
Yeroi membiarkan naga berlalu pergi terlebih dulu, baru mengeluarkan tubuh anak kecil dari drum. Yeroi mengobati tangannya yang terluka, agar mendapatkan pertolongan lebih cepat.
"Aku masih menyimpan salep di dalam kantong." ujar Yeroi.
"Iya Kak, terima kasih." jawabnya.
Salep sudah ditempelkan pada betis, dan juga pada dengkul. lalu
Heyra melihat perempuan paruh baya itu, baru saja usai melakukan persalinan. Ranjang pasien didorong oleh suster pelan-pelan, menuju ke ruangan lain.
"Apa ada ruangan yang lebih aman?" tanya Heyra.
"Ada, di tangga darurat." jawab suster.
"Sebenarnya, rumah sakit ini ingin diledakkan." ujar Heyra.
"Kalau gitu, kita keluar saja. Aku takut terjebak di gedung besar ini, lalu mati mengenaskan dengan konyol." jawab salah satu suster.
"Tenang, tenang, itu tidak akan terjadi jikalau masih banyak manusia." ujar Heyra.
"Benar loh neng, kamu jangan membohongi kami." jawab suster.
Tim keamanan kota melihat naga raksasa muncul, lalu mengeluarkan api dari mulutnya. Mereka menembakkan senjata, hingga terkena perut naga. Namun tidak dapat membunuhnya dengan mudah, karena kulit naga sangat kuat.
"Ayo kabur masuk ke dalam, sembunyi pada ruangan rumah sakit saja." ajak salah satu dari mereka.
"Iya, ayo sekarang secepatnya mengamankan diri." jawab Heyra datar.
"Oh iya, aku mengikuti kamu saja." ujarnya.
"Baiklah, ayo berjalan bersamaku." jawab Heyra.
Naga raksasa mengamuk, sampai menabrak jendela rumah sakit. Kaca-kaca berjatuhan, hingga berserakan di mana-mana. Tim keamanan menyerang menggunakan alat tembak, ada juga yang membawa golok, ada juga yang membawa gergaji.
Naga memasuki kolong semen cor-coran, lalu mencari keberadaan orang yang dituju. Naga raksasa menyemburkan lahar api, dan matanya celingak-celinguk. Tidak lama kemudian, Yeroi telah kembali. Anak kecil telah diamankan, dibawa ke suatu tempat yang mungkin tidak dikunjungi naga raksasa.
"Sekarang aku harus mencari, di mana keberadaan Heyra." monolog Yeroi.
Naga raksasa sibuk berkeliling di rumah sakit, hanya untuk memastikan di mana telurnya disembunyikan. Naga raksasa ngamuk-ngamuk, mengacaukan peralatan di rumah sakit. Jarum suntik terlempar, alat gunting operasi berserakan di lantai, sendok dan piring yang menjadi alat makan terlempar menjadi satu.
"Heyra!" Yeroi berteriak memanggil kekasihnya, yang tidak tahu entah ke mana.
Tim pengaman mengarahkan jala ikan, untuk mengurung naga raksasa. Naga raksasa itu mengamuk, lalu ditembak dari jarak jauh. tidak butuh waktu lama, dengan cepat naga raksasa tersebut menyerang.
"Huwaa...!" Suaranya menggema di dalam ruangan, membuat ketakutan siapa pun yang masih bersembunyi.
Dor!
Dor!
Punggung salah satu orang disabet ekor naga raksasa. Beberapa orang ketakutan dan berlari, namun hampir tertimpa plafon yang terbakar. Yeroi yang baru muncul di tembok pembatas, untuk berbelok arah sebelum ketahuan oleh naga raksasa yang tersebut.
Keesokkan harinya, Heyra dan Yeroi pergi ke sebuah pertunjukan lelang. Heyra dan Yeroi penasaran dengan telur yang dibicarakan, oleh warga komplek perumahan.
"Eh, apa itu telur naga raksasa?" tanya Yeroi.
"Mungkin saja, bisa saja telur itu diambil oleh orang tidak bertanggungjawab." jawab Heyra.
"Kalau benar begitu, kita harus mengambilnya, lalu mengembalikan ke tempat asalnya." Yeroi mengusulkan idenya.
"Benar sekali Yeroi, ayo kita perhatikan dari kejauhan." jawab Heyra lirih.