Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Telur Anakonda



Setelah mandi di laut, semuanya inisiatif mencari kayu bakar. Sayur pakis perlu dimasak dengan menggunakan tungku. Kalau tidak ada api, tidak akan matang makanannya.


"Kamu mau potong bawang tidak?" tanya Milraes.


"Tidak." jawab Heyra.


"Kita berdua perempuan, tidak mungkin menyuruh laki-laki memasak." ujar Milraes.


"Aku bisa menyuruh lelaki milikku." jawab Heyra.


"Terserah!" Milraes hanya berucap satu kata, dengan intonasi yang ketus.


"Baiklah, aku akan menghidupkan api dulu." jawab Heyra.


Yeroi dan Heyra bercanda bersama, sepanjang durasi memasak masih dilakukan. Bawang goreng ditumis, dengan cara dilempar Yeroi. Heyra tertawa melihat kekonyolan Yeroi, terhadap masakan sayur pakis.


"Kalau kamu masukin ke hidung jadi pedas. Tolong bertindak teratur, jangan sesat." Heyra menampilkan senyum manis.


"Itu hanya dugaan kamu saja, aku mana mungkin konyol seperti ini." jawab Yeroi, sedikit merasa lucu.


Makanan siap disajikan, setelah beberapa menit dimasak pada perapian. Heyra tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil. Dia memilih menyingkirkan dirinya dari teman-teman. Telur ular sudah saatnya menetas, mengeluarkan kepala dari cangkang. Heyra segera memberitahu Yeroi dan teman-teman, bahwa ada telur Anakonda.


"Eh teman-teman, aku melihat telur Anakonda. Tidak jauh dari rumah pohon yang kita tinggali." ujar Heyra.


"Baiklah, kita harus bergegas pergi besok." jawabnya.


Keesokan paginya, Heyra dan Yeroi olahraga pagi bersama. Heyra melihat wajah sebal Milraes, yang diselimuti dengki tersebut.


Heyra sengaja ingin memanasi Milraes. "Lihat aku, cantik tidak."


"Iya cantik." jawab Yeroi.


"Gitu doang?" Heyra melirik ke arah Milraes.


"Paling cantik sedunia." jawab Yeroi.


"Eh, jadi tidak untuk kemasin barang?" tanya Milraes.


"Tentu saja jadi, namun pikirkan cara membunuh naga terlebih dulu." jawab Yeroi.


"Nah, ini yang membuat kita kesulitan. Di daratan dikejar-kejar dengan Anakonda, lalu di laut juga masih diganggu." ujar Zinei.


"Sudahlah, daripada mengeluh pikirkan strateginya." jawab Zujuna.


Naga berkeliling hutan, melihat suku pedalaman membakar telur. Naga mengamuk lalu menyemburkan lahar api, ke arah para manusia yang mengusiknya.


"Eh, ayo kita cepat pergi." ajak salah satu dari mereka.


"Iya, ayo sembunyi di tempat yang aman." jawab orang yang berlari di sebelahnya.


Seorang ilmuwan ingin meneliti naga, hingga memutuskan untuk pergi ke laut hijau. Dia mengajak rekannya beramai-ramai, dengan menggunakan kapal nahkoda yang besar.


"Kita harus mengambil telur naga itu, karena ada yang ingin membelinya." ujarnya.


"Iya, aku memang sudah mempersiapkan banyak alat. Takut jikalau ada yang menghalangi aksi kita."


Berbagai bentuk ukuran bambu telah disiapkan, sengaja dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Yeroi berencana akan membawanya ke laut, jika berhasil mereka akan kabur.


"Aku tidak menjamin kalau kita bisa pergi begitu saja." ujar Heyra.


"Kita bisa lolos, jika ada salah satu orang yang rela berkorban." jawab Milraes.


"Jangan aku iya, aku terlalu imut." sahut Zinei.


"Ini tidak meliputi memanggil siapa pun, untuk masuk daftar nama sukarela. Hanya kepada orang-orang pemberani saja." jawab Milraes.


"Tidak ada yang sukarela mati. Lebih baik mencoba, usaha untuk selamat." sahut Yeroi, dengan tegas mengeluarkan kalimat pamungkas.


"Aku setuju dengan yang dikatakan Yeroi. Semuanya harus berjuang masing-masing, untuk sampai ke seberang." jelas Heyra, dengan sumringah.