Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Naik Bukit



Heyra dan teman-temannya sudah sampai ke atas bukit. Milraes kesal melihat dirinya sendiri yang tidak diajak bicara. Zinei menatap laut luas dari atas bukit, sembari meratapi kepergian Zujuna.


"Aku sedih, karena teman kita mati." ujar Zinei.


"Kita doakan saja, semoga dia tenang." jawab Heyra.


"Terkadang rasa penyesalan mulai menyelimuti pikiran ini. Andai tidak berlibur ke sini, pasti bencana tidak akan terjadi." Zinei tertunduk lesu.


Yeroi mengusap lembut pundak Zinei. "Menyesali masa lalu itu tidak ada guna. Ibaratnya, bubur kamu paksa kembali jadi beras." Tegas, namun benar adanya.


"Aku juga sedih kok Zinei, apalagi dia orang penting. Sudah lama berteman dengannya, kemana-mana selalu bersama." Heyra mengungkapkan perasaan sedihnya.


Milraes melihat Yeroi yang mendekat ke arah Heyra, menggenggam kedua telapak tangan lalu menciumnya. Milraes menatap dengan jengah, lalu menjerit saat kalajengking menggigitnya.


"Aaa...!" Milraes berteriak.


"Kamu kenapa si?" tanya Yeroi.


"Ada kalajengking, dia menggigit kakiku." Milraes takut melihat ke arah kakinya sendiri.


Heyra segera melepaskan genggaman Yeroi, seleranya menghilang melihat sifat kemanjaan Milraes. Heyra mengarahkan ponsel ke atas udara, untuk mencari sinyal. Mereka benar-benar ingin keluar, karena liburan itu tidak asyik lagi. Sekarang hanya ada duka, setelah kematian Zujuna.


"Shht...!"


Tiba-tiba terdengar suara desis, hewan melata menghampiri mereka. Heyra dan Yeroi segera berlari, saat Anakonda muncul dadakan. Zinei mengelak saat mulut ular hendak menelannya.


"Ayo Milraes, cepat lari dari sini." Zinei menarik lengannya.


"Aku lelah Zinei, sungguh perjalanan ini tidak ada berhentinya." Milraes memegangi perutnya, yang terasa lapar.


"Sekarang kamu berlari dulu, setelah sampai bawah kita makan mie." ujar Zinei, yang merayunya.


Heyra sembunyi di balik pohon, mencoba menelepon supir nelayan yang dikenalnya. Baru saja bicara halo, sambungan telepon terputus. Sinyal menghilang, yang datang mendekat malah naga. Heyra dan Yeroi berlari, hingga salah satunya jatuh terkapar. Heyra terkena ekor naga raksasa, hingga tubuhnya terluka parah.


Yeroi memancing ular Anakonda, yang tiba-tiba muncul. Yeroi sengaja berteriak, sampai naga melihat ke arah Heyra. Dia menggigit tubuh Anakonda, karena memperebutkan mangsa.


"Heyra, ayo cepat kabur dari sini." Yeroi mengambil kesempatan, saat naga sedang bertengkar.


"Bagus juga ide kamu, bisa memancing mereka untuk berkelahi." jawab Heyra.


"Biarlah, yang terpenting kamu tidak apa-apa. Aku tidak peduli, jika mereka ingin adu kekuatan." ujar Yeroi.


"Iya Yeroi, terima kasih atas bantuan kamu." Heyra mengusap darah, yang tertumpah dari mulutnya.


Yeroi membawa Heyra menjauh dari tempat tersebut, dengan raut wajah panik. Bagaimana tidak, posisi melangkah belum jauh.


Zinei dan Milraes menghampiri mereka, lalu duduk di sebuah batu besar. Yeroi mengobati luka di punggung Heyra, sampai sang empu berteriak histeris.


"Sakit Yeroi, aku mohon pelan-pelan." ujar Heyra.


"Iya, ini juga pelan kok sayang." jawab Yeroi.


"Cepat sedikit iya, aku takut makhluk buas itu datang kembali." sahut Milraes.


"Kalau kamu mau duluan, ajak Zinei saja pergi." jawab Yeroi, dengan sedikit ketus.


Milraes memegangi perutnya, yang tiba-tiba tidak enak. Dia ingin buang air besar, namun di sisi lain juga ingin buang air kecil.


"Zinei, temani aku buang hajat yuk." pinta Milraes.


"Baiklah, aku tunggu agak jauh iya." jawabnya.