Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Rumah Pohon



Malam harinya, udara sangat mencekam. Heyra sengaja menyalakan senter, supaya matanya bisa melihat dalam kegelapan.


"Heyra, kita foto berdua yuk." ajak Yeroi.


"Ayo, aku juga ingin membuat kenangan bersamamu." jawabnya, dengan jujur.


"Sekarang kita mulai foto bersama." Yeroi mengarahkan kamera.


"Arahkan pada tanganku, yang siap memasang gaya." jawab Heyra.


Cekrak!


Cekrek!


Cekrak!


Cekrek!


Suara bidikan kamera yang mengenai wajah mereka, mengenai seekor induk burung yang sangat besar. Heyra melihat hasil bidikan foto Yeroi, yang terlihat biasa saja, namun ada juga yang menarik.


"Bagus sekali foto ini, ada burung merpati di belakang kita." Heyra memperlihatkan raut wajah sumringah.


"Iya, seperti lambang cinta sejati." jawab Yeroi.


"Sudahlah, sekarang kamu kembali ke rumah kamu sendiri. Aku di sini mau tidur, palingan Milraes juga sudah mengantuk." ujar Heyra.


"Iya sayang, selamat tidur yang lelap." Yeroi menuruni anak tangga, sambil melambaikan tangan.


Heyra melihat Milraes yang muncul di emperan. Dia berdiri di sana, lalu melihat ke arah Heyra.


"Heyra, kamu sengaja iya bermesraan dengan Yeroi." ujar Milraes spontan.


"Memang sengaja, lagipula dia juga kekasih aku." jawab Heyra.


"Kamu itu harus mikir, ada aku di sini." ucap Milraes.


"Aku tidak mau repot-repot memikirkan orang jahat sepertimu. Lagipula bukan siapa-siapa aku juga." jawab Heyra cuek.


Pada saat kedatangan Anakonda, Milraes mendorong Heyra hingga jatuh ke bawah tangga. Ular hendak menelan Heyra dari atas langit-langit rumah, namun tubuhnya mengelak agar tidak tertelan binatang tersebut.


"Yeroi, tolong aku!" Heyra berteriak dari bawah.


Tret!


Tret!


Suara ponsel berbunyi, Yeroi mengedipkan matanya. Yeroi mulai terbangun dari tidurnya, lalu menutup kepalanya menggunakan selimut. Yeroi pura-pura tidur, lalu ular berjalan ke arah perutnya.


"Please, kamu harus lakukan sesuatu Yeroi." Heyra mengintip dari celah-celah daun rumput.


Zinei dan Zujuna terbangun secara bersamaan, lalu melihat binatang bertubuh panjang naik lewat celah dinding. Heyra


"Ada ular Anakonda." bisik Zujuna.


"Ayo pura-pura tidur saja." ajak Zinei.


"Iya, ayo cepat." ujarnya.


"Baiklah, demi menyelamatkan kita." jawab Zinei.


Ular Anakonda berjalan menuruni tangga, setelah melingkar pada tubuh kedua laki-laki tersebut. Heyra keluar dari persembunyian, setelah ular tersebut pergi.


"Yeroi, kamu tidak apa-apa 'kan?" Heyra berteriak dari bawah tangga, memanggil orang yang dimaksud.


"Iya, aku tidak apa-apa kok." jawab Yeroi.


Heyra merasa lega, setelah memastikan keadaan Yeroi. Heyra kembali ke rumahnya sendiri, dan tidur di sebelah Milraes.


”Kurang ajar dia, telah membuat aku hampir kehilangan nyawa.” batin Heyra kesal sekali.


Keesokan harinya, mereka ingin mencari ikan di sungai. Tiba-tiba saat berjalan, kaki Milraes terinjak ranjau jebakan. Dia sibuk memeluk Yeroi, dan Heyra mendorongnya hingga jatuh.


"Jadi perempuan jangan genit dong!" ucap Heyra, dengan spontan.


"Tidak kok, aku hanya minta tolong sebentar." jawab Heyra beralasan.


Heyra tidak menghiraukan penjelasannya, lalu memilih pergi. Heyra melangkahkan kaki duluan, membiarkan Yeroi bersama Milraes. Bukannya tidak cemburu, tapi malas berbicara tidak digubris.


"Heyra, tunggu aku!" pinta Yeroi.


"Aku malas menunggu orang yang sedang bermesraan dengan yang lain." jawab Heyra.