KAIRA

KAIRA
34. Chaiden



Setelah memberi makan Chaiden, Samuel pun berpamitan untuk pulang dan berganti baju terlebih dahulu.


"Gue pulang dulu, nanti gue kesini lagi" Ucap Samuel


"Hem. iya" Chaiden pun berbaring diatas ranjang dan bersiap untuk tidur.


Selepas kepergian Samuel, tak lama setelah itu Papa Chaiden datang dang langsung masuk ke dalam.


"Bagaimana keadaanmu Chai?" Tanya Sebastian


Chaiden tak berniat menjawab perkataan Papanya dan memilih membelakangi Sebastian.


"Chaiden, dengarkan perkataan Papa dulu Chai"


"Kenapa anda kesini, Tolong keluarlah" Ucap Chaiden


Sebastian mendekat kearah Chaiden dan memegang pundak Chaiden. Chaiden dengan cepat menghempaskan tangan papanya.


"Pergilah dari sini" Teriak Chaiden dan langsung terduduk


"Papa bisa jelaskan semuanya Chaiden, dengarkan papa dulu"


"Sudah cukup, aku sudah tau lama jika kau mengkhianati mama tapi aku tak mau membahasnya, tapi kesabaran ku sudah habis sekarang jadi keluarlah. Keluar dari sini, keluar" Teriak Chaiden


Chaiden mulai tidak bisa mengontrol dirinya dan sekuat tenaga mendorong Sebastian agar pergi dari hadapannya.


"Pergilah brengsek, pergi dari sini, aku tak mau melihat wajahmu lagi" Teriak Chaiden yang mulai kehilangan kendali akan dirinya.


Saat itu Samuel kembali lagi keruangan Chaiden karena tasnya ketinggalan disana. Saat Samuel kembali, Samuel sangat terkejut melihat Chaiden yang mulai mengamuk. Dengan cepat Samuel langsung memanggil dokter dan datang keruangan Chaiden.


Dokter itu meminta Samuel untuk membantu memegangi Chaiden yang mengamuk seperti itu dan menyuntikkan obat penenang kepada Chaiden.


"Pergilah dan jangan datang kesini lagi" Ucap Chaiden sebelum kehilangan kesadarannya.


Papa Chaiden terlihat sangat Khawatir melihat Chaiden yang seperti itu. Samuel mendekat kearah papa Chaiden dan menyuruh papa Chaiden untuk pulang terlebih dahulu.


"Om, lebih baik om pulang terlebih dahulu nanti jika Chaiden sadar akan aku kabari" Ucap Samuel.


"Baiklah el, kau tolong jaga Chaiden ya"


Samuel menjadi tak tega meninggalkan Chaiden yang keadaanya seperti ini. Samuel memang dekat dengan keluarga Chaiden tapi Samuel tak sempat datang saat Mama Chaiden meninggal beberapa minggu lalu karena Samuel tak tau rumah Chaiden yang ada di luar kota.


Akhirnya Samuel mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih pergi untuk mencari makan saja. Samuel menyuruh Bobi temannya untuk membawakan baju ganti miliknya ke rumah sakit.


Setelah sudah mengisi perutnya Samuel pun kembali ke ruangan rawat Chaiden. Baru saja Samuel masuk, dia sudah menemuka Chaiden yang duduk melamun di atas tempat tidur.


Samuel berjalan kearah Chaiden dan duduk disebelah Chaiden.


"Lo nggak mau jalan-jalan keluar gitu, nggak capek lo ada disini terus" Kata Samuel


"Emang lo mau nganterin gue?" Tanya Chaiden


"Tapi kaki lo beneran udah nggak apa-apa tuh?"


"Enggak kok. Udah mendingan"


Dengan terpaksa Samuel akhirnya menggendong Chaiden di punggungnya untuk mencari udara segar.


"Lo ini terlihat kurus, tapi ternyata berat banget. Kebanyakan dosa lo" Ucap Samuel sambil tertatih-tatih menggendong Chaiden


"Kalau lo nggak mau nganterin ya udah kali kembali lagi aja keruangan gue. Banyak omong"


"Nanggung bodoh, ini udah mau sampek"


Chaiden hanya tertawa melihat Samuel yang tersiksa karena menggendong dirinya.


Mereka pun akhirnya sampai di taman. Begitu sampai Samuel langsung mendudukkan Chaiden di kursi taman dan meregangkan otot-ototnya.


"Sumpah lo berat banget Chai" Ucap Samuel.


"Dah lah, lo ngerusak suasana nih, gue masih mau ngelamun" Ujar Chaiden


"Dasar gila"


Mereka saling diam cukup lama dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Samuel buka suara.


"Lo nggak mau ngunjungin Han nanti?" Tanya Samuel


"Kalau gue udah boleh pulang gue bakalan langsung kesana. Yang pasti sama lo" Ucap Chaiden


"Han kalau lihat kita kayak gini pasti bakalan marah" Ucap Chaiden tiba-tiba


"Pastinya, Kita nggak pernah berubah, tetep sering ribut kayak anak kecil"


Mereka kembali bercerita tentang kejadian yang mereka alami sebelum kepergian Han. Entah kenapa mereka seakan masih belum ikhlas jika Han meninggalkan mereka dahulu seperti ini.


Next.....