
Telur naga mulai menetes, lalu semua orang bertepuk tangan. Para ilmuwan bertanding untuk memenangkan lelang, dengan memasang tarif harga yang relatif tinggi.
"Enam puluh juta, aku akan memenangkan telur naga ini." ucap seorang laki-laki berkacamata.
"Tidak bisa, masih kurang tinggi. Sebelumnya aku membeli telur naga, dengan harga yang sangat tinggi." jawab laki-laki bertubuh gendut.
Heyra dan Yeroi memperhatikan dari kejauhan, meski tidak menikmati acara lelang besar-besaran. Heyra dan Yeroi mulai berbincang, meski tidak terlalu banyak obrolan yang panjang.
"Haduh, kenapa si mereka ceroboh sekali." ujar Heyra.
"Iya, mereka mengambil telur anak naga." jawab Yeroi.
"Harusnya, anak naga tidak dijadikan acara pertunjukan. Yang aku takutnya, naga raksasa memilih datang dengan cara mengamuk." ucap Heyra.
"Mau bagaimana lagi, susah untuk menghentikan banyak orang." Yeroi melihat satu hal yang tidak bisa dibereskan dengan cepat, perlu menunggu jeda untuk sementara waktu.
Penonton bertepuk-tepuk tangan dengan antusias, karena menyaksikan pertunjukan tersebut. Ada juga yang berbicara dengan suara pelan, karena mengagumi keindahan wujud anak naga.
"Ayo, kita rekam anak naga itu." ujar seorang perempuan, dengan wajah ceria.
"Ayo, aku ingin terlihat keren. Bayangkan saja, jarang-jarang ada naga dalam kehidupan nyata." jawab laki-laki tersebut.
Tiba-tiba muncul naga raksasa, mengamuk dengan gerakan cepat. Semua penonton menyelamatkan diri masing-masing, dan ada juga yang berteriak histeris.
"Hei, makhluk apa itu?" tanya seorang perempuan paruh baya pada suaminya.
"Entahlah, mungkin saja raksasa zaman purbakala." jawab laki-laki di sebelahnya.
Kedua orang tersebut ditelan oleh naga, lalu Yeroi dan Heyra menolong anak kecil yang ada didekat mereka. Heyra dan Yeroi sengaja membawanya pergi, supaya dia aman dari cengkeraman naga.
"Ya, daripada di luar bersama kita dia tidak aman." jawab Heyra.
"Harus beri dia ruang untuk bernafas, supaya dia tidak kewalahan mencari cara untuk menghirup oksigen." ucap Yeroi.
"Ya, ayo antar ke sebuah museum fashion." Heyra mengajak Yeroi, agar cepat-cepat bergerak.
"Sebelum naga mengejar kita lagi, ayo bergerak dengan cepat." ajak Yeroi.
"Bila berlari terus, aku tidak bisa menahan lagi untuk buang air kecil." Heyra berterus-terang.
Mereka singgah terlebih dulu ke toilet, untuk membuang hajat yang seharusnya. Heyra keluar setelah merasa lega, dari rasa kebelet yang tertahan.
Ketiga orang tersebut berjalan ke museum. Di sana ada sebuah peti, yang digunakan khusus untuk meletakkan baju. Anak kecil itu digendong oleh Yeroi, sampai masuk ke dalam peti.
"Baik-baik di sana ya Dik. Kami berdua pergi dulu, lalu kembali setelah masalah selesai." ujar Heyra.
"Jangan lupakan aku, yang sedang menunggu penuh harap." jawabnya.
Suara naga raksasa membuat kerusuhan di luar museum, lalu keluar dari kaca jendela yang besar. Naga raksasa melilitkan ekornya di atas genteng, sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
"Huaaa...!" Suara naga raksasa menggema, seakan ingin menelan mangsa.
"Hei, cepat kabur! Sepertinya dia sudah mengincar kita sejak tadi." ujar Heyra.
"Ya sudah, cepat duluan melompat." Yeroi melihat ke arah Heyra, dengan melirik ke arah luar ruangan museum.
Heyra dan Yeroi bersembunyi di dalam ruangan kaca, yang digunakan khusus untuk melakukan panggilan telepon genggam.