Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Rencana



Heyra, Yeroi, dan Zinei mencari tempat lain untuk singgah. Tidak ada tempat yang nyaman, akhirnya memilih tumpukan ranting untuk bersandar.


"Lebih baik tidur sini saja, aku merasa sudah lelah." Zinei menunjuk ke arah, yang menjadi pusat perhatiannya.


"Baiklah, tidak masalah." jawab Heyra.


"Oh iya, kamu waktu itu kemana Heyra? Aku baru ingat ingin menanyakannya, kamu menghilang saat ingin memberikan tumbuhan ungu pada Zujuna." ujar Zinei.


"Iya, itu karena aku ditahan dan dikurung oleh manusia suku pedalaman." jawab Heyra, dengan jujur.


Keesokan harinya, mereka pergi ke sungai. Tanpa disengaja bertemu dengan Zujuna dan Milraes. Mereka juga mengambil air, untuk menyegarkan kerongkongan yang kering.


"Bagaimana malam Hari, apa bisa tidur nyenyak?" tanya Yeroi.


"Beruntung di atas pohon tidak ada naga, ular, komodo, atau pun macan tutul." jawab Zujuna.


"Syukurlah, sekarang kita bisa kumpul bersama lagi." ujar Yeroi.


"Iya, ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak Heyra.


Setelah botol-botol diisi penuh, mereka melangkahkan kaki masing-masing. Tanpa sengaja berpapasan dengan orang-orang suku pedalaman, mereka segera berlari tunggang langgang. Nafas mereka berlima terengah-engah, melarikan diri dari orang-orang tidak jelas.


"Dari cara mereka mengangkat tombak, seperti ingin menghabisi nyawa kita." ujar Milraes.


"Memang benar begitu, Heyra juga pernah ditangkap." jawab Yeroi.


"Aku takut, kamu lindungi aku dong." pinta Milraes.


"Aku tidak bisa menggendong orang lain di depan pacarku. Sementara dia jalan mandiri, dengan susah payah." Yeroi jujur saja.


Mereka berjalan ke arah rerimbunan semak belukar, berpikir untuk membuat tempat persinggahan. Yeroi melihat Milraes, yang berjalan mendekatinya. Dia duduk di sebelah Yeroi, membuat Heyra merasa muak.


"Bagaimana kalau kita membuat rumah di atas pohon." ujar Heyra.


"Aku juga punya ide bagus, bagaimana kalau kita membuat tempat di dalam air." Milraes mengusulkan pendapatnya.


"Susah di dalam air, perlu rakit untuk membuatnya." Yeroi memikirkan dengan baik.


"Setelah dipertimbangkan, aku lebih setuju saran dari Heyra." sahut Zujuna.


"Baiklah, kalau begitu." jawab Yeroi.


Tangan mereka mulai lihai membuat rumah, dengan bambu-bambu yang ada di sekitarnya. Namun juga melilit ilalang, agar rumah mereka tidak terlihat.


"Apa kita tidak bisa kembali ke rumah?" tanya Zinei.


"Mana bisa, kendaraan untuk pulang saja tidak ada." jawab Milraes.


"Sebenarnya, kita bisa membuat rakit. Namun, harus memiliki kekuatan menyingkirkan binatang buas tersebut." ujar Zinei.


Milraes terpikir untuk menyingkirkan Heyra. "Iya, tapi untuk bisa lolos harus kompak. Kita butuh seseorang untuk memancing naga." jelasnya.


Heyra mengerti maksud Milraes, meski tidak diucapkan langsung. "Mengapa tidak kamu saja yang memancing para hewan itu." Heyra sengaja menyudutkannya.


"Gila saja, orang cantik sepertiku menjadi umpan." Mengibaskan telapak tangan ke wajahnya sendiri.


"Lalu, kamu ingin siapa yang menjadi korban?" Heyra mendelik ke arahnya.


"Aku ingin semuanya selamat, hanya saja untuk berhasil keluar dari hutan laut hijau, kita butuh sebuah upaya kerjasama." Milraes menutupi maksud hati sesungguhnya.


Heyra geleng-geleng kepala, melihat dia selalu mencari alasan. Padahal Heyra tahu, kalau Milraes ingin kematian menghampirinya.


”Sungguh licik, hanya karena menyukai Yeroi sampai berbuat segitunya padaku.” batin Heyra.


Tidak lama kemudian, rumah di atas pohon sudah selesai. Meski pun hanya dari dinding bambu, namun lumayan untuk berteduh sementara.