Just Belive

Just Belive
capture 4



Setelah puas menggambil gambar di namsan tower, chinsun memutuskan untuk ke sungai han. Saat dalam perjalanan nya ia melihat penjual tteokbokki lama rasanya ia tidak menikmati kue beras dengan saus pedas manis itu, ia pun memutuskan untuk mampir dan menikmati makanan yang ia rindukan


"Ajhumma tolong buatkan aku 1 porsi" pinta nya pada wanita parubaya yang berdiri dibelakang meja saji itu


"Nde, silahkan duduk dulu nona" jawabnya dengan senyuman tulus terukir di wajah nya.


"eoh dengan odeng juga ya Ajhumma"


"Nde..." jawabannya


Wanita parubaya yang sedang membuatkan pesanan nya pun kini menjadi objek menarik bagi chinsun untuk di abadikan dengan kameranya. Dengan cepat ia mengambil kameranya dan memotret wanita parubaya tadi.


Ia nampak puas dengan hasil bidikannya sebuah senyuman terulas pada bibir tipisnya. kegiatan itu harus terhenti karena getaran dari ponselnya


"Yeobseyo"


"Chinsun-ah..."


"Ya eonni, ada apa?"


Terdengar helaan nafas di ujung sana, ya sooyoung hanya bisa menghela nafasnya ketika jawaban dingin lagi-lagi keluar dari bibir chinsun


"Tidak ada, eonni hanya ingin menelpon mu saja, apa yang sedang kau lakukan sekarang?


"Aku sedang menunggu teokbokki"


"Eoh, kau sedang makan teokbokki? Dimana kau sekarang chinsun?"


"Aku sedang di sekitar jalan menuju sungai han"


"Jinjja, andai saja aku tidak pergi ke busan sekarang, pasti aku akan menemani mu Chinsun-ah. Mian chinsun eonni tidak bisa selalu ada untuk mu, mian eonni tidak bisa menemani mu, mian eonni..."


Belum sempat sooyoung menyelesaikan ucapannya chinsun sudah memotong nya


"Eonni, pesanan ku sudah datang aku akan mematikan panggilan ini"


"Ah baiklah, teman eonni juga sudah datang. Selamat menikmati teokbokki mu chinsun. Eonni menyayangimu selalu chinsun"


"Em"


Panggilan pun terputus.


Sooyoung mengela nafas nya, ia tidak tau harus bagaimana lagi meluluhkan chinsun agar ia bisa kembali lagi seperti dulu.


"Apa dia masih dingin padamu?"


"Em, seperi yang kau tau aeri-ah"


Sebelum berangkat ke busan sooyoung menyempatkan diri untuk bertemu sahabat nya park aeri yang tak lain adalah kakak dari park chunghee


"Hah, bersabarlah sebentar lagi sooyoung-ah. Kau ingat kan bagaimana dulu perjuangan ku dan appa untuk mengembalikan chunghee,,"


Sooyoung mengangguk lesu


"Aku yakin chinsun pasti akan kembali seperti dulu lagi dia gadis yang baik, mungkin dia hanya butuh waktu untuk memaafkan dirinya...bersabarlah sebentar lagi sooyoung-ah hwaiting" jawabnya sambil mengelus tangan sang sahabat


Sooyoung kembali mengulas senyumnya. Ia merasa bersyukur karena disaat dia hampir menyerah menghadapi chinsun. aeri selalu ada untuk mendukung nya.


.


.


.


Setelah selesai dengan teokbokki nya chinsun melanjutkan perjalanan untuk ke sungai han.


Sesampainya disana ia duduk sambil sesekali memotret beberapa objek.


Ia menitikan airmata nya setiap mengingat kejadian itu


"Eomma,appa...boghosipho eomma,appa...joesonghamnida"


Flashback


"Eomma, appa palli..." teriak seorang gadis sambil menarik tangan eomma nya


"Iya sayang sebentar jangan berlari seperti ini, bagaimana kalau nanti ada kendaraan lewat hem?" Kata sang ibu lembut


Gadis itu memanyunkan bibirnya


"Eomma aku selalu menunggu saat ini, aku ingin pergi bersama eomma dan appa ke myongdong ini sudah lama. Tapi baru bisa terwujud sekarang karena eomma dan appa terlalu sibuk"


"Mian sayang eomma dan appa baru bisa menemani mu sekarang.." ucap sang eomma dengan tatapan bersalahnya


"Gwaechana...aku tidak apa eomma yang terpenting sekarang aku bisa bersama eomma dan appa, tapi sayang sekali eonni tidak ikut bersama kita" sesal gadis itu


Besok kalau eonni pulang kita pergi kesini lagi oke"


"Yakso?"


"Yakso"


"Oke, kajja kita kesana sekarang eomma..palli" rengek chinsun sambil menarik lengan eomma nya"


"Sebentar saya kita tunggu appa dulu"


"Nanti appa akan menyusul eomma, palli aku sudah tidak sabar eomma"


"Tunggu sayang bagaimana kalau ada..."


Bruk


Belum sempat ibu chinsun menyelesaikan kalimatnya tubuh mereka sudah terpental jauh. Jeritan orang yang berada disana saling bersahutan menyaksikan bagaimana tubuh itu terpental dengan cukup mengerikan.


Tapi satu hal yang chinsun bingung kenapa tubuhnya tidak merasakan sakit. Dengan mengumpulkan keberanian dia membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat eomma dan appa nya memeluk tubuhnya ia membolakan matanya menyaksikan darah mengalir begitu banyaknya dari kedua orang yang begitu ia sayangi, ia mencoba duduk dan mengoyangkan tubuh appa nya yang terlihat begitu banyak mengeluarkan darah tapi tubuh appa nya tidak bergerak sama sekali ia lalu menghampiri eomma nya


"Eomma,," ia jadikan pahanya untuk bantalan sang ibu. Ia genggam erat tangan sang ibu


"Gwaechana chinsun uljima, eomma tidak ingin melihat putri kesayangan eomma menangis"


Bukannya mereda tangisan chinsun semakin terisak


"Eomma joesonghamnida kalau aku menuruti kata-kata eomma pasti ini tidak akan seperti ini"


"Aniyo, ini bukan salah mu sayang kami melakukan ini karna tidak ingin melihat mu terluka"


Ia ulurkan tangan nya untuk mengusap lembut pipi gembil putri kesayangannya


"Mian sayang eomma dan appa tidak pernah ada untuk mu dan eonni, kami tidak pernah menemani kalian mian karena kami terlalu sibuk sayang."


Chinsun menggeleng kuat, ia tangkup tangan ibu nya yang masih menempel pada pipi nya


"Chinsun, eomma harap kau dan eonni akan selalu bahagia bersama, jangan pernah kau menyalahkan dirimu sendiri sayang, percaya pada eomma ini bukan salah mu sayang satu yang selalu kalian ingat eomma appa sangat menyayangi kalian. Walau kami tidak berada disisi kalian tapi kami akan selalu ada bersama kalian saranghe"


Tangan ibu chinsun mulai terlepas dari gengaman tangan chinsun, tangan nya terkulai lemas bersamaan dengan hembusan nafas terakhir nya.


Tangis chinsun terdengar begitu pilu orang yang berada disekitarnya pun ikut menangis


Hari ini proses pemakaman orang tua chinsun telah selesai dilaksanakan. Ia pulang bersama kakak dan asisten rumah tangga mereka. Sejak kejadian itu semua berubah, ia menjadi seorang gadis yang pendiam ia terus menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tuanya. Mengurung diri dalam kamar. Sampai suatu hari ia memutuskan untuk melanjitkan sekolah nya di kuar negri")


Flashback off