Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Permintaan Maaf



Dor!


Dor!


Suara tembakan menggema di mana-mana, hingga mendatangkan banyak orang ke lokasi. Heyra dan Yeroi bingung, karena jumlah mereka sangat banyak.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Heyra.


"Cari cara untuk kabur, bagaimana pun juga kita harus lepas dari cengkeramannya." jawab Yeroi.


Heyra menoleh ke pinggir laut. "Padahal sedikit lagi, rakit itu bisa ditumpangi."


"Jangan gegabah, tunggu mereka bisa dilumpuhkan." jawab Yeroi, sengaja mengingatkan kekasihnya.


Milraes merasakan sakit pada pundaknya, saat mendapat serangan peluru bertubi-tubi. Milraes yang muncul dari balik pohon, tanpa menggunakan baju pelindung merupakan kecerobohan. Namun bukan salah dia sepenuhnya, karena tujuan sebenarnya ingin memberikan serangan.


"Eh Milraes, mengapa kamu nekat sekali." Zinei berjalan dengan hati-hati, tangannya baru saja diperban.


"Aku tidak nekat, ini hanya dorongan naluri." jawab Milraes.


"Sama saja itu namanya." ucap Zinei.


"Oh... begitu iya." Milraes melihat ke arah lawan bicara.


Yeroi ingin mengalihkan perhatian mereka, hingga memancingnya menjauh pergi. Dia tidak ingin, bila teman-temannya ditangkap.


"Hei, kejar aku!" Yeroi melambaikan tangannya.


Mereka mengejar Yeroi yang berlari kencang, sampai berlari di atas kayu tumbang nan besar. Yeroi lari berlenggak-lenggok, di antara kebun cokelat. Lari terbirit-birit sampai bingung, lalu berbelok ke tengah sawah.


Sementara Heyra dan Zinei cepat-cepat mendorong rakit pisang. Setelah berhasil ke permukaan pinggir air, menyeret badan rakit dengan dayung. Mulai berjalan perlahan-lahan, sambil menunggu Yeroi muncul.


"Yeroi mana si?" tanya Heyra.


"Mungkin dia masih berusaha melarikan diri." jawab Zinei.


Orang-orang suku pedalaman berusaha mengejar di pinggir sungai. Namun apalah daya, tidak berhasil mengenai tombak ke tubuh mereka.


"Huuu...!" Suara bersorak-sorai, saat Zinei menjulurkan lidahnya.


Mereka senang, akhirnya bisa bebas dari kejaran manusia suku pedalaman. Tiba-tiba di depan mereka ada air yang bergerak, pusarannya sangat luas.


Muncul seekor naga raksasa, berdiri tepat lurus dengan arah kepala Zinei. Milraes berusaha melayangkan tembakan, namun tubuhnya disambar ekor besarnya.


"Aduh, sakit sekali!" Milraes berenang di dalam air, sambil memperhatikan sekeliling. Heyra membantu Milraes, dengan meraih tangannya.


"Heyra, mengapa kamu masih mau menolongku?" tanya Milraes.


"Karena ini merupakan sifat kemanusiaan." jawab Heyra.


"Terima kasih, aku minta maaf telah jahat pada kamu." ucapnya tulus.


"Iya, tidak apa-apa kok." jawab Heyra.


Zinei ditelan oleh naga, saat tubuhnya ambruk di atas rakit. Yeroi terlempar ke tengah laut, karena diserang oleh naga raksasa. Saat hendak menelannya, muncul ular Anakonda menghalangi.


Pertengkaran sengit terjadi di antara mereka, sementara Heyra sibuk mengemudikan rakit. Yeroi berenang secepatnya, untuk meraih batang pisang. Heyra menginjaknya dengan hati-hati, karena rakit batang pisang tidak kokoh.


Shht!


Ular menelan Milraes saat Heyra mengulurkan tangan untuk Yeroi. Naga raksasa bangkit untuk memperebutkan mangsanya. Dia menghalangi ular Anakonda untuk menelan Heyra dan Yeroi.


"Kesempatan kita kabur, ayo cepat lari." ajak Heyra.


"Iya, ini juga berusaha kabur." jawab Yeroi.


Heyra dan Yeroi mendayung dengan kompak, supaya lebih jauh dari posisi hewan buas tersebut. Setelah dirasa cukup aman, mereka baru memasuki goa. Tempat itu adalah awal mula, dari sebuah perjalanan.