Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Naga Raksasa Mengamuk



Heyra berhasil mencongkel lubang triplek, dengan pisau kecil yang dikantongi. Heyra berjalan pelan-pelan, hendak kabur tanpa diketahui. Tiba-tiba terdengar suara orang mendekat, pura-pura tidak bereaksi terlebih dulu.


"Haduh, mereka mau masuk ke kandang ayam lagi. Aku pura-pura tidak kabur saja ah." Heyra mengembalikan papan triplek seperti semula.


Saat mereka masuk ke dalam, Heyra sudah duduk manis. Mereka memperhatikan setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan apa pun.


"Sepertinya aman, ayo kita pergi saja." salah satunya memberitahu yang lain.


"Iya, aku juga ingin makan." Memegangi perutnya yang keroncongan.


Usai memastikan Heyra ada di dalam, mereka semua pergi. Heyra melanjutkan aksinya, keluar lewat jalan pintas yang dibuat olehnya.


"Hei jangan kabur!" Salah satu orang memergoki Heyra.


Heyra terus berlari tunggang langgang, menuju jalan setapak kecil. Heyra menerobos ke arah kebun pinang, untuk menyelamatkan diri. Sebuah tombak mengenai batang pohon pinang, karena Heyra mengelak. Dia terus berlari jalan berlenggak-lenggok.


Sementara di sisi lain, ada yang panik. Siapa lagi kalau bukan Milraes, dia sibuk membangunkan Zujuna. Sibuk teriak minta tolong, padahal tidak ada siapa pun.


Wouhhhh...!


Suara naga yang mengeluarkan api, hendak menyerbu Milraes. Tiba-tiba saja muncul Heyra, yang sengaja menembaknya. Hewan tersebut menoleh ke arah Heyra, mengabaikan Milraes dan Zujuna.


Heyra mengambil tumbuhan ungu dari tangan kantongnya. "Milraes, berikan obatnya pada Zujuna." titahnya lantang.


Milraes menangkap tumbuhan tersebut. "Iya Heyra, baiklah."


Menyingkirkan ego sendiri, demi keselamatan temannya. Sebenarnya Heyra masih kesal dengan Milraes, yang sengaja ingin membunuhnya di laut hijau. Apalagi tahu tujuannya ingin merebut Yeroi darinya.


Wouhhhh...!


Naga mengejar Heyra sampai dia bersembunyi, di antara dua himpitan batu. Heyra menutup mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara.


Yeroi dan Zinei lari berlenggak-lenggok, mengitari pohon akasia. Mereka kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi. Ular Anaconda ditembak menggunakan pistol listrik, namun masih kuat mengamuk.


"Cepat kita lari, dia masih dilumpuhkan oleh kekuatan listrik." ajak Yeroi.


"Aku bingung, harus bersembunyi kemana." jawab Zinei.


"Masuk ke dalam gorong-gorong." Yeroi melihat tempat yang pas, untuk menyembunyikan tubuh mereka.


"Iya Yeroi, aku mengikuti kamu saja." jawab Zinei dengan lantang.


Yeroi celingak-celinguk terlebih dulu, sebelum akhirnya melangkah. Mereka masuk ke dalam gorong-gorong, lalu merebahkan diri masing-masing.


Zujuna sudah terbangun, setengah jam kemudian. Racun yang sempat mengenai tubuhnya lepas, terkena perasan air dari tumbuhan berwarna ungu.


"Aku lega, karena kamu sudah sadar sekarang." ungkap Milraes.


"Namun di mana yang lainnya, mengapa hanya kita yang ada di sini." jawab Zujuna.


"Mereka sedang pergi mencari Heyra yang menghilang." ujar Milraes.


"Aku harus ikut mencarinya." Zujuna hendak berdiri, namun terjatuh.


Zujuna dibantu Milraes sampai berdiri tegap. Zujuna hendak terjatuh, namun ditahan oleh kakinya sendiri. Milraes segera memapah tubuh Zujuna, untuk mencari tempat istirahat yang aman. Milraes mengajaknya membuat rumah dari alang-alang.


"Kamu yakin tidak ketahuan di sini?" tanya Zujuna.


"Asal diam dan tidak bersuara, aku rasa aman." jawab Milraes.


Milraes melangkahkan kakinya, mulai masuk ke dalam pondok. Zujuna juga ikut membuntuti, lalu duduk bersila. Milraes membuka botol air minum, lalu memberikan pada Zujuna. Zujuna menenggak minuman tersebut, hingga air membasahi kerongkongan keringnya.