahana itu, untuk melihat cctv-nya.
"aku akan memberitahu posisinya jika dia terlihat di cctv!" ucap Freya.
dimana kau, kenapa tiba-tiba menghilang, ayolah... jangan membuatku khawatir. tak lama setelah aku masuk, lampu didalam labirin mati, aku merasakan cermin-cermin di sekitarku bergerak.
"apa yang terjadi" ucapku.
suara teriakan terdengar di setiap sudut lorong, aku mendatangi suara itu satu persatu, tapi aku tidak menemukan apapun. tidak ada satu orangpun yang aku temukan, dari setiap suara yang aku hampiri.
aku semakin khawatir dengan Aulia, aku takut terjadi sesuatu padanya.
(scene berpindah ke Freya)
Saat Freya dan Dariel ingin memeriksa cctv, listrik di ruang keamanan juga ikut mati, dan sepertinya bukan hanya di ruang keamanan dan labirin cermin saja yang mati, tapi listrik di seluruh taman hiburan ikut padam.
"pak, apa yang harus kita lakukan?, salah satu temanku menghilang di labirin cermin" ucap Freya.
"nona tenang saja, kami juga sedang menangani listrik yang padam" ucap penjaga taman hiburan.
"kira-kira berapa lama listrik akan menyala lagi?" tanya Freya.
"entahlah, tapi mungkin paling cepat setengah jam lagi" jawab penjaga taman hiburan.
"aku ingin membantu mencari Aulia" ucap Dariel.
"tunggu disini, kita tidak tahu apa yang terjadi, lagipula sesuatu di dalam diriku berkata untuk tidak masuk" ucap Freya.
(scene kembali ke Agi)
ponselku berdering, aku harap Freya sudah menemukan keberadaan Aulia lewat cctv, "apa kau sudah menemukannya?" tanyaku lewat telepon.
"belum, karna bukan hanya listrik di labirin cermin yang mati, seluruh listrik di taman hiburan ini mati" jawab Freya lewat telepon.
"kalau begitu aku ingin lanjut mencari, langsung telepon aku jika sudah menemukannya" ucapku.
aku mematikan ponselku dan langsung kembali mencari Aulia. beberapa teriakan terdengar lagi, aku menghampiri suara teriakan untuk kesekian kalinya, tapi tetap tidak ada siapapun.
"AYOLAH, SIAPA SEBENARNYA YANG MELAKUKAN INI!" aku berteriak.
***
kurang lebih sudah satu setengah jam aku mencari, entah sudah berapa kali aku berputar-putar di labirin ini, tapi tetap saja aku tidak menemukan Aulia.
"dimana kau sebenarnya...." aku sangat khawatir.
(scene berpindah ke Freya)
kondisi diluar labirin sangat kacau, beberapa saat yang lalu listrik sudah sempat menyala, tapi malah terjadi korsleting listrik, dan menyebabkan kebakaran.
pemadam kebakaran serta polisi sudah datang sejak tadi, banyak yang terluka akibat kejadian ini.
"kenapa malah jadi seperti ini..." Freya menghela nafas.
"kak Agi dan Aulia belum keluar dari labirin, sebaiknya aku masuk kedalam" ucap Dariel.
"jangan!, kita tunggu sebentar lagi" ucap Freya.
tiba-tiba ponsel Freya berdering, "sepertinya Agi menelepon" ucap Freya membuka ponselnya.
"halo... aku mencoba menghubungi Agi, tapi sepertinya ponselnya mati" ternyata yang menelepon adalah Eugene.
"ada apa kak Eugene meneleponku?" tanya Freya.
"taman hiburan yang kalian datangi saat ini, sedang terjadi kekacauan kan?" Eugene bertanya balik.
"bagaimana kak Eugene bisa tahu?" Freya kebingungan.
"ya... beritanya disiarkan langsung lewat televisi, dan kebetulan aku melihat Dariel tadi" ucap Eugene.
"begitu ya..., lalu ada perlu apa kak Eugene?" tanya Freya.
"orang yang menyebabkan kekacauan itu, ada di dunia cermin" ucap Eugene.
"dunia cermin?" Freya keheranan.
"ya, wahana yang listriknya padam pertama kali adalah labirin cermin, lalu di berita disebut bahwa beberapa cermin atau kaca disana pecah secara tiba-tiba. belum lagi banyak cctv dan monitor yang hancur, aku yakin pelakunya sama dengan tragedi setahun yang lalu" ucap Eugene.
"ternyata sangat rumit" ucap Freya.
"kau harus segera memberitahukan hal ini kepada Agi, hanya dia yang bisa menghentikan kekacauan itu" ucap Eugene.
Eugene mematikan telefon nya, Freya segera mengajak Dariel untuk kembali masuk ke labirin cermin.
(scene berpindah ke Aulia)
satu jam yang lalu.
"tempat apa ini?" Aulia bertanya pada seorang pria. "sangat indah..."
"hei anak kecil, seharusnya kau tidak masuk kesini" ucap pria itu.
"kenapa?, aku suka tempat ini" Aulia tersenyum lebar.
seorang pria dengan wajah muram, pria yang sama dengan yang dilihat Agi, pria yang baru saja menyatakan cinta.
"kakak kenapa terlihat sedih?" tanya Aulia.
"tidak apa-apa, diberitahu pun kau tidak akan mengerti" ucap pria itu.
pria itu berjalan dan menuntun Aulia, "sebaiknya kau keluar dari sini, aku tidak akan melukai anak kecil" ucap pria itu.
"aku tidak mau pergi..." Aulia memasang wajah sedih.
pria itu terlihat kebingungan, "hei... ja-jangan menangis" pria itu berusaha menghibur Aulia.
"Aulia tidak mau pergi!, Aulia suka tempat ini" Aulia tetap bersikeras.
"aduh... kau tidak boleh berada disini" ucap pria itu.
"kumohon... biarkan Aulia tetap disini, Aulia tidak akan merepotkan kakak..." Aulia memasang wajah sedih.
"ba-baiklah, tapi tetap disini, dan jangan ikuti aku" ucap pria itu.
"nama kakak siapa?!" tanya Aulia dengan mata yang berbinar.
"panggil saja aku Dika" jawab Dika.
Dika pergi meninggalkan Aulia, dia pikir Aulia tidak akan mengikutinya, tapi Aulia adalah anak yang rasa ingin tahunya tinggi, akhirnya dia tetap mengikuti Dika diam-diam.
(scene kembali ke Agi)
aku yang mulai putus asa, mulai berpikir untuk menghancurkan setiap ruangan, karna sepertinya Aulia terjebak di suatu ruangan di labirin ini.
saat aku mengangkat tinju ku dan mencoba memukul cermin yang pertama, Freya berteriak dan menghentikan ku, "BERHENTI!" ucap Freya.
"Aulia berada didalam sana" ucap Freya.
"apa maksudmu?" aku kebingungan.
"kak Eugene bilang padaku, kalau ada orang yang memiliki ability, yang dapat menciptakan dunia cermin, dan saat ini Aulia berada didalam dunia cermin itu" ucap Freya.
aku tidak meragukannya, karna Eugene yang bilang sendiri, "sepertinya benar, karna kebetulan sejak tadi aku mendengar jeritan wanita dari berbagai arah, tapi saat aku menghampiri suara itu, tidak ada siapapun" ucapku.
"apa itu berarti mereka ditarik kedalam dunia cermin?" Freya mencoba memastikan.
"tapi jika benar begitu, bagaimana cara kita masuk kedalamnya?" aku berpikir keras.
Freya mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Eugene. "halo, apa kalian berhasil menyelesaikannya?" Eugene bertanya lewat telepon.
"belum... kami tidak tahu bagaimana cara menghentikannya, kami tidak tahu cara masuk kedalam dunia cermin" ucap Freya.
"bukankah aku tadi sudah bilang?, 'hanya Agi yang dapat menghentikan kekacauan ini', jadi serahkan saja padanya" ucap Eugene, dan dia pasti tersenyum.
"tapi bagaimana caraku menghentikannya?" tanyaku.
"mudah saja, tanganmu dapat menetralkan ability apapun, bukan hanya itu, kau juga bisa bebas dari ilusi yang kuat hanya dengan kemampuan penetral mu. jadi yang harus kau lakukan, hanya menyentuh cermin saja" ucap Eugene.
awalnya aku kebingungan, tapi aku percaya pada Eugene. saat ku sentuh salah satu cermin dengan telapak tanganku, tiba-tiba tanganku menembusnya, seperti tidak menyentuh apapun, seperti ada ruangan di dalamnya.
aku masuk kedalam, dan menemukan tempat yang sangat indah.
bersambung....