Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Digigit Hewan



Milraes mengambil pancing, yang ada di pinggir sungai. Dia mulai memasang umpan pada kail, lalu memasukkannya ke dalam air. Tidak butuh waktu lama, pancing mulai terasa sangat berat. Milraes mengangkat gagang pancingnya, hingga ikan besar terlihat.


"Akhirnya kita sudah mendapatkan ikan." ujar Milraes.


"Iya, aku akan memanggangnya bersama Heyra." jawab Yeroi.


"Heyra terus yang ada dalam pikiran kamu. Apa aku tidak ada dalam pikiran kamu." ucap Milraes.


"Ada, tapi cuma sedikit. Lagipula, kita hanya teman." jawab Yeroi, dengan datar.


"Yeroi, sebenarnya aku padamu tidak sesederhana itu." ujar Milraes, dengan jujur.


"Baiklah, terserah kamu. Aku tidak melarang siapa pun menyukaiku, namun aku tegaskan aku hanya bisa menyukai Heyra." jawab Yeroi.


Heyra memetik tumbuhan pakis, memilih mengacuhkan Yeroi dan Milraes. Heyra malas melihat mereka sedang bermesraan, memilih mengalihkan pandangannya.


Heyra hanya melihat dengan mata kecilnya saja, saat Yeroi muncul didekatnya. Yeroi melangkahkan kaki, lalu menggenggam telapak tangan Heyra.


"Kenapa kamu acuh, marah iya?" tanya Yeroi.


"Tidak, biasa saja." jawab Heyra.


"Jangan bohong, perempuan memang gengsi mengakui perasaannya." ujar Yeroi.


"Apaan si kamu." jawab Heyra, yang hampir terkekeh.


"Tidak apa-apa, aku akan terus menggoda, sampai kamu tertawa." Yeroi melihat ke arah Heyra.


"Tidak perlu, aku lagi tidak berminat." Heyra tersenyum lebar.


Heyra melihat Zinei dan Zujuna yang merasa gerah. Mereka mengibas telapak tangan pada leher. Yeroi mengajak mereka mandi di dalam laut, namun mendapatkan respon ragu.


"Mengapa harus di laut hijau, sudah tahu ada penunggunya." ujar Zinei.


"Biarkan saja, naga itu juga tidak akan menerkam kamu." jawab Yeroi.


"Tapi dia bisa awas melihat para mangsanya." ucap Zinei, dengan raut wajah serius.


Zujuna dan Zinei masuk ke dalam laut, lalu berenang dengan sedikit cepat. Yeroi dan Heyra juga masuk ke dalam air, bersamaan dengan Milraes yang menceburkan diri. Gurita bergantungan di dalam air, lalu Milraes sibuk bergerak untuk menghindari.


"Ini segar sekali airnya, aku jadi ingin lebih lama lagi." ujar Milraes.


"Harus ingat dengan kaum Adam, suruh kami pergi." jawab Zinei.


"Iya sudah, cepat bergegas dengan sadar diri." usir Milraes, dengan ketus.


"Dih, galak sekali!" jawabnya.


Setelah kepergian mereka, baru Milraes menggosok badan dengan sabun. Seketika ada yang menarik kulit kaki Milraes.


"Heyra, tolongin aku!" Melihat ke orang, yang sedang mandi di sebelahnya.


"Aku sedang mandi, kamu jangan menggangu." jawab Heyra.


"Ahh... Aww... ada yang menggigit kakiku." ujar Milraes.


"Minta tolong sama Yeroi saja, biasanya gitu." jawab Heyra datar.


"Aku ini sedang mandi, akan malu dilihat laki-laki." ucap Milraes.


"Hmmm... kalau berani menjadi penggoda pacar orang, artinya kamu tidak tahu malu." jelas Heyra.


Milraes masih sibuk, membuat Heyra sebal. Milraes lega, saat Heyra berinisiatif menolong. Meski pun Milraes tahu, bahwa Heyra terpaksa. Saat kakinya diangkat, ternyata ada kutu laut. Milraes merasa lega, saat Heyra mengambilnya.


"Heyra, bagaimana pun juga terima kasih." ucap Milraes.


"Iya, sama-sama." jawab Heyra, dengan biasa saja.


Pacet menggigit betis Milraes, lalu dia berteriak-teriak histeris. Milraes lompat-lompat sampai memeluk Yeroi.


"Ini iya cara membalas budi?" Heyra melihat ke arah Milraes.


"Maaf, jika kamu jadi cemburu." jawabnya, dengan malas.