
Heyra dan Yeroi menutup mulut masing-masing, sembari menunggu naga raksasa lewat. naga raksasa itu celingak-celinguk, namun tidak melihat siapa pun. Tidak butuh waktu lama, naga Itu sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Ayo kita segera mencari pertolongan." ucap Heyra.
"Ayo, kita minta tolong dengan tim keamanan saja. Aku yakin ada alat perang, yang bisa memusnahkan naga raksasa itu." jawab Yeroi.
"Iya, usulan ide dari kamu benar juga." ujar Heyra.
"Nah, untuk itulah aku mengajakmu pergi sekarang juga." Yeroi langsung menarik lengan Heyra.
Heyra melangkahkan kaki, lalu berjalan dengan cepat. Tidak sengaja malah terpeleset, jadi berjalan terseok-seok.
"Haduh, kakiku sakit sekali Yeroi." ucap Heyra.
"Iya sudah, kita beristirahat dulu." Yeroi mengajak duduk di sebuah halte bus.
Tanpa sengaja Heyra melihat banyak debu berterbangan. Ternyata itu perbuatan naga raksasa, yang mengamuk di atas balkon. Tepatnya di sebuah rumah sakit terbesar, yang ada di kota tersebut.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Heyra.
"Sepertinya dia mencari sesuatu, makanya sampai marah seperti ini." jawab Yeroi.
"Aku rasa dia sedang marah dengan manusia yang ada di kota ini. Padahal, saat pulang aku tidak membawa telurnya." ujar Heyra.
"Mungkin, ada orang lain yang berbuat ulah." jawab Yeroi.
Heyra dan Yeroi segera pergi ke pusat keamanan kota, lalu bertemu dengan tim penyelamat. Heyra dan Yeroi meminta izin, untuk membawa alat berat bernama meriam tersebut.
"Wahai anak muda, jangan gegabah dalam menggunakan alat ini." ucap salah satu orang pria.
"Kami menggunakannya untuk menyerang naga raksasa, yang sedang mengganggu pemukiman warga." jelas Yeroi.
"Tidak masalah, yang terpenting kami diajarkan caranya." jawab Yeroi.
Heyra dan Yeroi pergi ke rumah sakit, melihat kondisi terlebih dulu. Jika mereka langsung menembak naga, pasti ledakannya mengenai gedung rumah sakit.
"Ada seorang perempuan yang sedang melahirkan. Kita tidak mungkin mendesaknya untuk pergi." ucap Heyra.
"Iya sudah, kita terima saja. Harus menunggu, sampai prosesnya selesai." jawab Yeroi.
Seekor naga memasuki pintu rumah sakit, sampai membuat gedung itu bergoyang. Heyra dan Yeroi sampai berpegangan dinding, karena merasakan guncangan yang dahsyat.
"Bagaimana ini, kita harus menyelamatkan banyak orang terlebih dulu." ucap Heyra.
"Tidak masalah, aku yang akan menggunakan toa untuk menyuruh semua orang pergi." jawab Yeroi.
"Mereka sudah banyak yang lari, kecuali beberapa orang yang menunggu pasien darurat." ujar Heyra.
"Aku akan menggunakan motor di parkiran, untuk membawa para anak kecil keluar." Yeroi terpikir ide tersebut, saat mendengarkan suara minta tolong.
Yeroi berlari mengambil motor, sambil menggendong seorang anak kecil. Naga mengikuti langkah kaki Yeroi, sehingga tidak mengganggu ruang persalinan.
"Ayo Bu, sedikit lagi." ucap seorang dokter.
"Iya Dok, tunggu sebentar. Aku masih kesulitan bernafas, terasa sesak saat mengerang." jawab perempuan tersebut.
Perhatian naga telah teralihkan, namun Yeroi menghindarinya. Anak kecil dibonceng di belakang, dan naga tetap mengejar Yeroi hingga keluar area rumah sakit.
Naga menyemburkan lahar api, hingga Yeroi jatuh dari motor. Tangan anak kecil yang dibawa olehnya lecet. Yeroi merasa kepanasan karena terbakar, dan segera menceburkan diri ke dalam kolam. Anak kecil itu juga mengikuti hal yang dilakukan Yeroi.
Usai memadamkan api, Yeroi bersembunyi di dalam drum. Anak kecil itu memilih diam, tidak melakukan pergerakan. Naga sudah mendekati mereka, namun tidak tahu keberadaannya.