
Mereka berniat menghadang komodo, supaya tidak mengejar Yansile dan Brebet.
"Waduh, mengapa harus ada komodo disaat seperti ini." Crisel berbisik, sambil menunjuk binatang yang menghampiri mereka.
"Kelihatannya akan menyerang kita, harap waspada." jawab Feiye.
Gorila tiba-tiba datang, dan para komodo segera menyingkir ke pinggir. Feiye dan Crisel memasang langkah, untuk segera kabur dari sana.
"Ayo segera kabur, dia semakin mendekat." ajak Crisel.
"Dengarkan hitunganku sampai tiga, sekarang mundur lima langkah." jawab Feiye.
"Iya, aku akan mengikutimu kali ini." ujar Crisel.
"Oke, mulai dari sekarang." jawab Feiye.
Mereka mulai mundur, dan memasang kuda-kuda untuk berlari. Feiye sudah menghitung batas tiga, dan mereka segera berlari secara serentak. Gorila terus menerobos apapun yang dilaluinya, demi mengejar mereka berdua.
"Ayo lebih cepat Brebet, kamu pasti bisa." titah Yansile.
"Iya Yansile, namun aku perlu beristirahat." jawab Brebet.
"Waktu kita sudah tidak banyak lagi." ujar Yansile.
"Aku juga tidak akan menyia-nyiakan, perjuangan dua orang itu." Brebet mengingat Feiye dan juga Crisel.
Feiye dan Crisel berlari tunggang langgang, sampai bergayut pada akar pohon gantung. Mereka berdua kewalahan karena dikejar oleh gorila.
"Aaa... cacing itu besar sekali!" Crisel berteriak, dengan raut wajah ketakutan.
Feiye yang melihatnya merasa gaduh. "Apakah harus segitunya, 'kan cuma cacing."
"Iya, tapi seram loh." ujar Crisel.
"Tidak aku sangka, kau yang sebesar ini takut padanya." Feiye geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba Feiye ditarik oleh Crisel ke dalam pelukannya, karena gorila hendak menerkamnya dengan lompatan lebarnya.
"Kamu lihat tuh, di sana ada gorila." Crisel menunjuk gorila, yang sekarang berbalik badan.
"Aaa... lari!" Keduanya berteriak secara bersamaan.
Rumput-rumput diterjang, bersamaan dengan derasnya langkah gorila. Menerjang apapun dengan menancapkan kukunya, pada sesuatu apapun yang menghalanginya.
"Pokoknya, pancing dia didekat jurang. Setelah itu, buat dia terjatuh." ujar Crisel.
"Kau kira semudah mengucapkannya, tidak begitu kenyataannya. Dengan tubuhnya yang sebesar itu, mana mungkin." jawab Feiye.
"Coba saja, kita harus berusaha. Berdua pasti lebih baik, daripada melakukannya sendiri." ucap Crisel.
"Baiklah, kita melakukannya sekarang. Sudah tidak banyak waktu lagi." jawab Feiye.
Mereka mulai bekerjasama, untuk mengalahkan gorila raksasa tersebut. Feiye memancingnya, untuk berlari ke arah jurang. Kini dia berdiri tepat di pinggiran bukit, lalu segera melompat ke samping saat gorila hendak menerkamnya.
Gorila itu terpeleset dan jatuh ke bawah bukit, tertimpa rata dengan batu-batuan besar. Feiye segera meninggalkannya, bersamaan dengan Crisel yang baru keluar dari persembunyiannya.
"Enak iya jadi kamu, hanya melihat saja." ujar Feiye.
"Tapi, aku bersiao-siap untuk menembaknya." Crisel mengangkat tinggi-tinggi, pistol yang dipegangnya.
"Mengapa bukan aku saja yang sembunyi, pria harus jadi pelindung." Feiye berbicara tegas, namun terlihat bercanda.
"Feiye, di sini adalah Brave Girl And Giant Gorila. Kamu harus menjadi pemberani, sesuai konsep untuk isi penelitian kita. Apa lagi saat persentasi, tidak mungkin seorang ketua diam saja." Crisel mengoceh panjang dan lebar.
"Iya, iya, berisik sekali!" jawab Feiye.
Crisel tersenyum-senyum sendiri, melihat tingkah Feiye. Di dalam hati dia sangat senang, karena bisa bersama perempuan yang dia sukai.
”Feiye, Feiye, selain pemberani, ternyata kamu lucu juga." batin Crisel berdecak kagum.
Mereka masih melanjutkan perjalanan, untuk mengambil objek lebih banyak.