
Rakit dari bambu mulai berjalan dengan hati-hati, di tengah laut yang sangat luas. Naga muncul, lalu menggerakkan ekornya. Heyra dan Yeroi sengaja mendayung kuat, agar menjauh dari hewan tersebut. Zinei dan Zujuna sibuk menembaknya, namun tidak berpengaruh sama sekali. Rakit terjatuh dan terguling, karena hilang keseimbangan.
Byur!
Heyra dan Yeroi berenang secepatnya, agar sampai ke seberang. Sementara Zujuna ditarik kakinya, lalu ditelan oleh makhluk buas tersebut.
"Cepat Milraes, kita harus sampai ke seberang." Zinei menarik tangan Milraes.
"Iya Zinei, tunggu sebentar. Nafasku hampir tercekat, sulit untuk bergerak."
Yeroi dan Heyra sudah sampai ke daratan terlebih dulu. Lalu disusul oleh Zinei dan Zujuna, yang berjalan mendekati mereka.
"Eh, lihat di ujung sana." Heyra menunjuk suku pedalaman, yang membawa tombak.
"Cepat lari!" teriak Yeroi.
Mereka berempat lari terbirit-birit, karena aksi persiapan orang yang ingin menangkapnya. Mereka marah besar, mengira mereka berempat pengundang naga.
"Mereka pasti ingin mengambil telur naga raksasa. Lebih baik kita musnahkan dengan cara dibakar, daripada naga pembawa petaka diwariskan." Berbicara dengan bahasa ciri khas mereka.
"Benar, ayo cepat tangkap!"
Heyra dan Yeroi berlari sambil bergandengan tangan, tidak tentu arah karena tidak memiliki tujuan. Zinei dan Milraes bersandar di pohon pinang sejenak, karena mereka merasa lelah.
"Eh, kenapa suku pedalaman itu tergila-gila mengejar kita. Apa si tujuannya?" tanya Milraes.
"Sudah pasti mereka tidak suka kita mengusiknya." jawab Yeroi.
"Setahu aku, dulu di sini tempat yang damai." ujar Milraes.
"Ini semua karena kamu, coba kamu tidak mengajak ke tempat ini." jawab Yeroi, yang mulai sedikit menyalahkannya.
"Kamu pasti tahu, hanya tidak jujur. Aku melihat, kamu ada maksud lain pada Heyra." jawab Yeroi, dengan spontan.
"Maksud lain apa si, aku tidak mengerti maksud kamu." Milraes pura-pura tidak tahu.
"Sudahlah, jangan mengelak lagi. Sebelum Zujuna mati, dia melihat kamu mendorong Heyra di emperan. Pada akhirnya, dia berlari seorang diri. Namun pacarku hampir mati ditelan Anakonda." Yeroi teringat penjelasan Zujuna, saat berbicara empat mata.
"Maaf Yeroi, aku melakukan itu karena cinta. Aku tidak bermaksud untuk mencelakai Heyra." Milraes memasang raut wajah sedih.
"Aku tidak menyangka, kalau kamu sejahat ini." sahut Zinei.
"Maafin aku Zinei, tolong jangan marah padaku. Tidak mengapa kamu tidak suka, tapi jangan menjauh. Aku takut ditinggal sendirian di sini." Milraes memohon.
"Tidak bisa, aku harus menjauh darimu." Zinei kecewa, karena orang yang disukainya punya hati yang busuk.
"Zinei, jangan tinggalin aku." Milraes memandang dengan wajah menyedihkan.
Yeroi dan Heyra melangkahkan kaki, meninggalkan Milraes yang ketakutan. Milraes mengikuti mereka dari belakang, meski pun diacuhkan tetap saja mengoceh. Omongannya tidak penting, hanya memancing lawan bicara.
"Yeroi, bagaimana bila kita meminta bantuan untuk keluar." ujar Milraes.
"Sinyal tidak menentu, setiap mau menghubungi pihak luar selalu menghilang." jawab Yeroi.
"Coba kita naik ke atas bukit yuk." ajak Heyra.
"Ayo, kita pergi sekarang." Yeroi melangkahkan kaki, sambil menarik tangan Heyra.
Yeroi berjalan lebih cepat, merasa risih mendengar langkah kaki Milraes. Seperti berburu dengan kakinya, untuk berlomba siapa yang paling cepat.