Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Memasang Jebakan



Duar!


Yeroi berhasil menembak macan tutul, dan keluar dari persembunyiannya. Nafas yang dari tadi terengah-engah, seolah kini bisa beristirahat. Padahal bahaya masih saja mengintai, belum usai begitu saja.


"Aku harus segera menemukan Heyra dan Zujuna. Aku tidak ingin sendirian, aku benar-benar kesepian." monolog Yeroi.


Naga raksasa itu mengamuk, setelah masuk ke dalam jaring. Dia tahu bila dirinya dijebak, sehingga ingin membalas pelakunya. Naga raksasa itu menoleh ke arah kanan dan kiri, untuk memastikan apa ada manusia.


"Aaa!" Heyra dan Zujuna menjerit secara bersamaan.


Mereka berdua segera berlari tunggang langgang, dan Yeroi sempat mendengar suara Heyra. Dia segera berlari, untuk memastikan di mana sumber suara.


"Heyra, apa kau di sana!" Yeroi berteriak.


Daun-daunan yang semula tidak bergerak, menjadi terombang-ambing. Bagaimana tidak, daun-daunan itu diterobos oleh Heyra dan Zujuna. Saking terlalu takut, mereka berlari dengan deras.


"Bagaimana mungkin, jaringnya malah robek." Zujuna menggerutu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Sudah aku katakan sejak awal, bahwa itu makhluk raksasa. Kau itu memang keras kepala iya." Heyra mendorong kepala Zujuna.


"Maafkan aku Heyra, seharusnya aku mendengarkan ucapanmu." ujar Zujuna.


"Sudah terlambat, kita harus cari tempat bersembunyi." jawab Heyra.


Mereka melanjutkan kembali perjalanan, tidak ingin berlama-lama. Terburu makhluk buas itu mengendus jejak mereka.


"Eh ada buah anggur, kita makan yuk!" ajak Zujuna.


Heyra jadi ngiler, melihat buahnya yang sudah masak. Bergelayutan dengan gerombolan yang ranum.


"Iya sudah, sikat saja. Kebetulan, perut ini sangat lapar." jawab Heyra.


"Ayo, kamu juga makan. Tubuhmu sudah semakin kurus tuh." ujar Zujuna.


Heyra bersemangat. "Woke, ayo kita habisi."


"Iya Heyra, lagipula kalau tidak dihabiskan, siapa yang akan memakannya." ucap Zujuna.


"Iya Zujuna." jawab Heyra, dengan santai.


"Jangan kalian makan buah itu, karena ular berbisa baru saja menghabiskannya. Ditambah lagi, dia sering mengemut saja." ucap Yeroi.


"Kalau kamu mau, iya tinggal makan saja. Jangan cegah aku, yang benar-benar menginginkannya." jawab Zujuna.


"Bukan bermaksud mencegah, tapi buah itu bisa saja beracun." ujar Yeroi.


"Ah terserah deh, aku gak peduli." jawab Zujuna.


Zujuna melahap buah itu dengan perasaan lega. Awalnya merasa haus, namun sekarang sudah terobati. Tiba-tiba saja dia berhenti, dan kejang-kejang seketika.


"Zujuna, kamu kenapa." Heyra mulai panik.


"Sudah aku katakan, buah itu beracun. Kita harus mencari penawarnya!" jawab Yeroi.


"Apa penawarnya, harus cari di mana?" Heyra bertanya-tanya, dengan tergesa-gesa.


"Penawarnya cukup cari di sarang ular." jawab Yeroi.


"Ah bercanda kamu, mana mungkin." Heyra memukul-mukul pundak Yeroi, seolah menuntutnya untuk berbicara serius.


"Aku serius, siapa yang sedang bercanda dalam situasi genting." jawab Yeroi.


Mereka berdua menolong Zujuna yang kejang-kejang. Buih beracun keluar dari mulutnya, dan Heyra bingung harus melakukan apa.


"Butuh berapa lama sampai ke sarang ular?" tanya Heyra.


"Tidak jauh dari sini Heyra, tergantung bagaimana kita berjalan." jawab Yeroi.


"Kalau gitu, biar aku cari sekarang." ujar Heyra.


"Jangan, biar aku saja." jawab Yeroi.


"Seperti ini juga tidak adil, akan ada bahaya besar. Setidaknya, dua orang bisa saling memperhatikan keadaan masing-masing." Heyra menurutkan maksudnya.


"Benar juga." jawabnya.