
Heyra berlari kencang, sampai betisnya menabrak duri-duri. Dia dikejar dengan naga laut raksasa, lalu bersembunyi di balik batang pohon. Heyra menyempatkan diri untuk mengintip, sambil memberanikan diri memegang pistol.
"Haduh gawat, aku harus menunduk di suatu tempat yang lebih aman."
Heyra hanya bersiap saja, tapi tidak menembaknya. Kalau dia menyerang, nanti bisa berakhir kematian. Naga itu lebih kuat darinya, tubuhnya besar dan bersisik.
Wouhhhh...!
Yeroi bertemu Heyra, di sebuah perbatasan. Sungai dengan aliran paling terkecil itu, bisa menghubungkan ke sebuah laut. Zinei dan Yeroi memilih berjalan ke arah rawa, yang tidak terlalu dalam airnya.
"Apa di sini aman?" bisik Zinei.
"Aku juga tidak tahu." jawab Yeroi.
"Sungguh banyak nyamuk di sini, aku ingin berganti tempat saja." ujar Zinei, sambil menepuk-nepuk hewan yang terbang ke pipinya.
"Hus diam, ada suara berisik mendekat." Yeroi memperhatikan sekeliling.
Mereka memutuskan memanjat pohon tinggi, lalu memperhatikan ke arah bawah. Ada naga dan ular Anaconda sedang berjalan bersama. Awalnya berdampingan dengan tenang, lalu keduanya sibuk berseteru.
"Mereka memperebutkan apa?" tanya Zinei.
"Sepertinya, mereka sibuk mengenai mangsa." jawab Heyra.
"Jangan-jangan, kita akan dicincang halus oleh Naga laut hijau." ucap Zinei.
"Entahlah, aku tidak berharap seperti itu." jelas Heyra.
Ketika dua makhluk buas bertengkar, kesempatan mereka untuk kabur. Heyra dan Yeroi menuruni pohon besar, lalu melangkahkan kaki dengan hati-hati. Zinei tidak sengaja menginjak ranting besar, jadi menimbulkan suara.
"Aduh Zinei, gawat ini." ujar Yeroi.
"Cepat kabur!" Heyra menarik lengan Yeroi.
Mereka mencari akar renggang, yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. Heyra dan Yeroi masuk ke dalam sela, yang cukup untuk menampung tubuh mereka.
Bunyi mulut ular yang berdesis, karena melihat musuhnya. Namun tidak bisa ditangkap, karena badannya terlalu besar. Heyra sibuk menutupi wajahnya, saat ular itu sengaja menjulurkan lidah besarnya.
"Beruntung kita selamat, meski sembunyi dalam akar." ujar Heyra.
"Maafin aku Heyra, Yeroi, harusnya aku tidak ceroboh. Mau bagaimana lagi, jalan di dalam air sulit melihat benda." Zinei merasa bersalah.
"Sudahlah, lagipula kamu tidak sengaja." ucap Heyra.
"Terima kasih Heyra atas pengertiannya." jawab Zinei.
Terdengar suara di luar gubuk ilalang, Milraes memberanikan mengintip. Dia sibuk menggoyangkan tubuh Zujuna. Ada komodo raksasa, yang sedang memangsa induk rusa.
"Bagaimana cara kita kabur?" tanya Milraes.
"Entahlah, lebih baik diam saja." jawab Zujuna.
Tanpa terduga, komodo raksasa mendekati gubuk ilalang. Milraes dan Zujuna memilih tutup mulut, agar tidak ditelan makhluk buas tersebut. Komodo memperhatikan dengan jeli, dengan perut yang sangat kenyang.
Ruang bawah tanah menjadi tempat pilihan untuk bersembunyi. Zujuna dan Milraes kabur diam-diam, saat komodo raksasa berhasil menerobos masuk ke dalam. Keduanya sudah mempersiapkan kabur, membawa tas yang berisi bekal.
"Baru saja nyaman, malah diganggu lagi." ucap Zujuna.
"Namanya juga berpetualang, sudahlah terima saja." jawab Milraes.
Milraes dan Zujuna berlari, saat mendengar suara mendekat. Komodo ternyata mengejar di belakang, sengaja ingin menggapai tubuh keduanya. Mereka cepat-cepat masuk ke dalam bawah ruang bawah tanah.
"Dari mana kamu bisa tahu ruangan ini?" tanya Zujuna.
"Aku dulu pernah pergi ke sini, lumayan nyaman saja." jawab Milraes.
"Berarti, kamu sudah tahu dong tentang naga raksasa?" Zujuna penasaran.
"Hih, aku juga baru tahu sekarang. Dulu di tempat ini, tidak ada binatang buas." jelas Milraes.