
Heyra, Zinei, dan Yeroi bersembunyi di dalam goa, supaya terhindar dari ular. Mereka bertiga duduk, lalu menyalakan api unggun. Tanpa terasa hari sudah malam, setelah dari tadi sibuk berpacu langkah.
"Kita mau makan apa?" tanya Zinei.
"Kita makan sosis dipanggang saja. Aku sudah menyiapkan beberapa bungkus untuk dibawa ke sini." jawab Heyra.
"Aku juga menyiapkan nugget ikan kemasan besar." sahut Yeroi, sambil merapikan barang dalam tas.
"Aku membawa banyak air minum, dengan aneka rasa buah." jawab Zinei.
"Menurutku, seperti itu malah membuat sakit perut." ujar Heyra.
"Oh gitu iya." jawab Zinei.
"Benar, apalagi saat masih kosong." ujar Yeroi.
"Aku tidak tahu, yang aku pikirkan rasanya yang enak." jawab Zinei.
Kepulan asap mulai meninggi, bersamaan dengan tangan mereka yang lihai membakar makanan. Perut mereka perlu diisi, karena sudah terasa sangat sakit.
"Ayo kita makan sekarang." ajak Heyra.
Zinei melihat sosis yang sudah selesai dipanggang. "Iya, aku sudah lapar sekali."
Mereka akhirnya menyantap sosis bakar bersama. Setelah terasa kenyang, baru Heyra minum air putih. Begitupula dengan Yeroi, yang tampak masih menahan sakit.
"Dadaku terkena ekornya yang besar." ujar Yeroi.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat." Heyra memberi pacarnya selimut.
"Iya Heyra, terima kasih." ucap Yeroi.
"Sama-sama." jawabnya, sambil melemparkan senyuman.
"Apa mereka jahat?" tanya Milraes.
"Entahlah, aku hanya waspada saja." jawab Zujuna.
"Kalau mereka orang baik, kita yang rugi sendiri. Aku butuh tumpangan untuk menginap, atau setidaknya mendapat perlindungan." ujar Milraes.
"Kamu harus lihat, kalau dia berbeda dengan kita. Cara berbicara dan tindakan juga tidak mirip, dengan manusia pada umumnya." jawab Zujuna.
Milraes hanya manggut-manggut. "Terserah deh, aku ikut saja. Namun di sini tidak nyaman, banyak nyamuk."
"Kalau soal nyamuk, aku sudah membawa semprotan pembasmi khusus. Namun yang aku takutkan, saat tidur ada binatang buas. Terlebih lagi para manusia pedalaman tadi, mereka membawa tombak tajam." jawab Zujuna.
Zujuna dan Milraes keluar dari ruangan bawah tanah, setelah orang-orang pedalaman pergi. Zujuna dan Milraes berjalan tidak tentu arah, memilih tidur di atas pohon. Mau bagaimana lagi, di bawah juga tidak aman.
Macan tutul memasuki goa, disaat tengah malam tiba. Tampaknya dia ingin beristirahat dengan tenang, tanpa gangguan dari binatang yang lain. Heyra mengedipkan kedua bola matanya, lalu tidak sengaja melihat binatang tersebut.
"Ayo kabur dari sini." Sibuk menggoyangkan tubuh Yeroi.
Yeroi jadi bangun, bersamaan dengan Zinei juga. Zinei yang segera duduk terlebih dulu.
"Memangnya ada apa?" tanya Yeroi.
"Shht...!" Heyra meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Ada macan tutul."
"Iya sudah, ayo pergi sekarang." Yeroi buru-buru bangun.
"Baiklah, namun harus hati-hati." Heyra mengambil tasnya.
Mereka berjalan mengendap-endap, bersamaan dengan munculnya ular Anakonda. Mereka segera sembunyi, saat macan tutul melakukan perlawanan. Ular Anakonda mencabik-cabik daging macan tutul dengan ganas, karena perutnya merasa sangat lapar.
Macan tutul sibuk melakukan perlawanan, namun tidak kuasa melakukan pergerakan lagi. Setelah berulang kali dilumpuhkan, dengan gigi taring Anakonda yang besar. Macan tutul menyerah, dan terpaksa merelakan kekalahannya.