
Baru saja Yeroi mau melangkah, tiba-tiba dikejutkan oleh beberapa orang. Sepertinya orang-orang itu merupakan suku pedalaman, bisa dilihat dari caranya berpakaian.
"Hohah... hohah..." Mereka menggerakkan tongkat besinya.
"Hmmm... siapa itu sayang." jawab Heyra.
"Aku tidak tahu sayang, sepertinya warga yang tinggal di sini." ucap Yeroi.
"Namun, mereka sangat mengerikan." Heyra mengangkat kedua pundaknya ke atas.
"Huh... Hah... Huh... Hah..." Mereka sibuk bersorak ke atas.
"Bagaimana ini Heyra, nanti Zujuna tidak dapat tertolong." ujar Yeroi.
"Tidak tahu, tampaknya suku pedalaman ini akan menangkap kita." jawab Heyra, dengan berbisik.
Benar saja yang dikatakan oleh Heyra, dirinya kini malah ditarik paksa. Sedangkan Yeroi dikelilingi oleh mereka, lalu diikat paksa.
"Yeroi!" Heyra berteriak.
"Heyra!" Yeroi juga tidak kalah histeris, melihat sang kekasih diseret.
Mereka berdua terpisah, dan dibawa ke tempat masing-masing. Heyra dikurung di dalam kandang bambu, sedangkan Yeroi kekasihnya diikat dekat perapian.
”Kalau lihat dari tempat itu, kok mirip dengan yang ada di televisi. Jangan-jangan, Yeroi bakalan dibakar hidup-hidup. Hih seram ah, aku harus kabur. Semoga saja, aku bisa menyelamatkannya.” batin Heyra.
Alih-alih ingin kabur, malah kesulitan menghancurkan kandang. Heyra merasa sesak terkurung di sana, tidak bebas dalam melakukan pergerakan. Akhirnya dia beralasan, ingin buang air kecil saja.
Setelah susah payah bicara dengan menggunakan bahasa isyarat, akhirnya dia berhasil membuat mereka mengerti. Kini Heyra dikeluarkan dari kandang, dan menuju bilik kecil di belakang rumah.
Sampai ke dalam toilet, dia keluar diam-diam. Kini dirinya bersembunyi di balik pohon. Heyra berjalan mengendap-endap, untuk membebaskan Yeroi yang terikat. Namun sebelum itu, dia mengalihkan perhatian para penjaga terlebih dulu.
Bruk! Brak!
Bruk! Brak!
Heyra melemparkan batu lagi, untuk mengalihkan perhatian satu orang tersebut. Hingga pria itu terkecoh, dan memilih berjalan ke arah pepohonan rindang. Heyra segera melepaskan tali, yang melilit pada tubuh Yeroi.
"Ayo cepat kabur!" ajak Heyra.
"Iya, tunggu sebentar. Talinya masih menyangkut di kaki." Yeroi sudah berusaha melepaskannya, namun sangat sulit sekali.
Heyra mengambil pisau kecil di dalam tas, lalu mengiris tali pada kaki Yeroi. Mereka segera berlari tunggang langgang, karena ada salah satu dari penjaga yang memergoki.
"Ayo Yeroi lebih cepat lagi, mereka membawa senjata tombak." ajak Heyra.
"Iya, iya, kakiku rasanya remuk. Tidak bisakah kau sedikit bersabar." jawab Yeroi.
"Bukan tidak dapat bersabar, namun suku pedalaman itu mempunyai senjata. Apa kau tidak takut, terkena tombaknya yang tajam." ucap Heyra tegas.
Yeroi bergidik ngeri. "Sudah jangan menakuti, terasa pilu mendengarnya."
Heyra dan Yeroi pelan-pelan, ketika berjalan ke daerah kekuasaan. Hewan bersisik satu ini sangat buas, bisa menelan mangsanya dalam sekali membuka mulut.
"Apa Zujuna masih dapat diselamatkan?" bisik Yeroi.
"Semoga saja bisa, meski sedikit terlambat. Tadi 'kan kita mengalami kendala, dibawa oleh orang pedalaman itu." jawab Heyra.
"Kalau gitu, sekarang kita harus memetik bunganya." ajak Yeroi.
"Nanti dulu, makhluk buas itu masih ada." Heyra mengintip dari balik batu-batuan.
Yeroi jadi tidak sabar lagi, bila seperti itu terus pikirnya. Namun, tidak mungkin juga menerobos saja.