
Orang-orang suku pedalaman membakar rumah pohon, yang telah dibuat oleh Heyra dan teman-temannya.
"Ayo kita buat tempat lain saja, tempat peristirahatan telah dihancurkan." ujar Heyra.
"Sudahlah, lagipula ada sarang ular Anakonda." jawab Zinei.
"Cari tempat lain saja." Yeroi mengajak mereka pergi.
"Iya, ada rerimbunan pakis yang tidak jauh dari sini." Heyra ikut saja, sekaligus memberikan saran.
Ular Anakonda keluar, sangat banyak jumlahnya. Mereka belum lama menetas, hal wajar asyik bermain. Berjalan dengan perlahan-lahan, untuk mencari makanan.
"Tolong!"
Salah satu dari kelompok suku pedalaman diterkam ular, hingga berteriak histeris. Sebagian yang lain berlari, untuk menyelamatkan diri.
Heyra dan Yeroi jadi bingung, ingin berlari dari hewan buas, tapi di sisi lain ingin berlari dari kejaran manusia jahat.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Heyra.
"Aku juga tidak tahu, orang-orang itu tampak tidak suka. Mereka begitu terobsesi untuk mengejar kita." jawab Yeroi, dengan nafas terengah-engah.
Belum lama sibuk berbicara, muncul sebuah kapal besar. Banyak orang yang menuruni anak tangga, berjumlah sekitar enam orang. Tidak tahu mengapa, naga raksasa tidak muncul. Jika yang mengarungi laut, selalu gagal untuk pergi.
Duar!
Tiba-tiba melayangkan tembak, ke arah orang-orang suku pedalaman. Mereka hendak mengarahkan tombak, makanya diserang. Pertengkaran sengit pun terjadi, hingga berlumuran darah.
Hujan panah dan peluru saling menyerang ke arah berlawanan. Para peneliti naga itu bersembunyi, di balik pohon kelapa. Sesekali keluar untuk menembak musuh, yang jumlahnya lebih banyak.
"Ayo cepat lari, mereka menyerang terlalu banyak." ujarnya.
"Iya, tapi harus kabur lewat jalan mana." jawab laki-laki berkacamata.
"Ada semak belukar, kita berlindung di sana saja." menunjuk semak belukar.
Saat kaki melangkah dengan cepat, sebuah panah berhasil menembus orang paling belakang. Saat terluka, yang lain memilih kabur. Mereka tidak ada waktu lagi untuk menyelamatkan, karena diserbu tombak bertubi-tubi.
"Cepat mengelak, jangan sampai kita kalah serangan." Memperingati teman-temannya.
"Iya, aku akan menyerang balik." jawabnya.
Heyra dan Yeroi masuk ke dalam kapal, disusul langkah kaki Zinei dan Milraes. Mereka mulai mencari cara, supaya bisa aman.
"Ada pelampung tidak?" tanya Heyra.
"Coba periksa di gudang kapal." jawab Yeroi.
"Kalau ada pelampung, kita semua bisa kabur." Heyra lagi berpikir keras.
"Belum tentu, gelombang air dari gerakan tubuh kita terlihat." jawab Yeroi.
"Tidak mengapa, apa salahnya mencoba. Dengan begitu, tidak akan ada penyesalan." Heyra merayu Yeroi, supaya terpengaruh.
Yeroi melihat ke arah Heyra. "Baiklah, kita akan mencoba cara tersebut. Namun, kita bawa kapal ini berlayar terlebih dulu."
Heyra dan Yeroi masuk ke ruang mengemudi. Mesin mulai dihidupkan, lalu berjalan dengan pelan-pelan. Zinei dan Milraes duduk di bangku yang tidak jauh dari pengemudi. Tiba-tiba saja, ada ombak deras.
"Aaa...!" Milraes berteriak lantang.
"Ada apa?" tanya Zinei.
"Aku melihat seekor naga kecil." Milraes menunjuk air.
"Aku tidak melihat apa pun." ujar Zinei.
"Kamu pikir aku bohong? Aku sungguh melihatnya dengan jelas." Milraes meyakini apa yang dilihatnya.
Zinei memastikannya, dengan melihat ke arah air. Tiba-tiba saja tangan Zinei digigit, lalu Milraes menarik tubuh Zinei. Mereka berdua terjatuh ke lantai secara bersamaan. Milraes memegangi pinggangnya yang sakit.