
Setalah pulang pulang sekolah Chaiden langsung pulang rumahnya dan tak berniat untuk pergi ke manapun. Begitu sampai Chaiden langsung membersihkan tubuhnya setelah itu pergi untuk menonton televisi. Baru saja Chaiden duduk di sofa tapi ponselnya yang ada tertinggal di meja makan berbunyi.
"Kenapa baru berbunyi sekarang" Ucap Chaiden sambil berjalan mengambil ponselnya.
Chaiden melihat yang menghubunginya adalah papanya. Dengan wajah riang Chaiden mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa Pa?" Tanya Chaiden saat panggilan sudah terhubung.
"Aiden pulanglah, mama kamu sedang kritis dirumah sakit" Ucap papa Chaiden.
Chaiden yang terkejut langsung berdiri dari duduknya.
"Apa maksud papa" Kata Chaiden
"Cepat pulanglah boy, Papa tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan"
Dengan Cepat Chaiden langsung mengakhiri panggilan tersebut dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan segera pergi untuk menghampiri mamanya yang sedang ada dirumah sakit.
Selama perjalanan Chaiden terus saja kepikiran tentang kondisi mamanya tapi Chaiden harus berfikiran positif dan berharap mamanya baik-baik saja.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 Jam menggunakan taksi, Chaiden akhirnya sampai di rumah sakit tempat mamanya dirawat. Chaiden langsung menuju kesana karena Papanya sudah memberitahukan tempatnya dan kamar rawat mamanya.
Begitu sampai Chaiden langsung berlari menuju keruang rawat mamanya.
"Papa...." Panggil Chaiden saat melihat papanya sedang duduk diruang tunggu
"Chaiden" Papa Chaiden langsung memeluk Chaiden sambil berusaha menenangkan Chaiden.
"Mama gimana pa?" Tanya Chaiden
"Mama masih kritis boy, sedang ditangani oleh dokter" Jelas papa Chaiden.
Chaiden yang melihat papanya begitu sedih berusaha menguatkan papanya walaupun dirinya sendiri juga sangat sedih.
"Kangker otak stadium akhir" Jawab papa Chaiden dengan pelan
"Kenapa kalian tak memberi tahuku"
"Mama tak mengizinkan papa untuk memberitahumu. Mama tak mau jika kau sedih dan kau tak bisa fokus ke sekolahmu"
Chaiden langsung berdiri dan berjongkok di samping pintu ruang rawat mamanya. Chaiden tak bisa menahan air matanya lagi. Seseorang yang sudah melahirkan dan merawatnya dari dia kecil sekarang sedang berbaring karena penyakit parah yang sedang dia derita.
Saat Chaiden sedang mencoba mengatur nafasnya dan melapangkan dadanya, mungkin saja Mamanya memiliki maksud lain untuk menyembunyikan penyakitnya dari Chaiden dan Chaiden harus mencoba untuk mengerti mulai sekarang.
Baru saja Chaiden akan berjalan menghampiri papanya, dokter keluar dari ruang rawat mama Chaiden. Papa dan Chaiden segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi mamanya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya papa Chaiden
"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi tuhan berkehendak lain, beliau sudah tidak ada. Kami dari pihak rumah sakit turut berduka" Jelas dokter tersebut
Papa dan Chaiden seketika langsung terdiam, mereka tak tau lagi harus apa sekarang.
"Dokter bercanda kan Pa" Ucap Chaiden tapi Papanya hanya diam saja
"Baik saya permisi terlebih dahulu" Dokter itu pun pergi diikuti beberapa suster dibelakangnya.
"Papa dokter itu bercanda kan" Ujar Chaiden sambil menggoyangkan tubuh papanya. Papa Chaiden tidak bisa menjawab pertanyaan Chaiden dan hanya diam saja sambil meneteskan air mata.
"Jawab aku brengsek" Teriak Chaiden tepat didepan wajah papanya.
Karena papanya hanya diam saja dari tadi Chaiden langsung masuk kedalam untuk melihat mamanya. Dari jauh Chaiden melihat mamanya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya mulai dari ujung kepala hingga kaki.
Chaiden berjalan kearah mamanya dan membuka selimut yang menutupi wajah mamanya. Terlihat wajah mamanya yang begitu pucat. Chaiden tak mengira sama sekali kalau mamanya sedang sakit parah karena mamanya selalu saja ceria didepannya seperti menunjukkan jika di baik-baik saja.