
Tetap harus menunggu, sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.
"Nah sudah pergi Heyra, saatnya kita mengambil tumbuhan ungu itu." ujar Yeroi.
"Tetap waspada, itu bukan ular yang kecil. Itu adalah ular anakonda yang menyeramkan. Biasanya, aku hanya melihat di film." jawab Heyra.
"Itu yang barusan lewat seperti induknya deh, wajar saja bila seram." ucap Yeroi.
"Aku tidak bisa membayangkan, bila kita ditelan hidup-hidup." jawab Heyra.
"Jangan sampai deh, 'kan ngeri kalau kenyataan." ujar Yeroi.
"Hahah... siapa suruh membayangkan hal tersebut." Heyra tertawa lirih.
Setelah ular anakonda pergi, barulah mereka keluar dari persembunyian. Yeroi dan Heyra memetik tumbuhan ungu, dengan tergesa-gesa. Mereka takut bila hewan buas itu, segera kembali dengan cepat.
"Kita pasti bisa, aku yakin itu." ujar Yeroi.
"Sudah cukup, jangan diambil lagi." jawab Heyra.
Mereka baru saja mau keluar dari sarang ular, namun penunggunya sudah datang duluan. Heyra dan Yeroi mengeluarkan tembakannya.
Duar!
Duar!
Tembakan tepat mengenai perut ular, namun masih tetap hidup. Tubuh ular yang besar segera digunakan untuk mengamuk. Heyra dan Yeroi berlari menelusuri lorong goa. Hingga keduanya terjatuh, karena terkena ekor ular anakonda tersebut.
"Heyra, cepat kamu lari dari sini. Bawa makanan ular itu keluar, lalu tumbuk secepatnya untuk Zujuna." titah Yeroi.
"Bagaimana denganmu? Aku tidak ingin terjadi apa-apa, dengan dirimu sekarang." jawab Heyra.
"Sudahlah, cepat pergi dari sini." ujar Yeroi.
"Iya Yeroi, aku akan pergi." Heyra segera berlari.
Tolong!
Heyra berteriak-teriak, namun tidak ada satu orang pun yang menolongnya. Hingga kakinya dikejutkan dengan sesuatu, yang menancap ke tulang dan dagingnya.
"Aaa... ini sakit sekali!" Heyra mengeluh.
Ternyata orang-orang suku pedalaman, yang melakukan hal tersebut padanya. Mereka menghampiri Heyra, dan salah satu orang mencabut tombak kecil pada kakinya.
"Lepaskan aku! Tolong, jangan bunuh diriku." pinta Heyra.
"Huhah... huhah..." Mereka kompak bersorak-sorai.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu, bahasa yang digunakan oleh Heyra. Gadis itu jadi bingung, bagaimana caranya untuk kabur. Zujuna pasti sudah menunggu, dengan kondisi yang hampir tak tertolong.
Bayangan Heyra kini tentang Zujuna, yang hampir mati tergeletak. Lalu wajahnya pucat, dan juga dikelilingi oleh pohon belantara. Heyra berusaha memberontak, namun tidak dapat melawan mereka yang ingin membawa dirinya.
Heyra akhirnya menyadari, bahwa dirinya diikat di tempat Yeroi sebelumnya. Dia berpikir akan dibakar hidup-hidup, karena melihat banyaknya kayu-kayu bertumpuk.
”Aku tidak ingin berakhir di sini. Ini benar-benar mati mengenaskan yang konyol. Tidak akan ada yang menolong diriku.” batin Heyra.
Zinei dan Milraes memberikan air minum pada Zujuna. Pria itu tadi berjalan terseok-seok, lalu berjumpa dengan keduanya.
"Mengapa kamu bisa seperti ini?" tanya Zinei.
"Ini semua gara-gara aku makan buah di hutan." jawab Zujuna.
"Haduh, kamu ceroboh sekali." ujar Milraes.
"Namanya juga tidak tahu, bukan salahku dong." jawab Zujuna.
"Tetap kesalahan kamu, tidak meneliti lebih dulu." Milraes memelototinya.
"Ah berisik! Kalau kamu jadi aku, pasti akan makan juga." jawab Zujuna.