KAIRA

KAIRA
29. Terbawa emosi



Satu minggu sudah berlalu semenjak kematian mama Chaiden dan Chaiden masih memutuskan untuk tinggal dirumahnya dan masih tak berniat untuk kembali ke apartemennya di kota.


Di pinggir laut terlihat Chaiden sedang termenung dan duduk di pasir sambil melihat matahari terbenam. Setiap hari Chaiden akan pergi keluar rumah dan kembali setelah malam kemudian langsung tertidur. Chaiden masih terpukul atas meninggalnya mamanya cinta pertama Chaiden. Jika tau mamanya sakit Chaiden tak mungkin akan meninggalkan mamanya sendiri. Semua hanya ada kata andai dan andai.


Chaiden berjalan menuju jalan raya untuk memberhentikan sebuah taksi. Sejak kejadian itu Chaiden seperti tak memiliki semangat untuk melakukan apapun, bahkan makannya pun tidak teratur. Papa Chaiden mulai sibuk kembali dengan pekerjaannya di kantor dan kembali saat malam hari.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya Chaiden sampai dirumahnya. Setelah membayar Chaiden langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Chaiden berjalan untuk masuk kedalam rumah. Baru saja Chaiden membuka pintu dia melihat papanya sedang berpelukan dengan wanita.


"Apa yang kalian lakukan" Teriak Chaiden


"Chaiden, ini tidak seperti yang kamu lihat" Jelas papa Chaiden sambil berjalan kearah Chaiden.


Chaiden yang marah langsung menutup pintu dengan keras dan pergi dari sana. Chaiden mengambil sepeda motornya yang ada di garasi dan langsung mengendarainya untuk kembali ke apartemen.


"Sebastian sialan, bajingan kau" Teriak Chaiden sambil mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Belum juga Chaiden merasa tenang akibat kematian mamanya, Sekarang papanya membuat masalah baru.


Chaiden kembali ke apartemen di kota dengan mengendarai sepeda motor tanpa istirahat sama sekali. Perjalanan yang bisanya memakan waktu 3 jam, sekarang Chaiden hanya membutuhkan waktu 1 setengah jam.


Karena Chaiden belok dengan kecepatan tinggi di parkiran apartemennya mengakibatkan Chaiden terjatuh.


Bbrrruuuaakkkk........


Chaiden terjatuh dan kakinya tertimpa motor beratnya itu. Dengan susah payah Chaiden mengeluarkan kakinya yang tertimpa motor sampai akhirnya dia berhasil. Chaiden masuk kedalam apartemen dan meninggalkan motonya begitu saja.


Saat sudah sampai di dalam Chaiden langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Chaiden berendam di bathtub untuk menjernihkan pikirannya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Chaiden sangat menderita sekarang.


"Kenapa papa tega sekali. Belum lama ini mama meninggal tapi papa sudah membawa perempuan lain ke rumah, dasar brengsek, sialan, Sebastian sialan" Ucap Chaiden dengan air mata yang membasahi pipinya.





Kaira saat itu juga baru sampai dan suasana kelas sudah mulai ramai. Kaira duduk di bangkunya dan melihat Chaiden yang sudah masuk sekolah kembali.


"Hay Chaiden turut berduka cita ya atas kepergian mamamu" Ucap Kaira


"Hemm...." Chaiden menjawab dengan daheman saja dan tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel didepannya


"Chaiden bagaimana jika sepulang sekolah nanti kita pergi membeli es krim" Kaira terus saja berbicara untuk menghibur Chaiden tapi itu tak membuat Chaiden merasa terhibur, Chaiden justru malah merasa risih akibat suara Kaira.



Brraaakkkkk......


"Bisakah kau diam, kau berisik sekali. Pergilah keluar jika kau berisik tak perlu bicara padaku" Teriak Chaiden sambil berdiri dan menggebrak meja.



Chaiden langsung keluar meninggalkan kelas menuju ke toilet. Kaira hanya terkejut mendengar bentakan dari Chaiden, semua murid melihat kearah mereka. Lexa dan Fanya mendekat kearah Kaira dan menenangkan Kaira yang terlihat Syok.



Entah kenapa Chaiden merasa sangat marah jika ada orang yang membicarakan tentang mamanya. Chaiden masih sangat tak bisa menerima semua ini.



Next....