
Heyra dan teman-temannya sudah keluar dari persembunyian. Yeroi khawatir saat melihat Heyra, yang tampak kesakitan. Duri-duri yang menabrak kakinya tadi, masih terasa nyut-nyutan.
"Aduh, sakit sekali." Heyra memeganginya.
"Duduk sebentar, biar diobati dulu." jawab Yeroi.
"Di sana, ada tempat yang pas untuk duduk." Heyra menunjuk sebuah tanah, yang lebih tinggi dari lainnya.
"Baiklah." jawab Yeroi.
Yeroi menarik kaki Heyra, hingga jatuh ke pangkuannya. Yeroi mengobati kaki Heyra, dengan perlahan-lahan. Heyra meringis saat menutupi celana yang ditarik ke atas. Yeroi melangkahkan kakinya, bersama dengan Heyra. Yeroi dan Heyra keluar dari rawa-rawa, secara bersamaan terdengar teriakan Zinei.
"Aaa... tolong!" Zinei berteriak histeris, saat pundaknya ada yang menarik.
Heyra menoleh ke belakang. "Zinei, kamu bertahan iya." Terburu-buru untuk menolong, namun dicegah oleh tangan Yeroi.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang membantunya." ucap Yeroi.
"Aku tidak mau, kita bersama saja." jawab Heyra.
"Kamu menurut saja padaku, aku bisa melakukannya." Yeroi memegang kedua pundak Heyra.
"Baiklah, kamu hati-hati." Heyra akhirnya menuruti perintahnya.
Zinei terbanting ke batang pohon berkali-kali, lalu sang ular Anakonda hendak menelannya. Tapi kedatangan Yeroi telah mengganggu, menembakkan pistol listrik berulang kali.
"Zinei, cepat kamu kabur ke arah Heyra." titah Yeroi.
"Bagaimana dengan kamu?" Zinei berjalan tertatih-tatih.
"Aku akan menyusul, setelah berhasil melumpuhkannya." jawab Yeroi.
Zinei mengajak Heyra berlari duluan, sampai Yeroi berhasil melumpuhkan binatang buas tersebut. Ular mengejarnya, lalu Yeroi bersembunyi di balik tanah gundukan.
"Ssst!" Ular Anakonda sibuk menjulurkan lidahnya, mencari keberadaan Yeroi.
Zujuna menyalakan senter, melihat ruang bawah tanah yang gelap. Milraes seperti mendengar suara, ramai orang yang bersorak-sorai.
"Iya, seperti suara bising kelompok manusia." jawab Zujuna.
"Kalau gitu, apa yang harus kita lakukan?" Milraes berkompromi terlebih dulu.
"Sembunyi saja, takutnya mereka orang jahat." Zujuna mengusulkan idenya.
"Kalau ada banyak orang, kesempatan dong meminta bantuan." ujar Milraes.
"Kita tidak tahu, siapa manusia di balik pembelokan lorong. Cepat sembunyi saja, daripada kita dibunuh." Zujuna menarik lengan Milraes, lalu bersembunyi pada tumpukan keranjang bekas.
Heyra menunggu Yeroi keluar dari air rawa dengan sangat lama. Sungguh menjadi khawatir, takut terjadi sesuatu padanya.
"Apa kita coba periksa Yeroi iya." ujar Heyra.
"Tidak perlu, cukup di sini saja." jawab Zinei.
"Kok kamu malah santai seperti ini, padahal dia tadi mati-matian ingin menyelamatkan kamu." ucap Heyra.
"Dia memberikan amanat agar aku menjagamu. Iya mau bagaimana lagi, aku harus lakukan yang dia mau. Itu adalah bukti, menghargai jasa berharga." Zinei menjawab dengan tulus.
Tidak butuh waktu lama, Yeroi sudah muncul. Namun dalam keadaan tidak baik-baik saja, keluar darah dari mulutnya. Heyra dengan cepat memapah tubuhnya, bersamaan dengan bantuan dari Zinei.
"Kita harus bersembunyi di mana?" tanya Heyra.
"Kita sembunyi di dalam goa saja. Aku melihat ada sebuah bukit, yang tidak jauh dari laut." jelas Yeroi.
"Iya sudah, sekarang juga kita ke sana." ujar Heyra.
"Baiklah, ayo ikuti aku." jawab Yeroi.
"Menurutku ular itu sangat tidak berperasaan, dia melukai pundak ini." Zinei berjalan dengan sedikit lemas.
"Ikat terlebih dulu lukamu, supaya darahnya tidak terus mengalir." Heyra khawatir.
Beruntung ular Anakonda tidak berbisa, hanya saja cengkeramannya sangat menyakitkan. Tetap harus segera diobati, jika masih ingin hidup.