Legend Of The Green Sea

Legend Of The Green Sea
Pelampung



Kapal bergerak kemana-mana, karena dorongan kepala naga raksasa. Heyra mendukung Yeroi, agar lebih cepat.


"Ayo cepat, sebelum kapalnya terguling." ujar Heyra.


"Iya, aku akan lebih cepat lagi." jawab Yeroi.


Milraes berteriak, saat tubuh naga raksasa mengenai badan kapal. "Aaa!"


Zinei berpegangan pada tiang kapal, lalu terkena ekor naga. Zinei terlempar ke tengah laut, lalu Milraes mencoba untuk menolongnya. Heyra dan Yeroi mengarahkan pistol ke arah naga, namun mendapatkan serangan bertubi-tubi.


Dor!


Dor!


Masih melakukan serangan, sampai akhirnya kapal digulingkan. Heyra dan Yeroi terlempar lewat jendela kapal. Mengapung di atas air, lalu berenang secepatnya. Sebisa mungkin mengerahkan tenaga, untuk meraih tempat tujuan. Zinei dan Milraes sudah sampai ke pinggir laut, dengan menggunakan pelampung.


"Beruntung kita bisa selamat, dari terkaman hewan itu." ujar Milraes.


"Ini semua karena bantuan Heyra dan Yeroi. Mereka mau melemparkan pelampung dari atas kapal." jawab Zinei.


Di dataran rendah, serangan anak panah terus memburu. Para peneliti naga raksasa tidak mau kalah, mereka melakukan serangan terhadap suku pedalaman.


"Cepat, kita cari telur Anakonda di hutan ini. Jangan lupa juga, harus mengambil kesempatan untuk melumpuhkan naga." Memberi peringatan pada teman sesamanya.


"Tentu saja, aku ingin membunuh naga raksasa tersebut." jawabnya.


"Telur Anakonda itu tidak perlu dipecahkan. Kita akan menjualnya dengan harga yang tinggi, banyak media yang bisa dijadikan promosi." ujarnya.


"Iya, urusan telur aku serahkan pada kamu. Namun, masalah naga raksasa juga tidak tahu." jawabnya.


Setelah perbincangan tersebut, mereka melanjutkan aksi yang ingin dilakukan. Sudah menggeledah semak belukar, memeriksa telur di balik semak.


"Wow... kita bisa cepat kaya raya." Menatap lawan bicara dengan gembira.


Heyra dan Yeroi melangkahkan kaki, berjalan ke arah kebun pisang. Tidak tahu lokasi milik siapa, yang jelas ingin menumpang istirahat.


"Kita ambil pisang ini saja yuk, aku sudah tidak punya bekal." ajak Milraes.


"Iya boleh, boleh. Cepat kita masukan kantong kresek" jawab Zinei.


"Nanti kita malah menambah masalah baru." Heyra tampak mempertimbangkan hal tersebut.


"Tidak apa-apa, lagipula kita sedang kepepet." Yeroi ingin meyakinkan Heyra, apa yang akan dilakukannya.


Yeroi menebang batang pisang, lalu mengambil setandan buah segar untuk Heyra. Zinei menyusun batang pisang, untuk diikat satu dengan yang lain.


"Untuk apa kamu menyatukan dua batang ini?" tanya Milraes.


"Ini untuk berlayar, agar tidak menghambat perjalanan." jawab Zinei seadanya.


"Maksudnya, kamu mau buat rakit dari batang pisang?" Milraes memastikan apa yang terlintas di pikiran.


"Iya, tepat sekali dugaan kamu." Zinei membenarkan hal tersebut.


Yeroi membantu mengikat batang pisang, supaya bersatu dengan yang lain. Dibawa ke tengah laut, dengan cara didorong. Belum mencapai ke tempat tujuan, sudah didatangi kelompok suku pedalaman.


"Heyra awas!" Yeroi menarik tubuh Heyra, agar dia terlindungi.


Heyra memeluk Yeroi, refleks terkejut dengan tombak yang melayang. "Terima kasih, karena kamu telah menyelamatkan aku."


Mereka berempat sembunyi di balik pohon besar, lalu memulai serangan peluru. Pistol sengaja ditembakkan ke segala penjuru, dan orang suku pedalaman mendorong busur panah dengan teliti.


"Awww!" Tangan Zinei sempat terluka, sampai pistol di tangannya terjatuh.


Milraes mengambilnya, giliran ingin menembak balik.