
Heyra melihat naga yang ingin menyerang ke arahnya, dengan cepat mendapatkan tangkisan dari besi persegi. Yeroi segera membantu Heyra berdiri, lalu bersembunyi di sebuah tiang besar.
"Gawat, jika dia dapat menemukan kita, maka tidak akan bersisa meski hanya seujung kuku. Dia akan menelan kita berdua hidup-hidup!" ucap Heyra.
"Selama aku ada, pasti berusaha melindungimu!" jawab Yeroi.
"Meski dengan nyawamu?" bisik Heyra lirih.
"Oh tidak, nanti kamu mencari seseorang baru bila aku mati!" canda Yeroi.
Heyra mencubit pinggang Yeroi. "Masih sempat bercanda, padahal situasi lagi serius-seriusnya!"
"Jangan galak dong, aku jadi takut." Yeroi menoleh ke arah Heyra sambil tersenyum.
Naga raksasa menoleh ke arah tiang besar, lalu menabrakkan tubuhnya hingga tiang ambruk. Yeroi segera menarik Heyra, hingga selamat dari insiden tersebut.
"Cepat sembunyi di sana, naga raksasa sedang mengamuk!" ajak Heyra.
Yeroi mengikuti langkah kaki Heyra, yang sudah duluan berjalan ke arah selokan. Naga raksasa tidak bisa menangkap mereka, karena selokan terlalu kecil untuk menampung kepalanya yang besar.
Bruk!
Suara batu ditabrak oleh ekornya, hingga jatuh berantakan. Padahal sebelumnya begitu rapi, disusun dengan tingkatan yang sejajar.
"Cepat kita masuk ke dalam, harus menyelamatkan banyak orang!" ajak Heyra.
"Ya, setelah memastikan gedung kosong, baru kita mulai bisa meledakkan rumah sakit ini!" jawab Yeroi.
Heyra dan Yeroi memanjat gerbang, lalu memeriksa ruangan demi ruangan. Seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya, tampak kebingungan di bawah tangga.
"Aku mendengar suara yang tidak biasa, seakan gedung ini akan roboh saja!" jawabnya, dengan raut wajah cemas.
"Itu bukan suara gedung dirobohkan, melainkan naga raksasa tidak tahu diri." ujar Heyra.
"Anakku masih bayi, baru saja selesai menjalankan operasi tumor perut. Aku takut dia akan menangis, ketika suara itu berlangsung dengan waktu yang lama." Perempuan itu memberitahu, apa yang sedang dipikirkannya.
"Ibu harus menenangkan diri, kami akan segera mengatasinya. Tolong pergi pelan-pelan, usahakan keluar dari gedung tanpa mengeluarkan suara. Jalan mengendap-endap, untuk mengantisipasi tubuh kita tidak terlihat." Heyra bicara panjang dan lebar.
"Baiklah, aku akan menuruti ucapanmu wahai anak muda!" jawabnya.
Heyra dan Yeroi menelusuri koridor, mencari ruang peralatan operasi. Setelah mendapat beberapa alat tajam, mereka pergi ke gudang. Di sana terdapat gunting besar, untuk memangkas tumbuhan.
"Nah, ini lumayan untuk menghancurkannya!" ujar Yeroi.
"Dia mungkin tidak akan hancur, namun remuk juga sudah jadi. Kita harus membuat jebakan yang sangat banyak!" jawab Heyra.
Heyra dan Yeroi memancing naga, untuk mengejar mereka ke sarang jebakan. Naga mengikuti arah yang Yeroi pancing, sehingga naga tertindih lingkaran gunting tajam. Sekujur tubuhnya terluka, namun masih lanjut mengejar Yeroi.
"Aku harus lompat ke jendela itu!" Yeroi segera melompat ke jendela.
Naga raksasa memaksa memasukkan kepalanya, hingga tersangkut di lubang jendela. Dia tidak dapat keluar dari sana, setelah memaksa masuk dengan melampaui batas kemampuan.
"Ini kesempatan untukku!" Heyra membawa mesin pemotong kayu, untuk mengiris daging naga raksasa.
Kulitnya yang tebal membuat sia-sia, karena naga raksasa berhasil meruntuhkan tembok disekitar jendela. Heyra mengelak terkena runtuhannya, dan berlari sekencang mungkin.
Naga raksasa tidak menyerah untuk mengejarnya, meski perut sudah berlumuran darah. Heyra menapaki anak tangga dengan cepat, lalu sembunyi dalam lemari pendingin.