Loser's Dream

Loser's Dream
SETELAH LATIHAN YANG BERAT



Satu bulan telah berlalu. Selama satu bulan penuh, semuanya menjalani latihan yang sangat berat. Mereka mengerahkan segalanya, bahkan keringat mereka mengalir deras, bagai darah yang mengalir keluar dari luka.


***


"Sepertinya ini yang terakhir" ucapku sambil menghajar satu iblis tingkat 6.


Sejak serangan waktu itu, ada banyak iblis yang berkeliaran di sekitar villa kami. Setiap malam aku, Lingga, dan Eugene harus memburu mereka, Eugene menjadikan ini bagian dari latihanku dan Lingga.


"Sejak kemarin jumlah mereka semakin sedikit, mungkin ini memang yang terakhir" ucap Eugene tersenyum.


"KALAU BEGITU AKU INGIN KEMBALI, AKU MENGANTUK!" Lingga berjalan menuju villa sambil menggerutu.


"Ya... seperti itulah Lingga" ucapku tersenyum.


"Mari kita kembali juga, sudah hampir tengah malam" ucap Eugene melihat jam di tangannya.


Kami bertiga kembali ke villa.


Biasanya kami memburu para iblis itu hingga pukul 3 pagi, lalu kembali untuk istirahat, jam 5 pagi Vincent langsung membangunkan lagi.


Selama satu bulan kemarin, Vincent melatih fisik ku, sedangkan Eugene melatih teknik, ability, dan evloth ku. Saat ini aku juga sedikit menguasai Taekwondo.


***


Eugene dan Lingga langsung kembali ke kamar, sedangkan aku berkeliling sebentar untuk memastikan tidak ada iblis yang berkeliaran lagi.


Aku mendengar suara wanita yang sedang bernyanyi saat berkeliling. Tanpa pikir panjang aku mencari sumber suara itu, rupanya suara itu berasal dari balik pohon raksasa dibelakang villa, aku langsung menghampiri suara itu.


"Karena kusuka, suka dirimu... ku akan selalu berada disini, walau ditengah keramaian, tak apa tak kau sadari..." rupanya suara itu milik Agatha.


Aku langsung menghampirinya, "kau belum tidur?" Aku menyapa nya sambil tersenyum.


Dia malah kaget mendengar suaraku, "HEY!, TOLONG JANGAN MENGAGETKAN BEGITU!" Setelah itu dia memarahiku.


"Maaf" aku menggaruk kepala ku sambil tersenyum canggung.


Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat, "aku belum mengantuk. Kau sendiri?, kenapa masih berkeliaran?" Agatha tersenyum.


"Aku habis memastikan keadaan, sepertinya tidak ada iblis yang berkeliaran lagi" ucapku.


"Baguslah kalau begitu..." Agatha menatap kearah langit.


"Lagu yang kau nyanyikan tadi... lagu dari angels48 kan?" Tanyaku.


"Kau tahu juga?, wah... mereka adalah idol grup favorit ku, lagu mereka sangat enak didengar" Agatha tiba-tiba bersemangat.


"Kau tahu? Freya Fortuna adalah temanku" ucapku dengan wajah sombong.


"Benarkah?!!, aku juga menyukainya!" Ucap Agatha dengan wajah berbinar. "Saat ditugaskan mencari iblis di tour show mereka, salah satu alasanku ikut dalam misi itu tadinya karna aku ingin meminta tanda tangan mereka, sayangnya aku malah dikalahkan dan harus masuk rumah sakit.."


"Tour show ya..., kalau diingat lagi, itu pertama kalinya aku melihatmu" ucapku tersenyum.


Agatha hanya membalas senyumku. Suasana jadi sunyi lagi sesaat, "kenapa kau segitunya ingin menjadi kuat?, harusnya kau tahu, dunia yang kau masuki saat ini sangat berbahaya. Banyak teman-temanku yang tewas karna iblis" Agatha kelihatan sedih


"Aku... hanya ingin mewujudkan impianku, serta menemukan kebahagiaanku yang lain" ucapku tersenyum tipis.


"Memang apa impian mu?" Agatha menoleh kemudian tersenyum.


"Impianku adalah, membawa kebahagiaan pada orang-orang yang aku sayangi" ucapku percaya diri.


"Apa itu termasuk diriku?" Tanya Agatha.


"Tentu saja!, kau kan temanku" jawabku tersenyum.


"Syukurlah!" Kemudian Agatha tersenyum.


"Sejak kecil, aku adalah orang yang lemah. Selalu gagal dalam hal apapun, aku juga mudah mengeluh. Melihat orang-orang yang diberkati uang atau kekuatan yang lebih dariku, terkadang membuatku sangat iri, aku sering sekali menyalahkan tuhan karna nasibku" aku berdiri, menghela nafas, kemudian mengambil sebuah ranting.


"Kenapa hidupku seperti ini?, apa salahku sampai tuhan memberikan nasib buruk ini padaku?. Sejak kecil aku hidup miskin, untuk makan saja terkadang ayahku berhutang, itu membuat hutang ayahku menumpuk. Ditambah ibu ku yang meninggalkan kami saat sedang terpuruk, aku bingung... apa segitunya tuhan membenciku?" Ucapku dengan tatapan kecewa. "Bahkan saat aku sudah berusaha agar lebih baik dari sebelumnya, tuhan masih saja memberiku cobaan yang besar, rasanya aku ingin menyerah"


"Kau tidak boleh menyerah!. selama kau masih bernafas, kau tidak boleh menyerah!. Lagipula... kau kan masih harus mewujudkan impian mu!" Ucap Agatha tersenyum.


aku melempar ranting itu, kemudian kembali duduk disebelah Agatha. "Tapi aku sangat lelah... tubuhku, perasaanku, pikiranku, semuanya terasa sangat lelah" aku menatap Agatha dengan tatapan sayu.


"Tuhan tau kau kuat, tuhan juga tau kau pasti bisa melewati semuanya, karna itu dia mempercayaimu semua cobaan itu. Jadi... jangan mengeluh, dan buktikan pada tuhan bahwa kau bisa!" ucap Agatha tersenyum. "saat kau mengeluh karna hidupmu yang payah, tanpa kau ketahui ada orang yang bersyukur, hanya karna adanya dirimu"


"Kira-kira... siapa orang itu?" Tanyaku.


Tiba-tiba wajah Agatha memerah, dia memalingkan wajahnya, "e-entahlah!, ji-jika memang ada... orang itu pasti benar-benar menyayangimu"


Aku terbaring menatap langit, kemudian menghela nafas panjang. "aku tidak boleh mengeluh lagi!, jika mau jadi kuat, aku harus berhenti mengeluh!" Ucapku menatap langit dengan penuh keyakinan.


"Ba-baguslah kalau begitu!" Ucap Agatha masih memalingkan wajahnya.


Keadaan mulai sunyi lagi, tapi entah kenapa sekarang terasa canggung juga.


Agatha berdiri, kemudian menepuk-nepuk celana nya, membuat debu yang menempel terjatuh. "Aku mau kembali!" Agatha masih memalingkan wajahnya.


"Baiklah... aku masih mau disini sebentar" ucapku sedikit bingung atas tingkahnya.


"Ka-kalau begitu aku duluan. Kau jangan tidur terlalu malam, nanti bisa sakit." Ucap Agatha.


"Ya!, terima kasih" ucapku tersenyum.


"Dahhh..." dia mengucapkan nya pelan, setelah itu jalan meninggalkan ku.


Sementara itu aku masih berbaring menatap langit. Aku melamun menatap bintang dan bulan, sambil memikirkan adikku Aulia, ayah, dan juga Freya. Sudah satu bulan lebih aku tidak menghubungi mereka, aku benar-benar merindukan mereka.


Tiba-tiba rasa khawatir pada Dariel juga muncul, sudah satu bulan dia tidak sadarkan diri. Belum ada pertanda bahwa dia akan siuman sampai saat ini, padahal detak jantung nya normal, tidak ada gangguan pada otak nya juga.


Aku mulai mengantuk, dan memutuskan untuk kembali ke villa.


Sebuah bayangan hitam terasa lewat di atasku, saat aku mendongak keatas, tiba-tiba wajahku di pukul, aku terjatuh karena nya.


"Kau!..." aku berdiri, di hadapanku ada iblis lengan empat yang kami hadapi sebulan yang lalu.


Iblis itu hanya tersenyum. Tiba-tiba dia melesat kebelakang ku, gerakan nya sangat cepat, tapi... sayangnya aku lebih cepat!.


Dia mencoba memukul kepala ku dari belakang, "maaf... tapi aku lebih cepat darimu!" Aku salto kedepan untuk menghindari pukulannya.


"Kalau begitu, mari kita lihat, apa kau bisa menghindari yang satu ini!" Dia melakukan ancang-ancang untuk menyerang ku.


Keempat tangan nya menyerang ku dengan sangat cepat, mungkin lebih cepat dari peluru. Aku berhasil menghindari beberapa tinjunya, tapi salah satunya mengenai tulang rusukku, membuatku terpental sangat jauh.


Keluar darah dari mulutku, sekitar tiga tulang rusuk sebelah kiri ku patah.


"Dia lebih kuat dari sebelumnya ya..." aku tersenyum menyeka darah di mulutku, kemudian mencoba berdiri.


Iblis itu menyerang ku lagi, aku menghindarinya sambil bertanya, "siapa yang mengirim kalian?, kenapa temanmu yang kami tangkap terlihat sangat ketakutan?, siapa iblis tingkat tiga itu?"


"Dia sangat mengerikan, kau akan mati jika berhadapan dengannya!" Ucap iblis lengan empat.


"Jika dia memang sekuat itu, kenapa dia tidak langsung datang kesini?, apa dia seorang pecundang?" Aku berlari menghampiri iblis itu.


Sepertinya tendangan ku tidak terlalu melukainya, dia mulai mencoba menyerang ku dengan tinju beruntun lagi. Karna terlalu cepat, aku sampai tidak sempat menghindar, akhirnya aku hanya melindungi wajahku dengan tangan.


Iblis itu berteriak, suara serangannya juga terdengar, tapi aku bingung, karna tidak ada satupun yang mengenai ku.


Saat aku menyingkirkan tanganku dan melihat kedepan, Lingga sudah berdiri memasang badan, "APA INI? LEMAH SEKALI!" dia bahkan sempat meledek.


Iblis itu berhenti menyerang, Lingga meledeknya lagi "apa hanya segitu saja?!!" Sambil tersenyum sombong.


"Sepertinya dia tidak datang sendiri" ucapku.


"Ya!, ada iblis yang menyerang villa saat ini. Eugene memerintahkan aku untuk mencari mu" ucap Lingga.


Aku mengeluarkan belati ku, dan mulai mengalirkan evloth kedalamnya. Lingga melipat lengat bajunya, dia tersenyum lebar, terlihat sangat sudah siap.


"Selesaikan dengan cepat!, aku mau coba melawan yang lain!" Ucap Lingga tersenyum lebar.


"Ayo!" Aku langsung berlari menghampiri iblis itu.


Dilihat dari kuda-kudanya, dia akan melakukan serangan beruntun itu lagi. Lingga dengan cepat menghalangi setiap serangan nya agar tidak mengenai ku, seperti sebuah tembok. Sementara aku lari memutar, sepertinya iblis itu tidak sadar, dan mengira aku masih ada dibelakang Lingga.


Lingga masih menahan serangannya sambil tersenyum, walau mulutnya sudah mengeluarkan darah. Iblis itu benar-benar lebih kuat, dia bisa membuat Lingga mencapai batasnya, padahal kami bertarung belum sampai lima menit.


Aku tiba dibelakang tubuh iblis itu, berusaha menikamnya dari belakang, tapi tiba-tiba kepala bagian belakang ku terkena pukulan.


Saking cepatnya, aku sampai tidak melihat, bahwa salah satu lengan iblis itu mengincar ku.


"Kau tidak akan bisa menyerang ku" ucap iblis itu.


Dia berhenti menyerang, aku mundur dan menjaga jarak darinya, Lingga masih tersenyum dan kelihatan bersemangat.


Lingga berteriak lalu menghampiri iblis itu, dia menerima serangan iblis itu mentah-mentah, saat sudah berada di hadapan iblis itu, dia memukulnya sekuat tenaga, dengan tinju yang di lapisi evloth.


Pukulan telak diperut iblis itu, dia terpental kearah ku. "SELESAIKAN!" Lingga berteriak padaku.


Aku maju menghampiri iblis itu, kuangkat belati ku, saat hampir menikamnya, tiba-tiba tubuhnya berubah arah, aku meleset.


Salah satu tangannya memanjang dan meraih dahan pohon, kemudian dia memendek kan lengannya lagi setelah berhasil menggenggam dahan pohonnya, itu yang membuat arah terpental nya berubah.


"Sudah kubilang, kalian tidak akan bisa mengalahkan ku" iblis itu tersenyum dengan tubuh yang menggantung diatas pohon.


"Dia sangat menjengkelkan ya!!!" Wajah Lingga mulai kelihatan kesal.


(10 menit yang lalu di villa)


Saat yang lain sedang tidur nyenyak, Agatha baru kembali ke villa, setelah mengobrol dengan Agi.


Eugene juga masih terjaga, dia sedang membuat secangkir teh.


"Kau belum tidur?" Tanya Eugene.


"Sebentar lagi" Jawab Agatha.


Agatha berjalan sambil tersenyum sendiri, Eugene melihatnya dengan tatapan bingung.


Tiba-tiba sebuah dentuman terdengar, setengah dari villa hancur, para anggota yang sedang tidur sampai terjatuh dari lantai dua, ada yang tertimpa bangunan juga.


Eugene menghampiri sambil menikmati teh nya, "hmmm seperti dugaanku, kalian akan menyerang malam ini" Eugene tersenyum.


"APA YANG TERJADI?!!" Agatha panik menghampiri Eugene.


"Malam ini akan ada ujian dadakan" Eugene masih sempat bercanda.


Iblis dengan wajah kera tiba-tiba muncul dari dalam reruntuhan.


Para anggota Devil Hunter yang terjatuh dari lantai dua, serta tertimpa bangunan juga mulai berdiri.


"Beraninya kau muncul ditengah kami!" Ucap salah satu anggota Devil Hunter.


"Mari kita perlihatkan padanya, hasil dari kerja keras kita!" Ucap Rize.


Lingga ingin menerjang iblis itu, tapi Eugene menghentikannya, dan langsung menyuruhnya untuk mencari Agi. Agatha memberitahu bahwa Agi saat ini sedang berada ditengah hutan, Lingga dengan cepat berlari kearah hutan.


Lingga berlari tanpa mengetahui dimana lokasi Agi, "Tidak akan kubiarkan kau terlihat keren kali ini!!!" Begitulah yang dia pikirkan sambil tersenyum.


Vincent keluar dari kamarnya, melesat kearah iblis berwajah monyet, dan langsung menebasnya.


Iblis itu menahan pedang Vincent dengan giginya, dia menggigit pedang Vincent.


"Haha wajahmu sangat jelek!" Ucap Vincent meledek.


Iblis itu ikut tersenyum, dia melepas gigitan nya, kemudian melompat menerjang Rize. Iblis itu menendang Rize, karna terlalu cepat, Rize tidak sempat menghindar, dia terpental kebelakang menabrak tembok sampai hancur.


Ability iblis monyet itu sepertinya adalah lompatannya, dia dapat melompat sangat tinggi, dia juga sangat cepat.


Rize berdiri dan langsung menerjang iblis monyet itu, dengan tinju yang dilapisi listrik, dia mencoba memukul wajah iblis itu, "akan ku habisi kau!" Wajahnya kelihatan marah.


Tapi iblis itu menghindar. kali ini dia melompat kearah Isla, mencengkram kerah bajunya, dan melompat keatas sambil menarik baju Isla. Dia memukuli isla diatas langit, lalu melemparnya kebawah dengan sangat cepat. Untungnya Agatha langsung menangkapnya, jika telat sedetik saja, Isla pasti mati.


Isla berdiri, para anggota Devil Hunter mulai mengelilingi iblis itu. "Kau bertambah kuat juga ya..." ucap Rize.


"Isla, Agatha, Rize, kemari lah!" Eugene memanggil mereka.


Mereka bertiga bergegas menghampiri Eugene, sementara para anggota yang lain mulai menyerang.


"Ada apa?" Tanya Isla.


"Kemungkinan mereka datang bertiga. Si tangan empat saat ini mungkin sedang berhadapan dengan Agi, si wajah monyet ada disini. Dan kurasa, yang bersayap sedang mencari temannya" jawab Eugene.


"Jadi yang bersayap juga ada disini ya!" Ucap Rize.


"Itu berarti saat ini dia berada di ruang bawah tanah!" Ucap Agatha.


"Sekarang kita bergegas kesana" ucap Eugene tersenyum.


Mereka segera berlari menuju pintu ruang bawah tanah, yang terletak tepat di samping tangga di dapur.


Iblis berwajah kera mencoba mengejar, tapi ada salah satu anggota Devil Hunter yang berhasil menangkapnya.


"Urusanmu adalah dengan kami!" Ucap anggota itu.


Yang lainnya mulai mengangkat senjata, "komandan!, kali ini... biarkan kami yang menyelesaikannya!" Ucap anggota yang memegang kapak.


"Jangan sampai kalah!" Vincent tersenyum lebar.


Iblis berwajah monyet itu bangkit, membuat orang di atas tubuhnya terpental. Dengan penuh semangat, empat puluh tujuh anggota Devil Hunter menyerangnya serentak.


"KALAHKAN DIA, PERLIHATKAN HASIL DARI KERJA KERAS KALIAN!" Kata-kata Vincent membuat semangat mereka semakin membara!.


Bersambung....