
SMA Meng Fiafei turut berduka cita, untuk meninggalnya teman-teman Heyra dan Yeroi. Liburan telah usai beberapa hari kemudian, karena mereka sudah dua Minggu berada di hutan laut hijau.
"Aku kecewa dengan Milraes, meski pun sudah memaafkannya. Kalau dia jujur sejak awal, tidak akan ada korban jiwa." ungkap Heyra.
"Ini salahku juga, yang tidak melarang usulan dari Zujuna." jawab Yeroi.
"Liburan berakhir malapetaka seperti ini, bukan hal yang aku inginkan." ujar Heyra.
"Sama, aku juga Heyra. Bahkan tidak tega, saat mendengar orangtua Zujuna pingsan." jawab Yeroi.
Para guru mengajak semua siswa untuk mengumpulkan sumbangan, untuk korban yang ditinggalkan. Bagaimana pun orangtua korban, adalah wali dari teman mereka.
"Ayo semuanya, cepat kumpulkan uang. Kita harus turut berbelasungkawa, atas kepergian Milraes, Zinei, dan Zujuna." ujar bapak kepala sekolah.
"Iya Pak." jawab semuanya serentak.
Heyra dan Yeroi pergi dengan menggunakan motor, lalu tidak lama kemudian sampai.
"Bu, yang sabar iya." Heyra memegang pundak orangtua Zinei.
"Iya Nak, terima kasih." jawabnya.
"Maafkan kenakalan kami semua, yang nekat pergi ke sana." Yeroi mewakili.
"Sudahlah, tidak perlu ada yang disalahkan. Jika Zinei tidak pergi, mungkin dia selamat." jawab perempuan paruh baya berkacamata tersebut.
Keesokan harinya, dilakukan bersih-bersih di sekitar pekarangan sekolah. Heyra mencabuti rumput, lalu Yeroi membersihkan dinding yang berlumut.
"Heyra, menurut kamu orang-orang yang masuk ke wilayah naga raksasa bisa selamat?" tanya Yeroi.
"Asalkan mau berusaha, pasti ada jalan." jawab Heyra.
"Tapi, kapalnya 'kan sudah kita ambil." ujar Yeroi.
"Tapi, otak mereka tidak kita curi, masih bisa berpikir mencari cara selamat." jawab Heyra, dengan datar.
Siswa dan siswi sangat antusias, dalam kegiatan gotong royong. Ada yang menyiram pot bunga, ada juga yang mengepel serta menyapu.
"Mungkin saja, hal terburuk mengganggu ular. Bisa juga dengan merusak sarangnya, atau yang lebih parah menyakiti." jawab Heyra.
"Makhluk seperti mereka harusnya dibiarkan, jangan diganggu kalau tidak mengganggu." ujar Yeroi.
"Namanya juga manusia, tidak bisa sejalan sesuai dengan keinginan kita." jawab Heyra.
Keesokan harinya, pelajaran dimulai kembali. Sudah lama aktivitas belajar mengajar dihentikan, karena liburan semester sedang berlangsung.
"Anak-anak kali ini kita akan membahas itu makhluk reptil. Buka halaman 43, yang ada tabel." ujar pak guru.
"Baik Pak." jawab semuanya.
Naga raksasa tiba-tiba muncul, mencari telurnya yang hilang. Dia mengamuk lalu mengejar orang-orang, yang telah mengambilnya.
"Cepat lari, aku sudah meminta bantuan." ujar laki-laki, bertubuh gendut.
"Iya, tubuhku ini enteng mudah saja untuk menghindar." jawab seseorang, yang berkacamata.
Naga berjalan mendekat, dilempar dengan bom. Naga menghindar karena terkena ledakan besar, membuka peluang para manusia untuk kabur.
"Kesempatan kita masuk ke dalam kapal."
"Iya, tunggulah sejenak. Mereka sedang berusaha menepikan kapal." Melihat orang-orang banyak, yang bertujuan untuk menolongnya.
Tidak lama kemudian, mereka memasukkan telur naga dalam kapal. Telurnya sangat besar, dan akan dilelangkan. Ada juga yang akan dijual secara langsung, dengan harga yang tinggi.
"Aku juga membawa telur Anakonda, bisa kita masukkan ke dalam kotak." ujar pria berbadan besar.
"Jika mereka menetas, tidak akan terbayangkan betapa buasnya." jawab laki-laki berkacamata.
"Kita akan menjadikan manusia lain sebagai pancingan." Sudah punya niat jahat duluan, pria berbadan besar ini.
"Baiklah." jawabnya.